KEMENTERIAN PERTANIAN
DIREKTORAT JENDERAL PERKEBUNAN

PENGENDALIAN TERPADU PENYAKIT KERDIL PADA TANAMAN LADA

Diposting     Senin, 30 Agustus 2021 02:08 pm    Oleh    ditjenbun



Deskripsi
Meskipun penyakit kerdil termasuk penyakit yang jarang dijumpai di perkebunan lada, namun penyakit ini cukup mematikan dan sangat berpengaruh terhadap penurunan kualitas dan kuantitas hasil. Pada tahun 1990, penyakit ini pernah menjangkit pertanaman lada di Lampung sebesar 40% (Firdausil et. al. 1991 dalam Semangun 2002). Selain di Lampung, hingga sekarang penyakit kerdil dapat dijumpai di sentra pertanaman lada di Indonesia, terutama di Bangka, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, dan Jawa Barat.  Lebih lanjut dikatakan bahwa penyakit ini berpotensi menjadi penyakit penting di masa mendatang sehingga keberadaannya harus diantisipasi.

Penyebab
Meskipun awalnya belum dapat diketahui penyebab penyakit ini, namun pada tahun 2015 berhasil teridentifikasi melalui deteksi Polymerase Chain Reaction (PCR). Hasil identifikasi oleh Miftakhurohmah et. al. (2016) menunjukkan bahwa penyebabnya adalah Piper Yellow Mottle Virus (PYMV) dan Cucumber Mosaic Virus (CMV). Penyakit ini ditularkan oleh serangga vektor berupa kutu, yaitu Planococcus minor dan Ferrisia virgata yang berperan menularkan PYMV, sedangkan Aphis gossypii asal tanaman tapak dara berperan menularkan CMV (Balfas et. al., 2007).

Ferrisia virgata, salah satu Vektor PYMV
Ferrisia virgata, salah satu Vektor PYMV

Gejala
Gejala penyakit kerdil diawali dari daun-daun yang terbentuk tak sempurna, kecil, dan mengalami malformasi terutama di bagian pucuk. Gejala lanjut memperlihatkan daun-daun tersebut menguning (mozaik) dengan bentuk semakin tak teratur, sempit, kaku, keriput, dan keriting sehingga proses fotosintesis terganggu. Pertumbuhan tanaman menjadi kerdil, tandan buah pendek, jumlah buah yang dihasilkan sedikit dengan ukuran sangat kecil.

gejala penyakit kerdil
Gejala Penyakit Kerdil

Pengendalian

  1. Secara Kultur Teknis
    • Penggunaan bibit sehat bersertifikat.
    • Tidak memakai bibit dari tanaman yang terinfeksi.
  2. Secara Mekanis
    • Tidak memakai gunting stek bekas tanaman sakit.
    • Membongkar dan memusnahkan sumber-sumber infeksi, termasuk membongkar tanaman yang sudah parah kemudian membuang dan memusnahkannya.
  3. Secara Hayati/nabati
    • Sebagai tindakan pencegahan, pengendalian dapat dilakukan dengan pemberian agen hayati, misalnya Trichoderma spp., Pseudomonas fluorescens, atau mikoriza untuk menginduksi ketahanan tanaman atau diperlakukan pada bibit dan lubang tanam sebelum dilakukan penanaman.
    • Insektisida nabati berupa rendaman daun tembakau untuk mengendalikan kutu/vektor agar penyebaran penyakit tidak meluas.
  4. Secara Kimia
    Aplikasi insektisida kimia berbahan aktif klorfenapir atau amitraz untuk membatasi penyebaran penyakit oleh serangga vektor

Penulis: Cecep Subarjah, Akhmad Faisal Malik, dan Romauli Siagian

Balfas, R., Irwan Lakani, Samsudin, dan Sukamto (2007) “Penularan Penyakit Kerdil pada Tanaman Lada oleh Tiga Jenis Serangga Vektor” Jurnal Littri, 13(4), hal. 136-141.

Miftakhurohmah, Maya Mariana, dan Dono Wahyuno (2016) “Deteksi Piper Yellow Mottle Virus (PYMoV) Penyebab Penyakit Kerdil pada Tanaman Lada secara Polymerase Chain Reaction (PCR)” Bul. Littro, 27(1), hal. 77-83.

Semangun, H. (2008) “Penyakit-penyakit Tanaman Perkebunan di Indonesia,” Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.



Bagikan Artikel Ini  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *