DIREKTORAT JENDERAL PERKEBUNAN
KEMENTERIAN PERTANIAN

Mendongkrak Kembali Rempah Indonesia.

Diposting     Kamis, 04 Desember 2014 08:12 pm    Oleh    ditjenbun



Bandung (27/11), Indonesia memang pernah menjadi raja rempah di dunia, namun seiring berjalannya waktu, komoditas tersebut terus merosot. Untuk itu waktunya mendongkrak kembali komoditas rempah Indonesia.

Pada abad ke-15 Indonesia pernah merajai perdagangan rempah utama dunia.  Bahkan beberapa daerah di Indonesia telah dikenal sebagai penghasil rempah terkenal, diantaranya Maluku sebagai produsen cengkeh dan pala dunia. Lampung dan Bangka Belitung sebagai pemasok utama pasar lada dunia. Sumatera Barat dan Jambi penghasil kayu manis, NTT penghasil kemiri serta Lampung dan Bali penghasil panili.

Namun dikenalnya rempah asal Indonesia bukan tanpa sebab. Dikenalnya rempah asal Indonesia karena mempunyai cita rasa dan aroma spesifik yang diminati konsumen di pasar dunia. Bahkan dengan dikenalnya rempah asal Indonesia, maka menjadikan rempah asal Indonesia menjadi ekonomis karena bisa dibarter dengan emas, sosiologis karena sebagai indikator kebangsawan dan politis karena penukaran kota jajahan. “Hal itu karena kejayaan rempah di Indonesia pada saat adanya kolonial Belanda,” jelas  Adi Sasono, Ketua Dewan Rempah Indonesia. Hal ini disampaikan pada Acara Pertemuan Rempah Tahun 2014 di Hotel Horison Bandung tanggal 27-29 November 2014.

Namun, Adi menyayangkan, jika komoditas rempah tidak segera dibenahi bukan tidak mungkin komoditas rempah Indonesia akan tergilas. Hal ini dapat dilihat dari negara-negara yang juga penghasil rempah sudah mulai memperbesar baik produksinya ataupun produk turunannya. Seperti negara Korea yang sudah mulai mengembangkan ginseng sebagai komoditas rempah andalannya.

 

 

 

Perbaikan Tata Niaga

Tidak hanya itu, dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang akan berlaku di awal tahun 2015. Karena itu, perlu ada perbaikan tata niaga rempah. Terbukti saat ini Vietnam juga telah menjadi pesaing berat dalam komoditas rempah di Asia Tenggara. “Vietnam unggul dalam sistem produksi rempah, yaitu skala ekonomi, penerapan teknologi, standar mutu, dan pengolahan,” kata Adi.

Melihat hal tersebut, Adi berharap, pemerintah bisa menyediakan teknologi dan inovasi dalam mengembangkan komoditas rempah Indonesia agar bisa bersaing dengan negara produsen rempah lainnya.  Hal itu karena komoditas rempah di Indonesia didominasi petani rakyat dan skalanya kecil. Akibatnya komoditas rempah asal Indonesia sulit menembus pasar international. (humas-djbun)


Bagikan Artikel Ini  

Hari Perkebunan Ke-57 Tahun 2014 : Momentum Mengembalikan Kejayaan Perkebunan.

Diposting        Oleh    ditjenbun



Jakarta (02/12), Sudah bukan rahasia bahwa Indonesia dahulu dikenal dengan hasil perkebunan. Terbukti pada masa kolonial Belanda berbagai komoditi perkebunan seperti rempah-rempah, kopi, teh, tembakau, tebu, rosela, kina, karet dan kelapa sawit telah menjadi tambang emas hijau bagi kolonial Belanda  untuk membangun dan membiayai perang negaranya. Bahkan, perkebunan telah menjadi andalan perekonomian negaranya.

Bukan hanya itu, pendiri Republik ini telah mengajarkan kepada bangsa Indonesia tentang patriotisme yang merupakan dasar bagi solidaritas. Patriotisme melahirkan pemaknaan untuk membela tanah air untuk dapat mencapai kemajuan-kemajuan yang luar biasa melalui tekad dan kualitas pengembangan sumberdaya yang dimiliki.

“Salah satu sifat dan sikap patriotisme tersebut dimanifestasikan pada tanggal 10 Desember 1957,” terang Irmijati Rachmi Nurbahar, Sekretaris Ditjen Perkebunan, dalam Acara Dialog Interaktif Hari Perkebunan Ke-57 Tahun 2014 di Metro TV pada tanggal 2 Desember 2014.

Namun seiring berjalannya waktu beberapa komoditas perkebunan ada yang merosot, meskipun  tidak dipungkiri ada yang yang sampai saat ini masih tetap bertahan mengusasi pasar dunia. Diantaranya yaitu sektor kelapa sawit sebagai penghasil Crude Palm Oil (CPO) terbesar didunia, kakao sebagai penghasil nomor tiga di dunia, karet sebagai penghasil nomor dua di dunia dan lainnya.

Meski demikian, Indonesia tidak boleh terlena dengan masih bertenggernya beberapa sektor perkebunan minimal 5 besar di dunia, sebab jika hal tersebut tidak dibenahi tata niaga dan produksinya bukan tidak mungkin hasil perkebunan Indonesia akan disalip oleh negara penghasil perkebunan juga.

“Oleh karena itu, di peringatan Hari Perkebunan yang Ke-57 (tanggal 10 Desember) ini, harus dapat dijadikan momentum dan wahana dalam berkiprahnya insan perkebunan untuk meningkatkan pengabdian dan peran dalam pembangunan perkebunan berkelanjutan,” harap Irmijati.

Hal senada Soedjai Kartasasmita, Ketua Dewan Pembina GPPI, bahwa dihari Perkebunan ini bisa menjadi tonggak kembalinya kejayaan perkebunan Indonesia. Namun menurunnya komoditas perkebunan nasional bukan tanpa sebab.

Berdasarkan catatannya, menurunnya komoditas perkebunan karena merosotnya permintaan sebagai akibat dari melambatnya  pertumbuhan ekonomi di negara-negara konsumen. Kemudian efek dari  turunnya harga minyak bumi dari sekitar USD 120 menjadi kurang lebih USD 70/barrel (Brent) sekarang ini.

“Lalu, persaingan dari produk-produk tandingan seperti kedelai untuk minyak kelapa sawit dan setelah anjloknya harga BBM karet sintetik untuk karet alam.,” terang Soedjai.

Namun, menurut Soedjai untuk mengembalikan kejayaan tersebut tidaklah semudah membalikan tangan. Ada berbagai tantangan berat baik di tingkat nasional maupun global, diantaranya yaitu adanya masyarakat ekonomi ASEAN (MEA) ditahun 2015.

Sehingga dalam hal ini menyebabkan beberapa stakeholders yang merasa resah. Namun  pelaku perkebunan tidak boleh mengambil sikap pesimistis karena dibalik tantangan pasti ada peluang-peluang  yang positif bagi industri perkebunan.

“Untuk itu perlu ada pemikiran-pemikiran baru, diikuti dengan langkah-langkah penjabarannya supaya perkebunan di Indonesia tetap berjaya dan tetap mampu untuk bertahan sebagai pilar ekonomi Indonesia,” pungkas Soedjai(humas-djbun)


Bagikan Artikel Ini  

ICO : Prospek Kopi Dunia Masih Cerah.

Diposting     Selasa, 02 Desember 2014 09:12 pm    Oleh    ditjenbun



Banda Aceh– Prospek kopi dunia masih cerah karena adanya pertumbuhan permintaan yang tinggi 2,5% sampai 3%, demikian disampiakan oleh Mr. Mauticioo Galindo dari International Coffee Oganization (ICO) salah satu narasumber pada simposium kegiatan Indonesian Internasional Coffee Symposium (IICS) di Banda Aceh yang diselenggarakan 16-21 November 2014.

Lebih lanjut dikatakan bahwa tingginya pertumbuhan permintaan kopi disebabkan pertumbuhan produksi tidak sebanding dengan permintaan sehingga ratio stock/use terus menurun dan dikawatirkan akan tinggal 3 bulan stock, pertumbuhan permintaan akibat tingginya pertumbuhan konsumsi di negara produsen dan negara-negara pasar baru serta adanya perubahan persepsi positif terkait manfaat kopi bagi kesehatan, tegas Mr. Mauticioo Galindo

Selain Mr. Mauticioo Galindo dari International Coffee Oganization (ICO) Pada simposium ini mendatangkan narasumber dari dalam maupuan luar negeri yang sang sangat kompeten tentang perkopian, yaitu, Dr. Jeff Neilson dari Sydney University, Mr. Matt Ross dari Sejahtera Coffee Harrosds London, serta Dr. Nguyen Van Toan dari Northern Mountainous Agriculture and Forestry Science Institute Vietnam, Arif Havas Oegroseno, Dubes RI untuk Belgia,  Ir.Azwar AB, Direktur Tanaman Rempah dan Penyegar Kementan, Prof. Dr. Bustanul Arifin Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Lampung, Ir.Nasaruddin, MM, Bupati Aceh  Tengah, Ir.T.Thurmizi,M.Si Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Aceh, Dr. Pujiyanto Puslitkoka dan beberapa nara sumber lainnya. Selanjutnya


Bagikan Artikel Ini  

Website Ditjen Perkebunan Berhasil Menembus Juara 2 .

Diposting     Senin, 01 Desember 2014 09:12 pm    Oleh    ditjenbun



Jakarta (1/12) – Pada Tahun 2014 website Ditjen Perkebunan berhasil menjadi juara 2 dalam lomba website kategori eselon I lingkup Kementerian Pertanian, hal ini tidak lepas dari hasil kerja tim website Ditjen Perkebunan dalam mengembangkan beberapa inovasi baru yang memberikan kontribusi yang signifikan. Piagam penghargaan diberikan Menteri Pertanian Republik Indonesia pada saat upacara peringatan ulang tahun KORPRI 43 yang dilaksanakan di lapangan kantor pusat Kementerian Pertanian pada tanggal 1 Desember 2014.

Selama enam tahun terakhir, Web Direktorat Jenderal  Perkebunan masuk tiga terbaik yaitu secara beturut-turut memperoleh Juara II pada tahun 2009, Juara III pada tahun 2010, Juara II pada tahun 2011, Juara II pada tahun 2012, Juara  III pada tahun 2013 dan pada tahun 2014 ini kembali berhasil menduduki peringkat II.

Selain itu, jajaran Satuan Kerja Pemerintah Daerah (SKPD) subsektor perkebunan yang memperoleh penghargaan Lomba Situs Web tingkat Provinsi adalah Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat memperoleh juara Ke I dan Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Timur memperoleh juara II sedangkan Dinas Perkebunan Kabupaten Kuantang Singingi Provinsi Riau memperoleh Juara Ke II katagori SKPD Kabupaten/Kota.


Bagikan Artikel Ini  

Pertumbuhan Areal Kelapa Sawit Meningkat.

Diposting     Selasa, 25 November 2014 09:11 pm    Oleh    ditjenbun



Pengembangan komoditas ekspor kelapa sawit terus meningkat dari tahun ke tahun, terlihat dari rata-rata laju pertumbuhan luas areal kelapa sawit selama 2004 – 2014 sebesar 7,67%, sedangkan produksi kelapa sawit meningkat rata-rata 11,09% per tahun. Peningkatan luas areal tersebut disebabkan oleh harga CPO yang relatif stabil di pasar internasional dan memberikan pendapatan produsen, khususnya petani, yang cukup menguntungkan.
Berdasarakan buku statistik komoditas kelapa sawit terbitan Ditjen Perkebunan, pada Tahun 2014 luas areal kelapa sawit mencapai 10,9 juta Ha dengan produksi 29,3 juta ton CPO. Luas areal menurut status pengusahaannya milik rakyat (Perkebunan Rakyat) seluas 4,55 juta Ha atau 41,55% dari total luas areal, milik negara (PTPN) seluas 0,75 juta Ha atau 6,83% dari total luas areal, milik swasta seluas 5,66 juta Ha atau 51,62%, swasta terbagi menjadi 2 (dua) yaitu swasta asing seluas 0,17 juta Ha atau 1,54% dan sisanya lokal.

Tabel   Luas Areal Kelapa Sawit Indonesia Tahun 2004-2014

Kelapa sawit merupakan salah satu tanaman perkebunan yang mempunyai peran penting bagi subsektor perkebunan. Pengembangan kelapa sawit antara lain memberi manfaat dalam peningkatan pendapatan petani dan masyarakat, produksi yang menjadi bahan baku industri pengolahan yang menciptakan nilai tambah di dalam negeri, ekspor CPO yang menghasilkan devisa dan menyediakan kesempatan kerja.
Produksi kelapa sawit pada Tahun 2014 diperkirakan akan mencapai 29,34 juta ton dengan produktivitas rata-rata sebesar 3,568 Kg/Ha/Th. Perkebunan kelapa sawit milik rakyat menghasilkan CPO sebesar 10,68 juta ton, milik negara menghasilkan CPO sebesar 2,16 juta ton, dan swasta menyumbang produksi CPO sebesar 16,5 juta ton.

Tabel Volume dan Nilai Ekspor CPO Tahun 2003-2013

Laju pertumbuhan rata-rata volume ekspor kelapa sawit khususnya CPO selama 2003-2014 sebesar 12,94% per tahun dengan peningkatan nilai ekspor rata-rata 25,76% per tahun. Realisasi ekspor komoditas kelapa sawit tahun 2013 telah mencapai volume 20,58 juta ton (minyak sawit/CPO dan minyak sawit lainnya) dengan nilai US $15,84 milyar. Volume ekspor komoditas kelapa sawit sampai dengan bulan September 2014 mencapai 15,96 juta ton dengan nilai sebesar 12,75 juta US$. Hal ini mengalami kenaikan sebesar 7,59% jika dibandingkan dengan volume ekspor sampai dengan september 2013 sebesar 14,831 juta ton. Neraca perdagangan untuk komoditas kelapa sawit tahun 2013 telah mencapai US $19,34 milyar.
Perkebunan kelapa sawit jadi primadona dan mampu mencapai perkembangan seperti sekarang ini, sehingga menjadi Negara produsen kelapa sawit terbesar di dunia, hal ini disebakan antara lain : perkebunan kelapa sawit dapat memberikan manfaat positif pertumbuhan ekonomi yang dirasakan masyarakat dan pelaku usaha kelapa sawit, harga CPO dunia yang cukup baik dan stabil, sebagai minyak biofuel pengganti minyak fosil dan juga sangat dimungkinkan berkat prakarsa pemerintah yang diawali dengan pengembangan perkebunan kelapa sawit melalui proyek-proyek Pola PIR (Perusahaan Inti Rakyat)/NES (Nucleus Estate Smallholders) pada awal tahun ’80 an.

Tabel Sebaran Kelapa Sawit Menurut Provinsi di Indonesia Tahun 2014

Tanaman kelapa sawit saat ini tersebar di hampir seluruh provinsi di Indonesia. Provinsi Riau pada Tahun 2014 dengan luas areal seluas 2,30 juta Ha merupakan provinsi yang mempunyai perkebunan kelapa sawit terluas disusul berturut-turut  Provinsi Sumatera Utara seluas 1,39 juta Ha, Provinsi Kalimantan Tengah seluas 1,16 juta Ha dan Sumatera Selatan dengan luas 1,11 juta Ha serta provinsi-provinsi lainnya.


Bagikan Artikel Ini  

Pengembangan Kopi Arabika Terus Ditingkatkan.

Diposting     Kamis, 06 November 2014 09:11 pm    Oleh    ditjenbun



Kementerian Pertanian akan terus mengembangkan kopi arabika. Meningkatkanya permintaan kopi arabika mesti dimanfaatkan peluangnya

Meningkatnya permintaan kopi Arabika mesti dimanfaatkan peluangnya. Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian pun memprioritaskan pengembangan pada kopi Arabika. Diharapkan proporsi produksi kopi Arabika mencapai minimum 30% dari total produksi kopi nasional dalam waktu 10 tahun ke depan. Meski tetap mempertahankan tingkat produksi dan ekspor kopi Robusta.

Direktur Tanaman Rempah dan Penyegar, Direktorat Jenderal Perkebunan, Kementerian Pertanian, Azwar AB, mengatakan, kebijakan revitalisasi perkopian dilakukan dalam rangka memanfatkan peluang pasar internasional yang terus meningkat, baik dari segi permintaan (demand) maupun harganya.

Azwar menuturkan, pengembangan kopi Arabika diarahkan untuk menjaga posisi Indonesia sebagai sumber penting beberapa jenis kopi spesialti dunia. Apalagi faktor geografis yang sangat menunjang untuk dikembangkan. Saat ini Indonesia tercatat memiliki kopi spesialti yang beragam, seperti Toraja coffee, Kalosi coffee, Java coffee, Gayo coffee, Mandheling coffee, Bali Kintamani coffee, Flores Bajawa coffee, Baliem Coffee, dan lain-lain. Bahkan, kopi spesialti dari daerah lain pun mulai muncul, seperti kopi Solok.

Menurut Azwar, pasar kopi spesialti saat ini sedang tumbuh di negara-negara konsumen utama, seperti Amerika Serikat, Uni Eropa, dan Jepang. “Malahan negara-negara konsumen baru juga bermunculan, yakni Korea Selatan, Brasil, dan Indonesia,” ujarnya kepada Media Perkebunan

Azwar menyebutkan, luas areal pengembangan kopi mencapai 1,2 juta hektar (Ha) yang terdiri dari kopi robusta seluas 958 ribu ha (77,77%) dan kopi arabika 251 ribu Ha (22,23%). Dari luasan itu, usaha perkebunan kopi hampir 96,15% diusahakan oleh perkebunan rakyat dengan  melibatkan sekitar 1,9 juta kk.

Azwar mengungkapkan, total produksi kopi Indonesia pada 2012 mencapai 748 ribu ton yang terdiri dari produksi kopi robusta 601 ribu ton (78,37%) dan kopi arabika sebesar 147 ribu ton (21,63%). Dari produksi tersebut telah memberikan sumbangan dalam perolehan devisa sebesar US$ 824 juta.

Azwar melihat, kondisi pengembangan perkebunan kopi nasional saat ini belum optimal. Karena masih banyak kendala baik di hulu maupun di hilir yang memerlukan penanganan yang lebih intensif, terintegrasi dan berkelanjutan.

Menurut Azwar, di tingkat lapangan masih terdapat berbagai permasalahan yang dihadapi dalam pengembangan kopi di Indonesia. Permasalahan itu antara lain rendahnya produktivitas tanaman yakni baru 920 kilogram (Kg)/Ha (arabika) dan 771 Kg/Ha (robusta) atau sekitar 60% dari potensi produksi. Hal ini terjadi karena masih menggunakan bibit asalan, sebagian tanaman tua dan tidak produktif.

Selain itu, kata Azwar, masih terbatasnya kemitraan antara pengusaha, industry, eksportir dengan petani pekebun. Demikian juga dengan industri pengolahan kopi yang masih berorientasi untuk memenuhi konsumsi domestik dan baru sekitar 1% produk olahan kopi yang diekspor. Akses terhadap permodalan untuk pengembangan komoditi ini masih terbatas.

Azwar mengatakan, kebijakan dan strategi dalam pengembangan kopi diarahkan pada peningkatan produksi, produktivitas dan mutu tanaman kopi berkelanjutan. Peningkatan itu ditempuh melalui perbaikan mutu tanaman, penerapan Good Agriculture Practices (GAP), pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT) dan penyediaan benih unggul bermutu serta sarana produksi.

Peningkatan mutu juga terus ditingkatkan dengan penerapan standar nasional Indonesia (SNI), pengembangan SDM untuk petani dan petugas. Pengembangan kelembagaan serta kemitraan usaha antara petani dan pengusaha yang saling menguntungkan dan berkelanjutan perlu segera dibangun dan dikembangkan.

Dalam pengembangan kopi spesialti ke depan pemerintah menggunakan pendekatan kawasan atau kluster, dengan beberapa strategi. Pertama, peningkatan produksi nasional dengan perluasaan pada lahan yang sesuai, intensifikasi pertanaman yang sudah ada, dan konversi kopi Robusta ke Arabika pada lahan yang sesuai.

Kedua, perbaikan dan pemantapan mutu kopi spesialti yang dihasilkan di berbagai kondisi geografis. Ketiga, peningkatan konsumsi kopi spesialti domestik melalui edukasi cara minum kopi yang nikmat dan sehat.

Keempat, melakukan upaya terus-menerus memperluas pasar ekspor dengan cara menetrasi pasar-pasar baru. Kelima, memberikan stimulus untuk menggairahkan investasi dalam pembukaan kebun dan pendirian pabrik hilir kopi serta sektor-sektor lain pendukung klaster kopi.

Azwar mengatakan, kopi merupakan salah satu komoditas unggulan perkebunan yang mempunyai peranan cukup penting dalam perekonomian Indonesia yaitu sebagai penghasil devisa negara, sumber pendapatan petani, penciptaan lapangan kerja, mendorong agribisnis serta pengembangan wilayah.

Azwar melihat, perubahan iklim yang dirasakan akhir-akhir ini telah telah berdampak terhadap penurunan produktivitas tanaman, termasuk kopi. Untuk mengantisipasi kondisi iklim yang kurang menentu pada waktu-waktu yang akan datang, maka perlu diambil langkah-langkah antisipatif.

Azwar mengatakan, komoditas kopi di Indonesia akan memiliki daya saing yang tinggi jika dilakukan penguatan agribisnis secara utuh. Penguatan itu antara lain penggunaan klon unggul dengan produktivitas tinggi yang diperbanyak secara klonal, praktek budidaya yang baik atau good agricultural practices (GAP) secara konsisten, perbaikan mutu, dan perbaikan rantai nilai.

Dalam kaitan itulah, Kementan akan menggelar Indonesian International Coffee Symposium (IICS) 2014 di Banda Aceh pada 19-21 November 2014 mendatang. Simposium yang bekerjasama dengan Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia (Puslitkoka) tersebut mengambil tema “Penguatan Peran Strategis Kopi Untuk Mendukung Pertumbuhan Ekonomi Regional Asia-Pasifik Secara Berkelanjutan“. (Medbun)


Bagikan Artikel Ini  

Model Ramalan Luas Serangan Oryctes sp. pada Kelapa Triwulan 4 dari Triwulan 4 Tahun Sebelumnya.

Diposting     Selasa, 14 Oktober 2014 09:10 pm    Oleh    ditjenbun



Peramalan organisme penggangu tanaman (OPT) adalah suatu kegiatan yang diarahkan untuk mendeteksi atau memprediksi populasi atau serangan OPT serta kemungkinan penyebaran dan akibat yang ditimbulkannya dalam ruang dan waktu tertentu. Peramalan OPT merupakan komponen penting dalam strategi pengelolaan hama dan penyakit tanaman sebab dengan adanya peramalan dapat memberikan peringatan dini mengenai tingkat dan luasnya serangan yang akan terjadi dalam suatu periode tertentu.

Tujuan peramalan OPT adalah menyusun saran tindak pengelolaan atau penanggulangan OPT sesuai dengan prinsip dan strategi PHT sehingga populasi atau serangan OPT dapat ditekan, tingkat produktivitas tanaman pada taraf tinggi dan secara ekonomis menguntungkan serta aman terhadap lingkungan.

Bahan yang digunakan dalam menentukan model peramalan luas serangan Oryctes rhinoceros Triwulan 4 adalah data luas serangan Oryctes rhinoceros Triwulan 4 tahun 2006-2013 secara nasional. Tahapan-tahapan dalam menentukan model peramalan luas serangan triwulan 4 adalah sebagai berikut:


Bagikan Artikel Ini  

Pembinaan Kualitas, Moral Dan Etos Kerja Pegawai Ditjen Perkebunan.

Diposting     Senin, 13 Oktober 2014 09:10 pm    Oleh    ditjenbun



Pegawai Negeri Sipil (PNS) dituntut untuk meliliki kemampuan melaksanakan tugas secara profesional dan bertanggung jawab serta bersih dari korupsi, kolusi dan nepotisme. Salah satu upaya dalam mewujudjannya dengan  meningkatkan eksplorasi potensi dan kekuatan dalam diri kita, serta untuk meningkatkan kinerja dan etos kerja pegawai Ditjen Perkebunan menyelenggarakan kegiatan Pembinaan Kualitas, Moral dan Etos Kerja Pegawai.

Kegiatan tersebut diselenggarakan selama 3 (tiga) hari mulai tanggal 9 s.d 11 Oktober 2014 bertempat di Cibogo – Bogor. Dengan diselenggarakannya kegiatan ini diharapkan para peserta dalam hal ini pegawai Direktorat Jenderal Perkebunan akan dapat menghancurkan hambatan teknis dan hambatan mental seperti keberanian, keyakinan, dan motivasi, sehingga potensi dan kekuatan pada dirinya dapat lebih dioptimalkan untuk mencapai impian dan cita-citanya antara lain memiliki kreativitas, inovasi, dan inspirasi dalam pelaksanaan tugasnya khususnya dalam mewujudkan visi dan misi Ditjen Perkebunan.

Pelepasan peserta dilakukan di Kantor Ditjen Perkebunan oleh Sekretaris Direktorat Jenderal Perkebunan Ir. Irmijati Rachmi Nurbahar, M.Sc, sedangkan pembukaan kegiatan oleh Direktur Tanaman Rempah dan Penyegar Ir. Azwar AB, M.Si yang sekaligus membacakan arahan Direktur Jenderal Perkebunan. Dalam arahannya Dirjen Perkebunan mengingatkan setiap pegawai harus menjaga sikap dan perilakunya baik dalam pelaksanaan tugas maupun dalam kehidupan sehari-hari, karena sebagai abdi negara dan abdi masyarakat dalam sikap, tindakan dan perilaku diatur oleh seperangkat ketentuan peraturan perundang-undangan serta diikat oleh sumpah/janji, peraturan disiplin dan kode etik.

Selain itu ditekankan juga bahwa dalam pelaksanaan tugasnya PNS Kementerian Pertanian berpedoman pada Peraturan Menteri Pertanian Nomor 65/Permentan/OT.140/11/2012 tentang Pedoman Nilai-Nilai dan Makna Bekerja Bagi Pegawai Kementerian Pertanian. Nilai-nilai bekerja terdiri dari komitmen, keteladanan, profesionalisme, integritas dan disiplin (KKPID), sedangkan makna bekerja adalah mengabdi untuk kemandirian pangan dan kesejahteraan petani.

Metode yang digunakan dalam kegiatan Pembinaan Kualitas, Moral dan Etos Kerja Pegawai Ditjen Perkebunan adalah metode in-house training dan outbond (melalui permainan/games). Pada in-house training disampaikan materi yaitu Building Super Organization, Conflict Management & Problem Solving, serta Company Attitude Training. Dari keseluruhan kegiatan yang dilakukan pada dasarnya bertujuan untuk membentuk sikap dan perilaku pegawai agar menjadi pribadi yang memiliki komitmen, motivasi, semangat, optimis, kreatif dan inovatif serta mampu bersinergi dan bekerjasama dalam mewujudkan suatu organisasi yang handal.


Bagikan Artikel Ini  

Pelaksanaan Dan Pengamatan Beberapa Metode Perkecambahan Kakao.

Diposting        Oleh    ditjenbun



BBPPTP Ambon, Perkecambahan merupakan proses metabolisme biji hingga dapat menghasilkan pertumbuhan dari komponen kecambah (plumule dan radikula). Definisi perkecambahan adalah jika sudah dapat dilihat atribut perkecambahannya, yaitu plumula dan radikula dan keduanya tumbuh normal dalam jangka waktu tertentu sesuai dengan ketentuan ISTA. Viabilitas benih adalah daya hidup benih yang dapat ditunjukkan dalam berbagai fenomena fisiologis maupun biokimia. Pengujian viabilitas benih bertujuan untuk menentukan potensi perkecambahan maksimal dari suatu lot benih yang dapat digunakan untuk membandingkan mutu benih dari lot yang berbeda. Benih dikecambahkan dalam kondisi lingkungan yang optimum. Dari hasil uji ini dapat digunakan untuk memperkirakan hasilnya di lapangan. Ciri lain dan khas dari pengujian daya berkecambah benih adalah pengamatan terhadap benih yang tumbuh dilakukan dua kali. Pengamatan pertama biasa disebut hitungan pertama yang dilakukan pada hari ketiga setelah tanam dan pada 7 hari setelah benih ditanam. Sesuai dengan tujuan pengujian yaitu untuk mendeteksi viabilitas benih dalam kondisi optimum, kondisi pengujian daya berkecambah benih dibuat serba optimum dan standar.

Media yang digunakan untuk menumbuhkan benih yaitu : kertas merang dan pasir, kertas saring atau kertas koran bila benih dikecambahkan dalam alat pengecambah benih. Media pasir, serbuk gergaji atau arang sekam digunakan bila benih ditumbuhkan diruang persemaian (leathouse). Ukuran media kertas atau boks plastik yang digunakan harus standar untuk menanam sejumlah benih tertentu, pelembapan media harus optimum karena media terlalu kering atau terlalu basah akan menyebabkan kondisi menjadi tidak optimum. Adapun metode yang dapat digunakan untuk perkecambahan kakao antara lain :


Bagikan Artikel Ini