KEMENTERIAN PERTANIAN
DIREKTORAT JENDERAL PERKEBUNAN

Kumbang moncong pada sawit, Friend or Foe???

Diposting     Selasa, 22 Juni 2021 10:06 am    Oleh    ditjenbun



Jenis kumbang dengan ciri khas moncong/belalai pada bagian mulut imago sering dijumpai menghuni tanaman kelapa sawit. Namun jangan sampai salah dalam mengenalinya, karena serangga dengan ciri khas tersebut dimiliki oleh Rhynchophorus sp. dan Elaeidobius kamerunicus. Walaupun berasal dari keluarga yg sama (Coleoptera: Curculionidae), kedua jenis kumbang ini memiliki peran yang berbeda terhadap produksi kelapa sawit. Oleh karena itu, petani pekebun sawit harus jeli dalam mengenalinya agar tidak salah langkah dalam melakukan pengelolaan kebun sawit.

Rhynchoporus sp., dikenal dengan sebutan red palm weevil atau kumbang moncong merah, dahulu banyak ditemukan menyerang pertanaman kelapa dalam, namun akhir-akhir ini banyak menyerang pertanaman kelapa sawit yang menyebabkan kerusakan dan pada akhirnya dapat mengakibatkan kematian tanaman (kehilangan hasil 100%). Kumbang Curculionid dari Sub Famili Rhynchophorinae ini menggigit bagian titik tumbuh (pangkal pucuk) tanaman muda hingga tanaman yang telah berproduksi di lapangan, sehingga menyebabkan tajuk patah dan terkulai. Terlihat lendir berwarna merah kecoklatan pada lubang bekas gigitan hama.

Berbeda halnya dengan Elaeidobius kamerunicus yang termasuk dalam sub family Delominae. Kumbang penyerbuk ini diintroduksi dari Afrika pada tahun 1983 (Yue et al., 2015). Kumbang ini tidak menyebabkan kerusakan pada tanaman budidaya, melainkan berperan sebagai polinator yang justru dapat meningkatkan produksi tanaman. Kehidupan kumbang ini bergantung pada bunga jantan kelapa sawit. Pada saat E. kamerunicus berada di bunga jantan dan merayap pada spikelet, butiran polen yang melekat pada tubuhnya akan jatuh pada stigma disaat E. kamerunicus mengunjungi bunga betina untuk mengambil nektar. E. kamerunicus pada perkebunan sawit dapat meningkatkan produksi minyak dan nilai tandan buah (fruit set). Nilai fruit set yang baik pada kelapa sawit adalah diatas 75%. Nilai ini dapat dicapai dengan adanya populasi kumbang E. kamerunicus minimum sekitar 20.000 ekor per hektar (Lumentut, 2015).

Perbedaan morfologi yang dapat diketahui antara Rhynchoporus sp dan Elaedobius kamerunicus sebagai berikut:

 

Fase Hama Rhynchoporus sp. Penyerbuk E. kamerunicus
Telur Dihasilkan kurang lebih 500 butir, dengan panjang 2,5 mm, lebar 1 mm. 57,64 butir, panjang 0,65 mm dan lebar 0,4 mm (Tuo et al., 2011)
Larva rerata 63 hari, panjang tubuh 3-4 cm dan lebar 1,5 cm. 10 hari, panjang 0,44 mm dan lebar 0,56 mm (Syed, 1982).
pupa rerata 19,5hari Rerata 4 hari (Fitraini et al. 2018)
imago 120-168 hari , jantan panjang 3-4 cm, betina 3,4-4,6 cm 37-52 hari. Kumbang betina memiliki moncong lebih panjang, tidak ada benjolan pada elitra dan bulu pada elitra lebih sedikit. Ukuran tubuh E. kamerunicus jantan: 3-4 mm. Ukuran tubuh E. kamerunicus betina: 2-3 mm.

 

Dari informasi tersebut, pelaku pekebun dapat menentukan pengelolaan yang tepat terhadap keberadaan kedua jenis serangga ini. Rhynchoporus sp. memiliki ukuran tubuh 10x lebih besar dibandingkan dengan Elaedobius kamerunicus, dan dijumpai pada sekitar pelepah sawit sedangkan E. Kamerunicus pada bunga tandan sawit. Rhynchoporus sp. sebagai musuh petani harus segera dikendalikan dengan cara membersihkan kebun (sanitasi) dan mengurangi tempat berkembangbiak hama, monitoring hama, mengumpulkan dan memusnahkan larva dan imago, menggunakan perangkap feromon, serta pengendalian kimia untuk menekan perkembangan hama di lapangan.

Dalam pengendalian menggunakan insektisida kimia harus dilakukan secara bijaksana. Berdasarkan hasil percobaan yang telah dilaksanakan di laboratorium dan di lapangan oleh Hutauruk et al. (1985) diketahui bahwa pada umumnya semua jenis insektisida untuk hama sawit yang diaplikasikan dengan semprot maupun injeksi batang, bersifat toksik terhadap E. kamerunicus. Oleh karena itu, sangat  dihindari pengaplikasian langsung pada bunga, dan dianjurkan untuk memilih insektisida yang memiliki selektifitas tinggi terhadap hama sasaran dan bersifat lebih ramah lingkungan (Prasetyo 2012).  (FD/AMP)

 

Oleh: Farriza Diyasti, SP., MSi dan Antares M. Prawira, SP., MP.

 

Sumber bacaan:

Fitraini, AAA., Bakti, D., Hasanuddin, Prasetyo, AE., Rozziansha, P., (2018). Biologi Serangga Penyerbuk (Elaeidobius kamerunicus Faust)(Coleoptera : Curculionidae) pada Tanaman Kelapa Sawit di Daerah Dataran Tinggi. J Agroekoteknologi FP USU E-ISSN No. 2337- 659 Vol.6.No.4, Oktober 2018 (126): 885- 891 https://jurnal.usu.ac.id/agroekoteknologi.

Hosang, MLA. (2021). Pengenalan dan pengendalian opt  tanaman kelapa & sagu. Balai Penelitian Tanaman Palma Pusat Penelitian dan Pengembangan -Perkebunan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.

Latip et al. (2019). Morphometric Comparison of the Oil Palm Pollinator Elaeidobius kamerunicus Faust (Coleoptera: Curculionidae) from Malaysia, Indonesia, and Liberia,” The Coleopterists Bulletin 73(3), 746-756, (22 September 2019). https://doi.org/10.1649/0010-065X-73.3.746.

Lumentut, N. (2015). Peran Elaeidobius Kamerunicus Sebagaii Polinator Di Pertanaman Kelapa Sawit. URL : https://balitka.litbang.pertanian.go.id/peran-elaeidobius-kamerunicus-sebagai-polinator-dipertanaman-kelapa-sawit/ (diakses pada Mei 2021).

Prasetyo, AE., (2012). Meningkatkan Fruit Set Kelapa Sawit dengan Teknik Hatch and Carry Elaeidobius kamerunicus. PPKS: CV. Mitra Karya. ISBN 978-602-7539-08-2.

Syed RA, Law IH, Corley RHV (1982). Insect Pollination of Oil Palm: Introduction, establishment and pollinating efficiency of Elaeidobius kamerunicus in Malaysia. Planter 58:547-561.

Tuo, Y., Koua, H. K., & Hala, N. (2011). Biology of Elaeidobius kamerunicus and Elaeidobius plagiatus (Coleoptera: Curculionidae) main pollinators of oil palm in West Africa. European Journal of Scientific Research 3: 426-432.

Yue, J, Yan, Z, Bai, C, Chen, Z, Lin, W and Jiao, F (2015) Pollination activity of Elaeidobius kamerunicus (Coleoptera: Curculionoidea) on oil palm on Hainan island. Florida Entomologist 98, 499–505.


Bagikan Artikel Ini  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *