KEMENTERIAN PERTANIAN
DIREKTORAT JENDERAL PERKEBUNAN

Tenaga Kontrak Pendamping (TKP) Sebagai Ujung Tombak Keberhasilan Program Pembangunan Perkebunan.

Diposting     Kamis, 11 Juni 2009 08:06 pm    Oleh    ditjenbun



YOGYAKARTA-Disatu sisi pemerintah semakin gencar melaksanakan berbagai program pembangunan perkebunan antara lain Program Revitalisasi Perkebunan, Akselerasi Peningkatan Produksi Tebu, Pengembangan Kapas dan Gerakan Peningkatan Produksi dan Mutu Kakao (Gernas Kakao). Program tersebut bertujuan untuk meningkatkan produksi dan kesejahteraan petani-pekebun. Namun, di sisi lain, semakin terbatasnya tenaga penyuluh yang akan melaksanakan program tersebut. Atas dasar itu, Ditjen Perkebunan sejak tahun 2007 telah merekrut Tenaga Kontrak Pendamping (TKP).

TKP merupakan ujung tombak keberhasilan program pembangunan perkebunan, tegas Dirjen Perkebunan, Achmad Mangga Barani, ketika menutup Pelatihan TKP Kegiatan Revitalisasi Perkebuna, Akselerasi Peningkatan Produksi Tebu, Pengembangan Kapas dan Gernas Kakao, 20 April 2009 di Lembaga Pendidikan Perkebunan (LPP) Yogyakarta. Sebanyak 83 TKP yang direkrut tahun 2009 telah mengikuti pelatihan selama 2 minggu di kelas (di LPP) dan 1 minggu magang/ praktek lapang.

Mereka yang telah dilatih ini akan bertugas mengkoordinasikan segala kegiatan di lapangan untuk melaksanakan berbagai program tersebut. Mereka ini dapat membaur dengan masyarakat setempat untuk membantu dan mengecek Calon Peserta (CP) dan Calon Lahan (CL) Petani kepada instansi terkait (Pemda setempat). Tugas mereka telah tercantum dalam kontrak kerja. Sejak tahun 2007 telah dilatih Tenaga Harian Lepas/Tenaga Kontrak Pendamping sebanyak 232 orang.

Lebih lanjut, Dirjen menegaskan bahwa kendala yang dihadapi dalam pembangunan perkebunan adalah rendahnya produktivitas tanaman karena kondisi tanaman yang sudah tua, rusak atau menggunakan bahan tanaman asalan, terbatasnya modal untuk penerapan teknik budidaya yang baik, terbatasnya lahan, kemampuan SDM dan penguasaan teknologi, keterbatasan ketersediaan pupuk dan pestisida yang akrab lingkungan baik dari jumlah maupun kualitasnya, serta kurang berfungsinya secara optimal kelembagaan petani dan kemitraan usaha antara perusahaan perkebunan dengan pekebun dan masyarakat sekitar kebun. Semua ini menyebabkan semakin rendahnya pendapatan dan kesejahteraan masyarakat khususnya masyarakat pekebun. Memperhatikan permasalahan tersebut, berbagai program dan kegiatan telah di upayakan antara lain Program Revitalisasi Perkebunan, Akselerasi Peningkatan produksi Tebu, Akselerasi Pengembangan Kapas Rakyat serta Gerakan Peningkatan Produksi dan Mutu Kakao Nasional.

Kegiatan Revitalisasi Perkebunan dilaksanakan dari 2007 – 2010 yang akan mengembangkan perkebunan rakyat 2 juta ha yaitu komoditi kelapa sawit, karet dan kakao. Kegiatan didukung oleh kredit revitalisasi untuk perluasan 1,5 juta hektar (kelapa sawit 1,3 juta hektar, karet 50 ribu hektar dan kakao 110 ribu hektar). Flafon kredit yang tersedia saat ini sebesar Rp.37,4 triliyun. Sedang untuk peremajaan seluas 429 ribu hektar meliputi 54 ribu hektar kakao, 125 ribu hektar kelapa sawit dan 250 ribu hektar karet. Sementara rehabilitasi tanaman kakao seluas 36 ribu hektar.

Untuk kegiatan Akselerasi Peningkatan Produksi Tebu/Gula sampai dengan tahun 2010/2011 areal tanaman tebu ditargetkan mencapai 459 ribu hektar dengan produksi gula diharapkan mencapai 3,3 juta ton, yang ditempuh melalui kegiatan ekstensifikasi/ perluasan dan intensifikasi. Sedangkan Akselerasi Pengembangan Kapas Rakyat ditempuh melalui kegiatan intensifikasi seluas 15 ribu hektar dengan sasarsn produksi yang akan dieapai 26.250 ton kapas berbiji.

Untuk kegiatan Gerakan Peningkatan Produksi dan Mutu Kakao Nasional yang dilaksanakan dalam kurun waktu 3 (tiga) tahun, yaitu tahun 2009 sampai dengan tahun 2011, lokasinya di 9 Provinsi dan 40 Kabupaten dengan kegiatan utama peremajaan seluas 70 ribu hektar, rehabilitasi seluas 235 ribu hektar dan intensifikasi seluas 145 ribu hektar. Gagasan gerakan ini disebabkan antara lain adanya penurunan produksi kakao dari 1.100 kg/ha/tahun pad a tahun 2003 menjadi 690 kg/ha/tahun pada tahun 2007. disamping itu mutu biji yang dihasilkan rendah akibat serangan PBK, VSD dan busuk buah serta penanganan pasca panen yang belurn sesuai dengan GHP (Good Handling Practices). (e&p djbun)


Bagikan Artikel Ini  

Tinggalkan Balasan ke Anonim Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *