KEMENTERIAN PERTANIAN
DIREKTORAT JENDERAL PERKEBUNAN

Pengendalian Terpadu Penyakit Hawar Rambut Kuda Dan Antraknos Pada Tanaman Lada

Diposting     Kamis, 09 September 2021 05:09 pm    Oleh    ditjenbun



A. Penyakit Hawar Rambut Kuda
Deskripsi
Penyakit hawar rambut kuda (horse hair blight) atau sering juga disebut hawar ekor kuda merupakan penyakit yang jarang terjadi. Kalau pun dijumpai, jumlahnya hanya sedikit. Namun demikian, penyakit ini cukup mematikan.

Penyebab
Penyebab penyakit ini adalah Marasmius Crinis-equi. Jamur ini tergolong dalam kelas basidiomycetes yang dapat membentuk tubuh buah. Mula-mula miselia jamur ini berwarna putih memanjang. Namun apabila nutrisi yang terdapat pada inang sudah mulai habis, miselia berubah warna menjadi hitam seperti rambut, kemudian membentuk tubuh buah seperti payung berwarna putih sebagai bentuk pertahanan dari kondisi lingkungan yang kurang menguntungkan. Jika semakin tua, tubuh buah berubah warna menjadi krem/kuning kecoklatan.

Gambar Marasmius Crinis-equi, Penyebab Penyakit Hawar Rambut Kuda (Horlock, 2016)

Gejala
Mula-mula ranting ditumbuhi miselia jamur memanjang berwarna putih, bercabang mengikuti arah pertumbuhan cabang, ranting, dan tangkai daun. Pada ranting yang dilewati miselia tersebut menyebabkan daun-daun menguning (klorosis) dan akhirnya lapuk (berwarna coklat-kering). Gejala lanjut menyebabkan daun-daun mati menggantung disertai perubahan miselia menjadi hitam seperti rambut. Tidak hanya sampai daun, terkadang miselia dapat tumbuh memarasit buah sehingga menyebabkan buah lapuk dan gagal dipanen. Umumnya dalam satu tanaman hanya sebagian ranting yang terinfeksi, sementara ranting yang lain tampak sehat.

Gambar Miselia Marasmius Crinis-equi Berwarna Putih sebagai Tanda Awal Infeksi
Gambar Gejala Lanjut Menyebabkan Daun-daun Lapuk dan Menggantung Dililiti Miselia Berwarna Hitam Seperti Rambut
Gambar Daun-daun Tampak Kering dan Lapuk Sebagian

Pengendalian
1. Secara Kultur Teknis
– Penggunaan bibit sehat bersertifikat.
– Tidak memakai bibit dari tanaman yang terinfeksi.

2. Secara Mekanis
– Memangkas bagian tanaman terinfeksi.
– Tidak memakai gunting stek bekas tanaman sakit.
– Membongkar dan memusnahkan sumber-sumber infeksi, termasuk membongkar tanaman yang sudah parah kemudian membuang dan memusnahkannya.

3. Secara Hayati
Sebagai tindakan pencegahan, pengendalian dapat dilakukan dengan pemberian agen hayati, misalnya Trichoderma spp., Gliocladium spp., Pseudomonas fluorescens, atau mikoriza untuk menginduksi ketahanan tanaman.

4. Secara Kimia
Aplikasi fungisida berbahan aktif tebukonazol atau trifloksistrobin.

B. Antraknos Daun
Deskripsi
Penyakit ini sering disebut bercak daun Colletotrichum, dianggap kurang penting karena tidak menimbulkan kerugian berarti. Meskipun sering dijumpai pada daun, di beberapa tempat penyakit ini juga menginfeksi buah.

Penyebab
Penyebab penyakit ini adalah Colletotrichum gloeosporioides.

Gejala
Mula-mula terbentuk bercak kecil berwarna coklat muda, kemudian membesar berwarna coklat tua diikuti zona konsentris di bagian bercak. Gejala lanjut memperlihatkan pusat bercak menjadi kaku/keras disertai masa spora di sekelilingnya. Jika infeksi bermula dari ujung daun, nampak daun seperti gosong dan terkadang sedikit menggulung.

Gambar Gejala Penyakit Antraknos

Pengendalian
1. Secara Kultur Teknis
a. Penggunaan bibit sehat bersertifikat.
b. Tidak memakai bibit dari tanaman yang terinfeksi.

2. Secara Mekanis
a. Memangkas bagian tanaman terinfeksi.
b. Tidak memakai gunting stek bekas tanaman sakit.

3. Secara Hayati/Nabati

  • Sebagai tindakan pencegahan, pengendalian dapat dilakukan dengan pemberian agen hayati, misalnya Trichoderma spp., Pseudomonas fluorescens, atau mikoriza untuk menginduksi ketahanan tanaman.
  • Aplikasi fungisida nabati ekstrak daun sirih, sambiloto, dan biji pinang (Idris dan Nurmansyah, 2015).

4. Secara Kimia
Aplikasi fungisida berbahan aktif difenokonazol, tebukonazol, azoksistrobin, mankozeb, karbendazim, atau benomil.

Penulis : Akhmad Faisal Malik, Nilam Sari Sardjono,  dan Romauli Siagian

Pustaka:

Horlock, A. (2016) “Horse Hair Fungi-Marasmius crinisequi” (on line) https://www.flickr.com/photos/spincricket/28213881825/in/photostream/. Diakses tanggal 30 April 2021.
Idris, H. dan Nurmansyah (2015) “Efektivitas Ekstrak Etanol Beberapa Tanaman Obat sebagai Bahan Baku Fungisida Nabati untuk Mengendalikan Colletotrichum gloeosporioides” Bul. Littro, 26(2), hal. 117-124.
Semangun, H. (2008) “Penyakit-penyakit Tanaman Perkebunan di Indonesia,” Yogyakartag: Gadjah Mada University Press.


Bagikan Artikel Ini  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *