DIREKTORAT JENDERAL PERKEBUNAN
KEMENTERIAN PERTANIAN

Performa Gemilang 2 Tahun Kinerja: Perkebunan Tembus Rp 503 Triliun, Perkuat Swasembada Pangan

Diposting     Selasa, 20 Oktober 2026 02:10 pm    Oleh    ditjenbun



Jakarta – Subsektor perkebunan menunjukkan kontribusi besar terhadap perekonomian nasional sepanjang 2025–2026. Selain menjadi penyumbang utama devisa ekspor pertanian dan mencetak surplus perdagangan, perkebunan juga berperan dalam meningkatkan kesejahteraan pekebun, memperkuat ketersediaan bahan baku industri, serta mendukung upaya mewujudkan swasembada pangan nasional.

Berdasarkan data kinerja Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun) per Oktober 2026, nilai ekspor komoditas perkebunan hingga Agustus 2026 mencapai Rp 503,3 triliun. Angka ini menyumbang 93,78% dari total ekspor pertanian nasional sebesar Rp 536,7 triliun. Secara tahunan (year-on-year/YoY), nilai ekspor perkebunan meningkat 11,15%, sementara impor turun 0,49%.
Kelapa sawit menjadi kontributor utama dengan nilai ekspor Rp 355,3 triliun, disusul karet sebesar Rp 35 triliun, kelapa Rp 29,4 triliun, kakao Rp 26 triliun, dan kopi Rp 21,5 triliun.

Dari sisi perekonomian, Produk Domestik Bruto (PDB) subsektor perkebunan atas dasar harga berlaku pada Triwulan II 2026 tercatat sebesar Rp 546,3 triliun, dengan pertumbuhan 19,34% secara kuartalan (quarter-to-quarter/QtQ) dan 3,34% secara tahunan.

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan, capaian sektor pertanian selama dua tahun terakhir merupakan bagian dari upaya menindaklanjuti arahan Presiden RI, Prabowo Subianto, untuk memperkuat sektor pertanian dan mewujudkan swasembada pangan. Penguatan subsektor perkebunan dilakukan melalui peningkatan produksi dan produktivitas, termasuk pengembangan tebu untuk mendukung kemandirian gula nasional serta hilirisasi komoditas perkebunan guna meningkatkan nilai tambah di dalam negeri.

“Penguatan produksi dan produktivitas harus terus dilakukan agar kita semakin mandiri dalam memenuhi kebutuhan pangan dan bahan baku industri. Sesuai arahan Bapak Presiden, pertanian termasuk perkebunan harus berkontribusi nyata melalui peningkatan produksi, pengembangan hilirisasi, dan peningkatan kesejahteraan pekebun,” ujar Mentan Amran.

Salah satu fokus penguatan tersebut adalah percepatan peningkatan produksi tebu untuk mendukung swasembada gula. Upaya ini dilakukan melalui pengembangan areal, penyediaan benih unggul, peningkatan produktivitas kebun, serta penguatan dukungan budidaya. Ketersediaan bahan baku tebu yang memadai menjadi faktor penting untuk menopang produksi gula nasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari luar negeri.

Hilirisasi komoditas perkebunan strategis juga terus didorong untuk menghasilkan produk olahan bernilai tambah dan memperluas peluang usaha. Penguatan hilirisasi kelapa, kopi, kakao, lada, pala, jambu mete, serta tebu perlu ditopang oleh ketersediaan bahan baku yang berkelanjutan, peningkatan kualitas hasil, dan produktivitas kebun. Dengan demikian, manfaat ekonomi tidak hanya berasal dari penjualan komoditas mentah, tetapi juga dari pengembangan industri pengolahan dan produk turunannya.

Dampak subsektor perkebunan juga dirasakan oleh sekitar 18 juta kepala keluarga (KK) pekebun yang mengelola lahan seluas 29 juta hektare. Nilai Tukar Petani (NTP) Perkebunan pada September 2026 meningkat 7,45% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Provinsi Bengkulu mencatat indeks NTP tertinggi nasional sebesar 231,6.

Pelaksana Tugas (Plt.) Direktur Jenderal Perkebunan, Heru Tri Widarto, mengatakan bahwa penguatan kinerja perkebunan perlu dilakukan dari hulu agar peningkatan produksi dapat berjalan seiring dengan pengembangan hilirisasi dan peningkatan kesejahteraan pekebun.

“Penguatan perkebunan tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi, tetapi juga memastikan ketersediaan bahan baku untuk mendukung hilirisasi. Karena itu, peningkatan produktivitas, penggunaan benih unggul, perbaikan kualitas hasil, dan penguatan kelembagaan pekebun menjadi bagian penting untuk menjaga keberlanjutan pasokan,” ujar Heru.

Menurut Heru, optimalisasi lahan perkebunan melalui pola tumpang sari dengan tanaman pangan juga dapat menjadi salah satu upaya untuk mendukung ketersediaan pangan sekaligus meningkatkan pemanfaatan lahan dan pendapatan pekebun.

Lebih lanjut Heru mengatakan, ke depan, Ditjenbun terus memperkuat peran subsektor perkebunan melalui peningkatan produksi dan produktivitas, percepatan pengembangan tebu untuk mendukung swasembada gula, serta penguatan ketersediaan bahan baku bagi hilirisasi komoditas strategis.

“Langkah ini diharapkan dapat memperkokoh kontribusi perkebunan terhadap perekonomian nasional, meningkatkan nilai tambah di dalam negeri, dan mendukung terwujudnya swasembada pangan secara berkelanjutan,” harap Heru.


Bagikan Artikel Ini