KEMENTERIAN PERTANIAN
DIREKTORAT JENDERAL PERKEBUNAN

PENERAPAN PHT OPT TANAMAN KAKAO DI KABUPATEN BOALEMO SAAT PANDEMI COVID-19

Diposting     Rabu, 19 Mei 2021 02:05 pm    Oleh    ditjenbun



Direktorat Perlindungan Perkebunan, Direktorat Jenderal Perkebunan, Kementerian Pertanian bersama-sama dengan Dinas Pertanian Provinsi Gorontalo berupaya menjaga kebutuhan kakao dengan mempertahankan ketersediaannya di tengah masyarakat. Salah satu upaya yang dilakukan yaitu dengan cara penanganan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT). Tahun 2021, Direktorat Jenderal Perkebunan mengalokasikan anggaran untuk kegiatan penanganan OPT tanaman perkebunan seluas 1.275 Ha. Salah satu dari kegiatan tersebut adalah Penerapan Pengendalian Hama Terpadu (PHT) OPT tanaman kakao seluas 350 Ha.

Kegiatan tersebut bertujuan untuk membantu/mendorong pekebun agar menerapkan PHT di kebunnya, sehingga dapat dilakukan secara mandiri dan berkelanjutan, serta memberdayakan pekebun untuk memperbanyak bahan pengendali OPT secara mandiri. Apalagi dengan adanya Covid-19 saat ini, sangat penting kegiatan tersebut dilakukan agar serangan OPT tetap terkendali dan petani tetap sehat sehingga dapat memelihara kebunnya dan memenuhi kebutuhan hidupnya.

Petani diharapkan terus menjaga kualitas tanaman kakaonya dengan merawat tanamannya dengan baik termasuk pengendalian OPT, khususnya hama penggerek buah kakao (Conopomorpha cramerella) dan penyakit busuk buah (Phytophthora palmivora) yang menjadi “momok” bagi petani kakao. Sebagai wujud perhatian pemerintah, maka pada tahun 2021 dialokasikan dana APBN Tugas Pembantuan Penerapan PHT OPT Tanaman Kakao di Dinas Pertanian Provinsi Gorontalo.  Kegiatan Penerapan PHT OPT Tanaman Kakao dilaksanakan di gabungan kelompok tani Maju Bersama di Desa Balate Jaya, Kecamatan Paguyaman, dan kelompok tani Berdikari di Desa Bukit Karya, Kecamatan Paguyaman Pantai, Kabupaten Boalemo, dengan total luasan 25 ha.

Kegiatan penerapan PHT OPT tanaman kakao dilakukan sebanyak 6 (enam) kali pertemuan dengan interval ± 1 minggu. Pertemuan pertama yakni sosialisasi kegiatan dan pembagian sub kelompok. Pertemuan kedua hingga kelima, petani peserta kegiatan dibimbing oleh petugas lapangan melakukan pengamatan serangan OPT/identifikasi jenis OPT, diskusi kelompok/sub kelompok terkait hasil pengamatan serangan OPT dan pengambilan keputusan pengendalian OPT dengan menerapkan prinsip PHT, praktek pembuatan Metabolit Sekunder Agensia Pengendali Hayati (MS APH) dan pupuk kompos, pengendalian OPT dan pertemuan ke-6 yakni temu lapang (field day). Selama pelaksanaan kegiatan penerapan PHT OPT tanaman kakao berlangsung, petugas dinas dan petani peserta tetap menjaga protokol pandemi Covid-19, seperti: melakukan physical distancing, memakai masker, mencuci tangan dengan sabun serta menggunakan hand sanitizer.

Sosialisasi kegiatan penerapan PHT OPT tanaman kakao dan penyerahan alat dan bahan kepada petani telah dilakukan pada tanggal 23 Maret 2021. Sosialisasi dihadiri oleh Kepala Bidang Perkebunan – Dinas Pertanian Provinsi Gorontalo; aparat Desa Balate Jaya dan petani peserta kegiatan Penerapan PHT OPT tanaman kakao.

Untuk mengetahui keberhasilan pengendalian OPT, petani didampingi oleh petugas lapang melakukan pengamatan sebelum dan setelah pengendalian. Pengamatan awal telah dilakukan pada tanggal 3 April 2021 untuk mengetahui kondisi serangan OPT  sebelum dilakukan pengendalian OPT.  Jenis OPT yang menyerang tanaman kakao di kelompok tani Maju Bersama, antara lain: hama penggerek buah kakao (PBK), penggerek batang (Zeuzera sp.), kepik penghisap buah kakao (Helopeltis sp.), penyakit busuk buah kakao (BBK) dan vascular streak dieback/VSD (Oncobasidium theobromae). Intensitas serangan paling tinggi pada penyakit BBK sebesar 25 %  dan hama PBK 15 %. Serangan OPT dijumpai di kebun kakao yang kondisinya kurang terawat karena tidak dilakukan pemangkasan, sanitasi kebun maupun pengendalian. Oleh karena itu, diharapkan petani didampingi oleh petugas lapangan dapat melakukan pengendalian secara terpadu dan berkelanjutan agar intensitas serangan OPT dapat menurun dan produksi kakao meningkat.

Praktek pembuatan Metabolit Sekunder Agensia Pengendali Hayati (MS APH) dilaksanakan pada pertemuan ketiga tanggal 8 April 2021. Petani peserta dibimbing oleh petugas lapangan dalam membuat MS APH yang mengandung jamur Trichoderma sp. Beauveria bassiana dan bakteri Rhizobium sp. Pengocokan MS APH dilakukan dengan menggunakan alat pengocok (shaker). Larutan MS APH selanjutnya digunakan sebagai bahan pengendalian OPT tanaman kakao.

Petani peserta juga dibimbing oleh petugas lapangan dalam membuat pupuk kompos dengan memanfaatkan sumber daya yang ada di sekitar kebun maupun tempat tinggal petani/pekebun. Hal ini untuk membantu/mendorong petani agar tetap dapat melakukan pemupukan untuk meningkatkan kesuburan tanah dan meningkatkan daya tahan tanaman kakao terhadap serangan OPT.

Pada kegiatan penerapan PHT OPT tanaman kakao, petani dibimbing oleh petugas lapang melakukan pengendalian OPT secara PHT. Pengendalian OPT harus dilaksanakan dalam satu paket teknologi pengendalian terpadu dengan menggunakan berbagai teknik pengendalian yang kompatibel antara satu sama lain, sehingga populasi/perkembangan OPT dapat dipertahankan di bawah ambang ekonomi, mempertahankan kelestarian lingkungan dan menguntungkan bagi petani pekebun. Teknologi pengendalian yang diterapkan pada kegiatan penerapan PHT OPT tanaman kakao, antara lain:

  1. Melakukan panen sering pada saat buah masak awal dengan interval 1 (satu) minggu sekali. Kegiatan panen ini harus segera diikuti dengan pemecahan buah pada hari itu juga, kemudian kulit buah dikumpulkan dan dibenamkan ke dalam tanah serta ditimbun tanah setebal ± 20 cm. Kegiatan ini secara signifikan dapat memutus siklus hidup hama PBK.
  2. Melakukan pemangkasan secara periodik. Hal ini dilakukan mengingat bahwa salah satu kelemahan imago PBK adalah tidak menyukai sinar matahari langsung, sehingga apabila dilakukan pemangkasan yang teratur akan dapat menekan populasi hama PBK dan Helopeltis Di samping itu, pemangkasan bentuk pohon kakao dengan membatasi tinggi tajuk tanaman maksimum 3-4 m akan memudahkan saat pengendalian OPT dan panen.
  3. Melakukan sanitasi kebun dengan cara membersihkan daun-daun kering, tanaman sakit/terserang OPT, ranting kering, kulit buah dan gulma yang berada di sekitar tanaman agar tidak sesuai untuk perkembangan OPT.
  4. Aplikasi MS APH yang mengandung jamur antagonis Trichoderma sp., Beauveria bassiana dan bakteri Rhizobium sp. dengan cara penyemprotan, infus akar dan infus batang untuk meningkatkan vigor tanaman.

Untuk meningkatkan pendapatan petani dan menjaga daya beli masyarakat akibat pelemahan ekonomi karena pandemi Covid-19, Direktorat Jenderal Perkebunan mengalokasikan biaya Hari Orang Kerja (HOK) pada semua kegiatan lingkup Direktorat Jenderal Perkebunan. HOK pada kegiatan pengendalian OPT tanaman kakao digunakan untuk upah pengamatan serangan OPT, sanitasi kebun, praktek pembuatan pupuk kompos dan MS APH serta pengendalian OPT.

Pada pertemuan keenam tanggal 22 April 2021 dilakukan field day dengan mengundang petani di sekitarnya untuk melihat pembuatan MS APH sebagai bahan pengendalian OPT dan kondisi kebun lokasi kegiatan penerapan PHT sebagai percontohan untuk dapat ditiru oleh petani lainnya.

Penyusun: Yuni Astuti, Andi Asjayani, Ratri Wibawanti

DAFTAR PUSTAKA

Balai Perlindungan Tanaman Pertanian. Dokumentasi Kegiatan Penerapan Pengendalian Hama Terpadu Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) Tanaman Kakao di Kabupaten Boalemo Tahun 2021. Dinas Pertanian Provinsi Gorontalo. Gorontalo.

Direktorat Perlindungan Perkebunan. Pedoman Teknis Tahun 2021 “Area Penanganan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) Tanaman Perkebunan”. Direktorat Jenderal Perkebunan. Kementerian Pertanian. Jakarta.

Maryani, Y. dan Cucu, D. 2019. Hama dan Penyakit Tanaman Kakao. Direktorat Jenderal Perkebunan. Kementerian Pertanian. Jakarta


Bagikan Artikel Ini  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *