KEMENTERIAN PERTANIAN
DIREKTORAT JENDERAL PERKEBUNAN

Solusi Dan Antisipasi Penyebaran Penyakit Luka Api

Diposting     Senin, 24 Mei 2021 04:05 pm    Oleh    ditjenbun



Agenda utama kunjungan Menteri Pertanian R.I Syahril Yasin Limpo di Kabupaten Malang Jawa Timur tanggal 28 s.d 29 April 2021 kali ini adalah menghadiri penanaman padi perdana oleh Presiden Joko Widodo yang dilaksanakan di Desa Kanigoro, Kecamatan Pagelarang Kabupaten Malang. Dalam kesempatan itu juga Menteri Pertanian meninjau Pabrik Gula (PG) Krebet Baru serta melihat langsung varietas unggul lokal tebu yang dibudidayakan oleh petani plasma binaan Pabrik Gula (PG) Krebet Baru, turut mendampingi kunjungan kerja Menteri Pertanian antara lain Dirjen Perkebunan Kasdi Subagyono, Direktur Perlindungan Perkebunan Ardi Praptono serta Kepala Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan Surabaya.

Untuk mendukung terwujudnya percepatan swasembada gula dan upaya meningkatkan produktivitas tanaman tebu, Direktorat Jenderal Perkebunan akan mengalokasikan anggaran untuk bongkar ratoon seluas 10.000 ha, salah satu daerah yang akan dijadikan program bongkar ratoon ada di wilayah binaan Pabrik Gula Krebet Baru.

Bongkar ratoon merupakan salah satu manajemen pengendalian secara dini dari serangan hama dan penyakit tanaman tebu. Ada beberapa OPT yang utama yang menjadi endemik di wilayah binaan PG Krebet Baru yaitu penyakit luka api. Manajemen pengendalian penyakit luka api paling efektif yaitu dengan cara penggunaan varietas tahan atau toleran terhadap penyakit yang disebabkan jamur Sporisorium scitamineum dan eradikasi. Bongkar ratoon merupakan bagian dari pengendalian secara mekanis (eradikasi), manfaat dari bongkar ratoon selain meningkatkan produktivitas dari rendemen juga dapat mengurangi sumber infeksi atau inokulum penyebab penyakit.

Program bongkar ratoon di wilayah binaan PG Krebet Baru akan menjadi salah satu solusi antisipasi penyebaran penyakit luka api. Produktivitas tebu yang semakin lama semakin menurun, sehingga perlu adanya terobosan baru pada budidaya tanaman tebu di wilayah binaan PG Krebet Baru. Penyakit luka api menjadi penyakit penting di Indonesia sejak tahun 1994 dan telah menyebar ke hampir sebagian besar pertanaman tebu yang ada di Indonesia, kecuali Sulawesi Utara (Putra dan Damayanti, 2012). Penyebaran penyakit ini telah menyebar di Pulau Jawa, Sumbawa, dan Sulawesi (Sundar et al., 2012). Pada tahun 2008 kejadian penyakit luka api di Jawa kurang dari 5% (Kristina et al., 2008). Namun pada tahun 2014, di Indramayu pengembangan tebu 500 ha, 90% terserang penyakit luka api (Wibawanti, 2015). Terjadinya penyakit pada tanaman karena adanya interaksi antara inang yang rentan, patogen yang virulen, dan kondisi lingkungan yang menguntungkan bagi patogen. Penyakit luka api ditemukan ketika tanaman berumur 6 bulan saat musim kemarau. Musim kemarau penyakit luka api serangannya lebih berat karena tanaman menjadi lemah (Semangun, 2000). Penyakit luka api sudah menjadi endemik di Indonesia.  Penyakit ini disebabkan oleh jamur Sporisorium scitamineum (Stoll et al., 2003). Serangan yang berat akan menurunkan pertumbuhan tebu dan kualitas rendemen.

Pengendalian penyakit luka api pada tebu dapat dilakukan dengan memutus siklus penyakit. Tindakan pengendalian difokuskan pada titik-titik terlemah patogen dalam siklus penyakit (Nugroho, 2018). Berdasarkan bioekologi penyakit, strategi pengendalian penyakit luka api yaitu dengan eradikasi. Prinsip utama eradikasi adalah memusnahkan patogen setelah patogen tersebut masuk ke dalam suatu wilayah dan sebelum patogen tersebut berkembang atau tersebar secara luas (Maloy, 1993). Salah satu metode eradikasi yang ditawarkan pemerintah melalui Direktorat Jenderal Perkebunan yaitu program bongkar ratoon. Bongkar ratoon adalah mengganti tanaman yang sudah dikepras 2 – 4 kali dengan tanaman varietas unggul yang telah direkomendasikan. Menurut Khumaidi (2018), Bongkar ratoon memiliki produktivitas yang lebih tinggi dari pada rawat ratoon. Bongkar ratoon merupakan salah satu bagian dari pengendalian secara eradikasi. Bongkar ratoon bertujuan mengganti tanaman rentan (baik terinfeksi ataupun tidak terinfeksi) dengan tanaman yang tahan terhadap penyakit. Pada daerah endemik seperti Kabupaten Malang, perlu dilakukan penggantian ratoon dengan bibit baru yang bebas panyakit karena penyakit bersifat sistemik (Comstock, 1983).

Penggunaan varietas tahan merupakan teknologi yang cukup efektif mengendalikan penyakit luka api. Berdasarkan penelitian Wijayanti et al.(2018),  Jumlah galur yang tidak bergejala (0%) ada 9, yaitu MLG 12, MLG 9, MLG 4, MLG 23, MLG 29, MLG 49, MLG 45, MLG 38, JR 01, dan 3 varietas (BL, Kenthung, dan PS 881). Dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, telah banyak dilepas varietas unggul tebu dengan daya hasil tinggi dan tahan terhadap penyakit luka api, diantaranya adalah PS 881, PS 882, Tolangohula 1, Tolangohula 2, GMP 3, GMP 4, Cenning, Kentung, VMC 76-16, Kidang Kencana, PSDK 923, dan NSI 41 (Sugiyarta. E, 2021).

Saat ini PG Krebet Baru telah berupaya mengembangkan varietas unggul lokal tebu PR 1201. Berdasarkan informasi dari PG Krebet Baru saat kunjugan kerja Menteri Pertanian tanggal 29 April 2021, “calon varietas ini sudah mulai diminati oleh Masyarakat khususnya disekitar Kecamatan Bululawang, Kabupaten Malang”.

Penyakit luka api pada tebu tetap menjadi ancaman dalam usaha swasembada gula, terutama untuk pertanaman di Kabupaten Malang, khususnya di wilayah binaan PG Krebet Baru. Strategi pengendalian penyakit terpadu dengan pendekatan prinsip bongkar ratoon dan penggunaan varietas tahan merupakan pilihan terbaik untuk mencegah dan menghambat perkembangan penyakit luka api pada pertanaman tebu di wilayah binaan PG Krebet Baru, Kabupaten Malang.

 

PUSTAKA:

Comstock, J.C., Ferreira, S.A., Tew, T.L. 1983. Hawaii’s Approach to Control of Sugarcane Smut. Plant Disease, 67, pp: 452–457.

Khumaidi, B.I. 2018. Perbandingan efektivitas Metode Bongkar Ratoon dan Rawat Ratoon Terhadap Pendapatan dan Kualitas Rendemen Tebu (Studi Pada Petani Tebu Kec. Grati Kab. Pasuruan). Tesis. Direktorat program Pascasarjana. Universitas Muhammadiyah Malang. Malang

Kristini, A., Achadian, E.M., Irawan, Putra, L.K., Dianpratiwi, T., Mulyadi, M., dan Murwandono. 2008. An Overview of Sugarcane Diseases in Java: Distribution and Domination of Sugarcane Diseases. Majalah Penelitian Gula, 44 (4). pp: 205 – 218.

Malik, A.F, 2021. Gambar Gejala Penyakit Luka Api pada Tanaman Tebu. Kementerian Pertanian. Direktorat Jenderal Perkebunan. Direktorat Perlindungan Perkebunan. Jakarta

Maloy, O.C. 1993. Plant Disease Control: Principles and Practice. John Willey and Sons. New York. 435p.

Nugroho, C. 2018. Penyakit Luka Api Tebu: Potensi Penyebaran dan Manajemen Pengendaliannya di Sulawesi Tenggara. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sulawesi Tenggara. Prosiding Seminar Nasional. Status dan Inovasi Teknologi Tanaman Tebu. Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat. Malang

Putra, L.K., dan Damayanti, T.A. 2012. Major Diseases Affecting Sugarcane Production in Indonesia. Functional Plant Science and Biotechnology 6.(2). pp: 124 – 129.

Ramli, M. 2020. Upaya Peningkatan hasil Tebu melalui Pemberian Bahan Organik. Info Perkebunan. Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan. Bogor

Semangun H. 2000 Penyakit-penyakit Tanaman Perkebunan di Indonesia. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta

Stoll, M., Piepenbring, M., Begerow, D., and Oberwinkler, F. 2003. Molecular Phylogeny of Ustilago and Sporisorium Species (Basidiomycota, Ustilaginales) Based on Internal Transcribed Spacer (ITS) Sequences. Can. J. Bot, 81, pp: 976 – 984.

Sugiyarta. E, 2021. Varietas Unggul Tebu. Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia. Pasuruan https://www.benihperkebunan.com/index.php/benih-unggul/52-varietas-unggul-tebu

Sundar, A.R., Barnabas, E.L., Malathi, P., and Viswanathan, R. 2012. A Mini-Review on Smut Disease of Sugarcane Caused by Sporisorium scitamineum. Botany. Ed: Dr. John Mworia. https://www.intechopen.com/books/botany/-a-mini-review-on-the-status-ofsmut-disease-of-sugarcanecaused-by-sporisorium-scitamineum

Wibawanti, R. 2015. Luka Api Serang Pertanaman Tebu di Indramayu-Jabar. Kementerian Pertanian. Direktorat Jenderal Perkebunan. https://ditjenbun.pertanian.go.id/perlindungan/berita-388-lukaapi-serang-pertanaman-tebu-di-indramayujabar.html

Wijayanti et al., 2018. Tingkat Keparahan penyakit Luka Api pada 20 galur Harapan tebu dan Varietas. Prosiding Seminar Nasional. Status dan Inovasi Teknologi Tanaman Tebu. Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat. Malang

 

Penulis: Andi Asjayani, Rony Novianto dan Bibit Bakoh


Bagikan Artikel Ini  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *