KEMENTERIAN PERTANIAN
DIREKTORAT JENDERAL PERKEBUNAN

Pengendalian Terpadu Penyakit Busuk Pangkal Batang Pada Tanaman Lada

Diposting     Jumat, 10 September 2021 11:09 am    Oleh    ditjenbun



Penyakit Busuk Pangkal batang merupakan penyakit penting dan paling menakutkan bagi petani lada. Di beberapa tempat, penyakit ini sering disebut penyakit busuk batang atau penyakit oli (karena terkadang mengeluarkan cairan hitam seperti oli di bagian pangkal batang). Menurut semangun (2008), penyakit ini juga pernah terjadi pada tanaman sirih (Piper betle L.) di Jawa Tengah dan pada cabe jawa atau cabe panjang (Piper retrofactum Vahl.) di Jawa Barat.

Penyebab Penyakit

Penyakit busuk pangkal batang disebabkan oleh jamur Phytophthora capsici, meskipun di beberapa kasus diperparah oleh patogen lain yang berasosiasi antara lain Fusarium sp., Phytium sp., dan terkadang Rigidoporus micropus (terutama pada lahan bekas kebun karet dan singkong) atau asosiasi dari ketiganya. Faktor abiotik juga sangat berperan memperparah penyakit ini. Misalnya, lahan tergenang, drainase yang buruk, serta pemupukan yang tidak tepat. Phytopthora capsici dapat diisolasi dan ditumbuhkan pada media V8-Juice Agar, miseliumnya berwarna putih seperti kapas. Jika diamati di bawah mikroskop dari balik cawan petri, nampak kumpulan sporangium yang tebentuk. Sporangium merupakan kantung zoospora (spora yang memiliki flagella). Pembentukan sporangium pada media biakan dapat dipicu dengan penyinaran cahaya/lampu selama masa inkubasi, biasanya terbentuk 3-5 hari setelah inokulasi.

Gambar 1. a. Miselim P. capsici pada Media V-8 Juice Agar; b. Sporangium P. capsici

Jika sudah matang, zoospora dapat langsung keluar dari sporangium melalui papila. Filum air di sekitarnya  memudahkan  zoospora  berenang-renang  ke  tempat  lain  sehingga  berperan membantu penyebaran penyakit. Phytopthora capsici juga membentuk klamidospora sebagai struktur istirahat apabila berada pada kondisi lingkungan yang kurang menguntungkan.

Gambar 2. a. Zoospora Keluar dari Sporangium (sumber: Watanabe, 2002); b. Ilustrasi Penyebaran P. capsici (Ristaino and Johnston, 1999)

Gejala

Tanaman lada yang terinfeksi P. capsici menyebabkan akar dan batang membusuk, sehingga transportasi hara dari dari tanah ke seluruh bagian tanaman terganggu. Akibatnya, daun menjadi layu/lemas dan menguning. Kulit pangkal batang kadang-kadang terlepas dan tinggal jaringan pembuluh berwarna coklat. Kerusakan parah menyebabkan seluruh bagian akar dan pangkal batang membusuk dan berlendir. Pada keadaan lembap, seringkali lendir berwarna hitam keluar dari pangkal batang seperti oli. Cabang, ranting, dan daun menghitam nampak gosong seperti terbakar kemudian berguguran/meranggas dari bawah hingga ke tajuk. Tanaman mati secara mendadak (biasanya dalam waktu 10 hari) dan menyebabakan tanaman tumbang. Gejala di daun juga dapat terjadi, biasanya akibat percikan air hujan dari tanah yang membawa inokulum. Gejala pada daun berupa bercak coklat kehitaman dikelilingi renda di bagian tepinya, dan akan nampak jelas jika daun diarahkan ke cahaya.

Gambar 3. Daun-daun Tanaman Nampak Layu dan Menguning
Gambar 4. Jaringan Pembuluh pada Pangkal Batang Membusuk
Gambar 5. Daun Menghitam Nampak Gosong Seperti Terbakar
Gambar 6. Gejala pada Daun Berupa Bercak Coklat Dikelilingi Renda di Bagian Tepinya

Pengendalian

Pengendalian secara terpadu adalah pengendalian terbaik, yaitu menggabungkan beberapa cara pengendalian antara lain:

  1. Secara Kultur Teknis
Gambar 7. Tanaman Malada; b. Teknik Sambung Malada Sebagai Batang Bawah
  • Penggunaan varietas/klon tahan (misalnya natar 1) atau toleran (misalnya Lampung daun kecil dan chunuk). Di beberapa tempat, pengendalian dilakukan dengan menyambung batang bawah menggunakan cabe jawa/malada. Namun menurut Manohara (2018), pemanfaatan cabe jawa sebagai batang bawah perlu dikaji lebih dalam. Hal ini terkait dengan pengaruhnya terhadap kualitas lada yang dihasilkan.
  • Penggunaan bibit sehat bersertifikat.
  • Pengeloalaan drainase yang baik. Drainase yang baik dapat mencegah genangan air di kebun, sehingga dapat mengurangi penyebaran penyakit dari tanaman terinfeksi ke tanaman sehat. Selain itu, drainase yang baik dapat meningkatkan efektivitas pemupukan, agen hayati, dan bahan pengendali lainnya. Drainase sebaiknya terdiri atas drainase primer, sekunder, dan tersier.
  • Pemupukan berimbang sesuai keadaan tanaman. Pemupukan yang tepat dapat meningkatkan kebugaran tanaman sehingga cenderung tahan terhadap penyakit. Sebaliknya, jika berlebihan dapat menyebabakan tanaman rentan. Misalnya pemberian pupuk dengan kadar nitrogen berlebihan dapat menyebabkan tanaman sukulen sehingga mudah terinfeksi penyakit.
  • Penanaman tanaman penutup tanah dan tanaman antagonis. Tanaman penutup
  • Tanah (cover crops) biasanya ditanam di sekitar piringan dengan tujuan untuk mengurangi deposisi inokulum melalui percikan air. Selain itu juga berfungsi sebagai habitat musuh alami atau mikroba bermanfaat di sekitar perakaran. Arachis pintoi merupakan tanaman penutup tanah yang cukup baik dan sering digunakan di perkebunan lada. Sedangkan tanaman antagonis berfungsi menekan patogen akibat eksudat akar yang tidak disukai patogen.

2. Secara Mekanis

Membongkar dan memusnahkan sumber-sumber infeksi, termasuk membongkar tanaman yang sudah parah, serta membuang/memusnahkan bagian tanaman bergejala (akar, batang, cabang/ranting, serta daun) dari kebun.

3. Secara Hayati/Nabati

  • Pemberian agen hayati (antara lain Trichoderma spp., Pseudomonas fluorescens, Gliocaldium spp., dan agen hayati lain) pada tanaman terinfeksi ringan-sedang di
  • Sekitar perakaran atau diperlakukan pada bibit dan lubang tanam sebelum dilakukan penanaman sebagai tindakan pencegahan.
  • Pemberian metabolit sekunder agen hayati dengan cara infus akar, penyiraman, atau melalui teknik biopori pada daerah perakaran.
  • Pemberian agen hayati atau metabolit sekunder disertai pemberian pupuk organik yang mengandung unsur Fosfor (P), Kalium (K), dan sedikit Nitrogen (N) dapat memberikan hasil yang lebih baik untuk pemulihan tanaman.
  • Aplikasi fungisida nabati. Fungisida nabati ekstrak biji pinang dapat digunakan untuk mengendalikan penyakit busuk pangkal batang dengan penghambatan yang cukup signifikan (Kusviati et. al., 2014).

4. Secara Kimia

Pemberian bubur bordo atau fungisida kimia berbahan aktif asam fosfit di sekitar perakaran tanaman terinfeksi atau pada lubang tanam bekas tanaman yang dibongkar sebelum replanting sebagai tindakan pencegahan. Aplikasi metabolit sekunder dan fungisida kimia yang dilakukan secara bergantian dengan interval seminggu sekali juga efektif mengendalikan penyakit ini pada pembibitan.

Penulis: Akhmad Faisal Malik, Romauli Siagian, dan Cecep Subarjah

Pustaka:

Kusviati, D., Widodo, dan Djoko Prijono (2014) “Pengendalian Penyakit Busuk Pangkal Batang Lada dengan Ekstrak Pinang, Gambir, Sirih, dan Kapur Sirih” Jurnal fitopatologi Indonesia, 10(4), hal. 103-111.

Manohara, D. (2018) Komunikasi Pribadi, Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat. Bogor, Indonesia.

Ristaino, J. B. and Stephen A. Johnston (1999) “Ecologically Based Approaches to Management of Phytophthora Blight on Bell Pepper” The American Phytopathological Society, 83(12), Pp. 1082.

Semangun, H. (2008) “Penyakit-penyakit Tanaman Perkebunan di Indonesia,” Yogyakartag: Gadjah Mada University Press.

Watanabe, T. (2002) “Pictorial Atlas of Soil and Seed Fungi, Morphologies of Cultured Fungi and Key to Species (Second Edition)”. Florida: CRC Press LLC.


Bagikan Artikel Ini  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *