KEMENTERIAN PERTANIAN
DIREKTORAT JENDERAL PERKEBUNAN

Pengendalian Hama Tikus Pada Tebu

Diposting     Senin, 10 Oktober 2022 11:10 am    Oleh    perlindungan



Dalam meningkatkan produksi dan produktivitas tanaman tebu, masih terkendala oleh adanya serangan organisme pengganggu tumbuhan (OPT).  Gangguan OPT tersebut dapat menimbulkan kerusakan berarti yang pada akhirnya menimbulkan kerugian hasil dan pendapatan petani.

Salah satu faktor yang mempengaruhinya adalah adanya serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) seperti tikus dan apabila tidak dilakukan upaya pengendalian akan menimbulkan kerusakan berarti yang pada akhirnya menimbulkan kerugian hasil/pendapatan petani.

Ada tiga spesies tikus yang sering dijumpai di perkebunan tebu  adalah tikus sawah  (Rattus argentiventer), tikus ladang (Rattus exulans), dan tikus wirok (Bandicota indica).

Gambar 1. Tiga spesies  tikus yang menyerang perkebunan tebu
Sumber: P3GI

Tikus memiliki daya rusak yang besar karena merusak tanaman dalam waktu yang singkat, merusak berbagai stadia tanaman, mampu bereaksi atau merespon terhadap setiap tindakan pengendalian, mempunyai mobilitas yang tinggi dan menimbulkan  kehilangan hasil dalam jumlah yang besar walaupun hanya dilakukan oleh beberapa ekor tikus saja.

Daya rusak tersebut didukung oleh: kemampuan indera (penglihatan, penciuman, pendengaran, perasa dan peraba); kemampuan fisik (menggali, memanjat, meloncat, mengerat, berenang dan   menyelam); dan kemampuan reproduksi yang tinggi.

a. Biologi

Tikus betina mempunyai 6 pasang puting susu yang terletak di kiri dan kanan pada bagian dada dan perut, memanjang sepanjang badan. Tikus sawah dapat berkembang biak pada umur 1,5 – 5 bulan setelah kawin. Seekor tikus betina dapat melahirkan 8 ekor anak setiap melahirkan. Pada saat periode puncak perkembangannya, 92% tikus bunting dijumpai sedang menyusui anaknya.  Oleh karena itu dalam satu sarang sering dijumpai induk tikus hidup bersama dengan 2 – 3 generasi anak – anaknya.  Masa bunting tikus sawah sekitar 3 minggu, dan dalam waktu kurang dari 1 minggu sekali tikus betina mengalami masa birahi.  Masa menyusui bagi anak tikus baru berhenti setelah berumur 18 – 24 hari.  Umur tikus bisa mencapai 1 tahun.

b. Gejala Serangan

Pada tanaman tebu yang muda, tikus merusak batang tebu sehingga daun menjadi layu.  Pada tanaman tebu tua, tikus merusak batang di dalam tanah, batang di atas permukaan tanah, dan pucuk tebu.  Tikus menyerang bagian batang sehingga tidak dapat diproses di pabrik menjadi gula karena banyak batang yang patah hingga roboh dan mati. Jumlah kebun yang diserang hama tanaman ini mencapai puluhan hektar dan lebih dari 60%-nya roboh. Hama tanaman ini menyerang tanaman tebu jika sumber makanan lainnya seperti padi atau jagung tidak ada.

Gambar 2.  Gejala serangan tikus pada bagian akar dan batang tebu
Sumber: P3GI

c. Pengamatan

Perlu pengamatan siang maupun malam hari untuk menggambarkan populasi hama tikus, di antaranya: (i) populasi liang aktif tikus; (ii) kerusakan pada tanaman tebu muda dan tebu tua; dan (iii) kerusakan pada tanaman palawija di sekitarnya (padi, jagung, kedelai).  Pengamatan dilakukan secara rutin dan sistematis, bersamaan dengan pengamatan hama tebu yang lain seperti hama penggerek tetapi dasar pengambilan keputusannya adalah berapa banyak tikus, lubang tikus dan gejala serangan tikus yang ditemukan/ diamati.  Cara perhitungan persentase serangan sebagai berikut:

d.  Pengendalian

Cara pengendalian tikus secara terpadu  adalah sebagai berikut:

1)Pengendalian secara kultur teknis yaitu dengan tanam dan panen serempak, serta sanitasi lingkungan pada sarang – sarang tikus dan gulma yang ada dalam kebun tebu.

2). Pengendalian secara mekanis:

  • Gropyokan dan penggalian liang
    Liang tikus dengan bantuan anjing terutama pada pematang-pematang sawah dan sekitar saluran irigasi. 

Gambar  3.   Gropyokan dengan menggunakan   anjing terlatih
Sumber: Ditlinbun

  • Emposan/ pengasapan beracun/fumigasi
    Sistem emposan asap beracun efektif bila dilakukan di pematang- pematang sawah atau tepi saluran irigasi dimana dijumpai banyak liang tikus yang aktif.

Gambar  4.   Jenis emposan tikus
Sumber: bbpadi

  • Perangkap
    Salah satu jenis perangkap tikus yang dapat digunakan adalah perangkap yang terbuat dari kawat.

Gambar  5. Jenis perangkap kawat tikus
Sumber: bibliotika.com

3) Penggunaan Musuh alami dengan menggunakan burung hantu (Tyto alba)

4) Pengumpanan beracun (rodentisida), baik berupa racun akut maupun racun antikoagulan. Aplikasi rodentisida dilaksanakan pada saat setelah tanaman padi dipanen.  Jika menggunakan racun antikoagulan pada musim hujan, maka disarankan memakai yang sudah dalam bentuk kubus (misal klerat RMB) untuk menghindari kehilangan rodentisida terbawa oleh aliran air hujan.

Penulis : Alimin, S.P., M.Sc.

SUMBER PUSTAKA

Achadian, Etik M.  2022.  Materi Bimtek Tebu: Hama-Hama Penting Pertanaman Tebu di Indonesia. P3GI. Pasuruan.

Ditlinbun.  2016. Lapdin Pengawalan dan Pembinaan serta Monev Daerah Endemis Pengendalian OPT Tansimpah di Kabupaten Indramayu. Ditlinbun, Ditjenbun. Jakarta.

P3GI. 1989.  Hama dan Penyakit Tanaman Tebu. P3GI. Pasuruan.

Wibawanti R., Cucu D. dan Alimin.  2011.  Pengenalan dan Pengendalian Hama Penting Tanaman Tebu.  Ditlinbun, Ditjenbun.  Jakarta.


Bagikan Artikel Ini