KEMENTERIAN PERTANIAN
DIREKTORAT JENDERAL PERKEBUNAN

Pengelolaan Rayap Coptotermes Curvignathus Pada Perkebunan Kelapa Sawit

Diposting     Kamis, 10 Juni 2021 10:06 am    Oleh    ditjenbun



Gambar 1. Coptotermes curvignathus

Sumber, PPKS Medan

Dalam meningkatkan produksi dan produktivitas tanaman kelapa sawit, masih terkendala oleh adanya serangan organisme pengganggu tumbuhan (OPT).  Gangguan OPT tersebut dapat menimbulkan kerusakan berarti yang pada akhirnya menimbulkan kerugian hasil dan pendapatan petani. Salah satu faktor yang mempengaruhi penurunan produksi, produktivitas dan mutu kelapa sawit adalah adanya serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) yaitu hama rayap. Di Indonesia ada kurang lebih 200 spesies rayap tergolong pada famili  Kalotermitidae, Rhinotermitidae, dan Termitidae. Ada jenis spesies rayap yang merupakan hama utama di perkebunan kelapa sawit, khususnya lahan gambut dan eks hutan yaitu Coptotermes curvignathus.  Serangan C. curvignathus dapat menyebabkab kerusakan lebih dari 50% (kerusakan berat) hingga menimbulkan kematian pada tanaman kelapa sawit.                               

     a. Biologi

Spesises rayap C. curvignathus merupakan filum Antropoda, kelas Insecta, ordo Isoptera, famili Rhinotermitidae, dan genus Coptotermes.  Ada tiga kasta dalam koloni rayap yaitu kasta pekerja, prajurit, dan reproduktif. Kasta pekerta bertugas membangun dan memperbaiki sarang, memelihara ratu, telur, rayap muda, dan mencari makan.  Kasta prajurit bertugas menjaga koloni dari serangan musuh.  Sedangkan kasta reproduktif bertugas untuk berkembang biak dan membentuk koloni baru. Rayap C. curvignathus bersifat  fitofag yang memakan jaringan tanaman kelapa sawit yang mengandung selulosa.

    b. Siklus hidup

Saat pertama bertelur betina mengeluarkan 4 − 15 butir yang berbentuk silindris, dengan bagian ujung yang membulat yang berwarna putih. Panjang telur bervariasi antara 1-1,5 mm. Telur C. curvignathus akan menetas setelah berumur 8-11 hari. Telur yang menetas akan menjadi nimfa yang mengalami 5 − 8 instar.  Nimfa yang menetas dari seluruh koloni yang baru akan berkembang menjadi kasta pekerja. Waktu yang dibutuhkan dari telur sampai terbentuk kasta pekerja adalah 6 − 7 bulan. Umur kasta pekerja dapat mencapai 19 − 24 bulan. Populasi kasta pekerja dalam koloni tidak kurang dari 80 – 90%, sedangkan sisanya terbagi menjadi kasta prajurit dan reproduktif.

Gambar 2. Siklus hidup rayap C. curvignathus

Sumber: Rahmadani, 2016

   c. Gejala kerusakan

Serangan ringan ditandai dengan adanya terowongan pada permukaan batang. Tanaman kelapa sawit dikategorikan terserang berat apabila serangan rayap sudah mencapai titik tumbuh yang dapat mengakibatkan tanaman mati. Gejala serangan rayap ini terjadi karena pembukaan areal dengan sistem bakar ringan (light burning) yang meninggalkan banyak kayu yang tidak habis terbakar.  Sisa bakaran dan tunggul kayu tersebut merupakan bahan pakan dan sarang yang cocok untuk rayap.   

Suatu studi rayap menunjukan bahwa 63% dari tanaman terserang berada dekat barisan tumpukan kayu seperti potongan-potongan batang, cabang dan tunggul-tunggul setelah pembersihan lahan dengan metode light burning. Kira–kira 37% dari tanaman terserang berada di dekat saluran drainase. Walaupun kayu telah dibakar selama persiapan lahan, rayap dapat hidup di dalam tanah dan menghindari api dan sebagian dari mereka dapat bertahan hidup di dalam batang–batang yang berlubang bagian tengah.

Gambar 3. Gejala kerusakan C. curvignathus

Sumber: PPKS Medan

  d. Pengendalian

Kunci sukses pengendalian bertumpu pada timing dan ketepatan monitoring. Sebaiknya tindakan pengendalian dilakukan di waktu yang bersamaan dengan monitoring atau segera setelah pelaksanaan monitoring.  Dalam mengendalikan hama rayap C. curvignathus dibentuk 3 (tiga) tim khusus yaitu:

  • Tim monitoring, melakukan sensus , menandai baris dan tanaman terserang
  • Tim pembongkar, melakukan sanitasi lorong lorong tanah atau tanaman terserang berat.
  • Tim penyemprotan, melakukan aplikasi termitisida

Ada beberapa cara pengendalian hama rayap antara lain:

  • Pengendalian kimiawi

          Bertujuan untuk mengeliminasi rayap yang menyerang tanaman.  Mencegah tanaman diserang oleh rayap.  Menggunakan bahan aktif: fipronil, sipermetrin, dan klorpirifos dengan konsentrasi aplikasi formulasi 1-2,5 ml/liter

    a. Pada TBM

  • Pelepah kering dipangkas dan lorong-lorong tanah dibongkar
  • Termitisida disemprotkan pada bagian pucuk dan bonggol
  • Termitisida turut disiram pada tanah dengan radius +30 cm dari bonggol
  • Aplikasi termitisida juga dilakukan pada 6 tanaman di sekeliling titik serangan
  • Pengamatan dilakukan 2 minggu pasca aplikasi, pengulangan perlu dilakukan bila masih terdapat lorong aktif

    b. Pada TM

  • Pembongkaran atau pengrusakan lorong-lorong tanah pada batang
  • Termitisida disemprotkan secara langsung pada batang dan pucuk (jika masih terjangkau)
  • Siram termitisida pada tanah dengan radius +30 cm dari bonggol
  • Aplikasi termitisida juga dilakukan pada 6 tanaman di sekeliling titik serangan
  • Pengamatan dilakukan 2 minggu pasca aplikasi, pengulangan perlu dilakukan bila masih terdapat lorong aktif

    c. Pada tanaman mati

  • Pohon mati sebaiknya dibongkar dan disanitasi
  • Aplikasi termitisida diperlukan apabila masih terdapat lorong aktif pada batang
  • Lubang bongkaran disiram dengan termitisida apabila terindikasi ada rayap yang masih aktif

Pengendalian kimiawi dapat dilakukan dengan sistem umpan (termite baiting system) dengan menggunakan bahan aktif hexaflumuron dengan konsentrasi 0,5%.  Umpan dapat berupa gulungan kardus atau batang kayu karet yang sebelumnya telah direndam dalam larutan hexaflumuron.  Jumlah umpan yang dipasang sebanyak 3-5 buah yang ditanamn di sekeliling tanaman terinfeksi.

Gambar 4. Pengendalian hama rayap C. curvignathus dengan sistem umpan

Sumber: PPKS Medan

 

  • Pengendalian hayati

Menggunakan agen pengendali hayati golongan jamur Metarhizium anisopliae dengan kerapatan spora 106/ml. Diaplikasikan dengan teknik baiting sehingga mampu  menurunkan intensitas serangan rayap dalam waktu 2−3 bulan. 

 

Oleh:  Alimin, S.P., M.Sc. dan Nilam Sari Sardjono, S.P., M.P.   (POPT Direktorat Perlindungan Perkebunan)

 

Sumber Pustaka

Hamdani, 2018.  Pengendalian Rayap di Perkebunan Kelapa sawit. Internet. https://balaipontianak.ditjenbun.pertanian.go.id. BPTP Pontianak, Kalbar.  Diakses tanggal 19 Mei 2021.

Priwiratama H. dkk. 2020. Materi Webinar OPT Kelapa Sawit: Pengendalian Terpadu Hama Rayap  Coptotermes sp. di Perkebunan Kelapa Sawit.  PPKS Medan.

Rahmadani J. 2016. Coptotermes curvignathus. Internet. http;//repository.uma.ac.id. Univ. Medan Area, Medan.  Diakses tanggal 12 April 2021.

 


Bagikan Artikel Ini  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *