KEMENTERIAN PERTANIAN
DIREKTORAT JENDERAL PERKEBUNAN

Mengenal Sisal (Agave Sisalana) Sebagai Salah Satu Tanaman Yang Dapat Bertahan Di Lahan Kering

Diposting     Rabu, 03 Maret 2021 11:03 am    Oleh    ditjenbun



Sisal (Agave Sisalana) merupakan tanaman penghasil serat alam yang sangat potensial dengan keunggulan serat kuat, tahan terhadap kadar garam tinggi, dapat diperbaharui serta ramah lingkungan (Gambar 1). Serat alam sisal banyak dimanfaatkan antara lain dalam industri rumah tangga, bahan interior mobil dan tali-temali.

Agave Sisalana – Foto/.litbang.pertanian.go.id

Gambar 1 . Tanaman Sisal (Agave Sisalana)

Daun agave dapat diproses untuk diambil seratnya setelah tanaman berumur 2 tahun. Serat yang dihasilkan dari daun Agave sp dikenal juga dengan sebutan serat sisal (Gambar 2). Serat sisal pada awalnya hanya dimanfaatkan sebagai bahan baku tali-temali seperti tali pengikat daun tembakau di Madura dan karung goni untuk kemasan produk-produk pertanian

Serat Sisal – Foto/Balittas, Kementerian Pertanian

Gambar 2. Serat Sisal yang berasal dari tanaman Agave Sisalana

Pada tahun 2017, Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (Balittas) sebagai pendamping, PT. Sumbawa Bangkit Sejahtera berhasil melepas satu varietas sisal intoduksi dari china dengan nama varietas H 11648 berdasarkan SK kementan No.109/Kpts/KB.010/2/2017 Keunggulan varietas H 11648 : potensi produksi serat kering 4.728-5.964,763 kg/ha/tahun, rendemen serat 4-5,298 %, serat berwarna putih kekuningan mengkilap dengan kekuatan 31,363 ± 1,849 g/tex, memiliki umur satu siklus tanaman 8-13 tahun dengan umur panen pertama 36-48 bulan setelah tanam. Selain itu varietas juga memiliki keunggulan morfologi tidak terdapat duri pada tepi daun. Keberadaan duri pada tepi daun sangat tidak diinginkan karena menyulitkan pada saat panen dan proses penyertan dengan mesin desikator dapat menimbulkan kecelakaan kerja yaitu luka pada tangan. Kelemahan varietas H 11648 diantaranya peka terhadap serangan penyakit Fusarium. Namun demikian tetap aman dikembangkan dengan perlakuan fungisida serta teknik budidaya yang baik.

Salah satu faktor yang menentukan keberhasilan membangun perkebunan agave adalah kesediaan benih berdasarkan jumlah dan mutu yang tinggi. Kebutuhan benih tanaman agave cukup banyak, 4.000 sampai dengan 6.000 benih per hektar . Benih agave secara konvensional diperoleh dari anakan atau dikenal dengan sucker dan bulbil. Setiap satu tanaman agave yang berumur lebih dari 3 tahun, mempunyai anakan sebanyak 5-15 tunas, tergantung pada kondisi tanah dan iklim. Agave juga dapat menghasilkan tunas dari biji yang disebut bulbil. Umumnya bulbil dihasilkan dari tanaman agave yang sudah berumur lebih dari 5 tahun, daun tidak dipanen dan terpelihara. Setiap pohon agave dapat menghasilkan sebanyak 1.000-4.000 tunas (Ochse et al., 1961), setelah menghasilkan bulbil, tanaman akan mati. Perbanyakan benih secara masal yang seragam dapat dihasilkan melalui teknik kultur jaringan (Binh et al., 1990), dengan tingkat keberhasilan cukup tinggi, mendekati 90%.

Salah satu kelebihan sisal adalah dapat tumbuh di wilayah kering seperti di daerah pulau Sumbawa. Sepanjang mata memandang kita dapat melihat dataran di pulau sumbawa yang ditanami sisal (Gambar 3).

Gambar 3. Sisal yang tumbuh di lahan kering

Dengan adanya varietas baru sisal (Agave Sisalana) diharapkan wilayah kering yang semula hanya merupakan hamparan lahan kosong dapat dimanfaatkan dengan ditanami sisal dan menjadi salahsatu tanaman yang dapat meningkatkan kesejahteraan petani. (Santi)

(Sumber: Balittas dan berbagai sumber)


Bagikan Artikel Ini  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *