KEMENTERIAN PERTANIAN
DIREKTORAT JENDERAL PERKEBUNAN

Fenomena Varian Baru Bemisia tabaci dengan “Keganasan” Lebih Tinggi

Diposting     Rabu, 22 September 2021 05:09 pm    Oleh    ditjenbun



Fenomena munculnya varian baru pada suatu organisme ini tidak hanya terjadi pada dunia kesehatan manusia, pada bidang perlindungan tanamanpun, tidak sedikit organisme pengganggu tumbuhan (OPT), mengalami peningkatan virulensi akibat “mutasi gen”. Lantas seperti apakah fenomena tersebut terjadi?.

Setiap organisme selalu berusaha untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya untuk mencapai suatu keserasian dengan alam. Dalam bidang perlindungan tanaman, interaksi yang terjadi antara patogen/hama, tanaman, dan lingkungannya (segitiga penyakit) memicu terjadinya mekanisme pertahanan diri tanaman dari serangan OPT. Selain mekanisme pertahanan alami yang dimiliki oleh tanaman, terkadang manusia menginduksi gen tahan agar tanaman memiliki perisai ketahanan lebih tinggi terhadap serangan OPT. Ketahanan vertikal diatur oleh gen tunggal (monogenik) atau beberapa gen (oligogenik) secara tegak lurus, menghasilkan ketahanan genetik tingkat tinggi pada awal serangan sehingga dapat menunda terjadinya epidemi, namun dengan berjalannya waktu, mekanisme ini mudah patah sehingga kultivar yang awalnya resisten berubah menjadi rentan. Penggunaan varietas dengan ketahanan vertikal akan menyebabkan tekanan seleksi yang kuat terhadap hama sehingga dapat menimbulkan munculnya biotipe hama baru dengan daya serang yang lebih kuat (Sharma et al., 2003).

Gambar 1. Mekanisme terbentuknya biotipe baru (Baehaki, 2010).

Penanaman tanaman dengan varietas yang sama secara terus-menerus dengan gen tahan tunggal dapat mempercepat timbulnya biotipe baru yang terjadi melalui jalur seleksi alami, buatan, atau mendekati seleksi alami (Baehaki 2010). Dengan mengilustrasikan kejadian resistensi yang terjadi pada penggunaan pestisida secara terus menerus dengan bahan aktif dan golongan yang sama, demikian juga halnya biotipe yang terbentuk pada gen ketahanan vertikal ini.

Contoh fenomena munculnya biotipe baru ditunjukkan oleh wereng batang coklat/ WBC (Nilaparvata lugens) dan kutukebul (Bemisia tabaci) yang hingga saat ini masih menjadi permasalahan dalam meningkatkan produktivitas pada beberapa komoditas. Pada komoditas perkebunan, B. tabaci (Hemiptera: Aleyrodidae) menjadi hama pada tembakau dan kapas. Kutukebul menimbulkan kerusakan langsung pada tanaman dengan menghisap cairan tanaman sebagai sumber makanan (Van de Ven et al. 2000), menimbulkan gangguan fisiologis (McCollum et al. 2004), dan memacu tumbuhnya cendawan embun jelaga pada tanaman inangnya. Selain itu, hama ini juga berperan sebagai vektor berbagai virus yang dapat menyebabkan penyakit pada tanaman (Legg et al. 2002). Di Indonesia, hama ini diketahui pertama kali sebagai vektor virus Gemini pada tahun 1938 yang menyerang tembakau di daerah Sumatera dan Jawa, yang ditularkan dari gulma (Kalshoven, 1950).

Gambar 2. Imago B. tabaci (Andrew 2013)

Keragaman kutukebul ditunjukkan oleh munculnya populasi-populasi spesifik lokasi yang memiliki perbedaan dalam hal kemampuannya untuk makan, reproduksi, dan penularan virus (Bedford et al., 1994). Menurut Sudiono dan Yasin (2006) kutukebul memiliki keragaman yang tinggi baik intra lokasi maupun antar lokasi. Sampai saat ini diketahui ada sekitar 20 biotipe kutukebul yang telah diidentifikasi. Sebagian biotipe tersebut memiliki kisaran inang dan daerah distribusi yang terbatas, tetapi sebagian besar lainnya, terutama biotipe B, memiliki distribusi yang luas (Bedford et al., 1994). B. tabaci biotipe B yang juga dikenal sebagai Bemisia argentifolii (Gennadius) merupakan jenis biotipe yang lebih ganas dalam merusak tanaman dibandingkan dengan biotipe non-B. Perkembangan populasi B. tabaci biotipe B dua kali lebih cepat dibandingkan biotipe non-B. Kutukebul B. tabaci biotipe B berpotensi lebih berbahaya dibandingkan dengan biotipe non-B sehingga perlu diwaspadai keberadaannya (Hidayat et al. 2017).

Tabel Perbedaan Biologi B. tabaci biotipe B dan B. tabaci non-B (Hidayat et al. 2017)

Salah satu faktor penyebab munculnya biotipe baru dengan tingkat serangan lebih besar diduga akibat penggunaan varietas unggul yang memiliki daya resistensi berdasarkan gen yang sangat sempit. Dengan demikian diperlukan pengembangan ketahanan horizontal, dengan pengembangan metode skrining yang efektif dan cepat dalam hal :

(1) mendapatkan sumber ketahanan,

(2) mengetahui pola atau bentuk pewarisan gen,

(3) mengetahui mekanisme ketahanan yang dibangun tanaman

Hal ini menjadi tantangan bagi para ilmuan untuk menyatukan gen-gen ketahanan ke dalam satu genotipe tertentu sehingga genotipe tersebut memiliki ketahanan yang bersifat (horizontal) terhadap beberapa biotipe hama tertentu. Untuk sementara waktu jika belum ditemukan gen horizontal, penggunaan gen vertikal harus diikuti dengan pergiliran tanaman untuk mencegah munculnya biotipe baru hama yang lebih ganas.

Penulis: Farriza Diyasti, Yani Maryani, dan Eva Lizarmi.

Daftar Pustaka

Andrew GSC.(2013). Update on Status of Bemisia tabaci in the UK and the Use of Entomopathogenic Fungi within Eradication Programmes. Insect J. 4 (2), 198-205.

Baehaki S.E. (2010). Konservasi, pengelolaan biotipe wereng coklat pada uji ketahanan aksesi/galur. Seminar Hasil Penelitian Balai Besar Penelitian Tanaman Padi. Sukamandi. p.41.

Bedford ID, Briddon RW, Brown JK, Rosell RC, & Markham PG. (1994). Geminivirus transmission and biological characterization of Bemisia tabaci (Gennadius) biotypes from different geographic regions. Annals Applied Biology 125: 311-325.

Hidayat, P. Kurniawan, HA. Afifah, L. Triwidodo, H. (2017). Siklus hidup dan statistik demografi kutukebul Bemisia tabaci (Gennadius) (Hemiptera: Aleyrodidae) biotipe B dan non-B pada tanaman cabai (Capsicum annuum L.). Jurnal Entomologi Indonesia Indonesian ISSN: 1829-7722. November 2017, Vol. 14 No. 3, 143–151 Online version: https://jurnal.pei-pusat.org DOI: 10.5994/jei.14.3.143.

Kalshoven, L.G.E. (1950). De plagen van de cultuurgawessen in Indonesie. Uitgeverij W. van Hoeve, s-Gravenhage. Bandung. Deel 1, 512p

Legg J, French R, Rogan D, Okao‐Okuja G, Brown JK. (2002). A distinct Bemisia tabaci (Gennadius) (Hemiptera: Sternorrhyncha: Aleyrodidae) genotype cluster is associated with the epidemic of severe cassava mosaic virus disease in Uganda. Molecular Ecology 11:1219–1229. doi: https:// doi.org/10.1046/j.1365-294X.2002.01514.x

McCollum T, Stoffella P, Powell C, Cantliffe D, HanifKhan. (2004). Effects of silverleaf whitefly feeding on tomato fruit ripening. Postharvest Biology and Technology. 31:183–190. doi: https://doi. org/10.1016/j.postharvbio.2003.09.001.

Sharma, P.N., Y. Ketipearachchi, K. Murata, A. Torii, S. Takumi, N. Mori, and C. Nakamura. (2003). RFLP/ AFLP mapping of brown planthopper (Nilaparvata lugens Stal.) resistance gene Bph1 in rice . Euphytica 129:109-117.

Sudiono. & Yasin, N. (2006). Karakterisasi Kutukebul (Bemisia tabaci) Sebagai Vektor Virus Gemini Dengan Teknik PCR-RAPD . J. HPT Tropika. ISSN 1411-7525 ol. 6, No. 2 : 113 – 119, September 2006

Van de Ven WT, LeVesque CS, Perring TM, Walling LL. (2000). Local and systemic changes in squash gene expression in response to silverleaf whitefly feeding. The Plant Cell 12:1409–1423. doi: https://doi.org/10.1105/tpc.12.8.1409


Bagikan Artikel Ini  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *