DIREKTORAT JENDERAL PERKEBUNAN
KEMENTERIAN PERTANIAN

Kementan Kick Off NBS-Agroforestry, Perkuat Perkebunan Berkelanjutan Lewat Kolaborasi Hijau

Diposting     Kamis, 30 Juli 2026 11:07 am    Oleh    ditjenbun



Kendal – Kementerian Pertanian (Kementan) terus memperkuat transformasi subsektor perkebunan melalui penerapan sistem Nature-Based Solution (NBS)-Agroforestry sebagai solusi menghadapi perubahan iklim sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani. Komitmen tersebut ditandai dengan Kick Off Penanaman Program NBS-Agroforestry di Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, Rabu (29/7/2026).

Program hasil kolaborasi Direktorat Jenderal Perkebunan, PT Pupuk Indonesia, serta Duta Petani Milenial dan Duta Petani Andalan Kementerian Pertanian ini mengedepankan pendekatan agroforestri yang mengintegrasikan aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan. Melalui sistem tersebut, pengembangan komoditas perkebunan tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan produktivitas, tetapi juga mempercepat rehabilitasi lahan, menjaga kelestarian sumber daya alam, serta mendorong tumbuhnya ekonomi hijau di pedesaan.

Pelaksana Tugas (Plt.) Direktur Jenderal Perkebunan, Heru Tri Widarto, mengatakan kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari Nota Kesepahaman yang telah ditandatangani Direktorat Jenderal Perkebunan, PT Pupuk Indonesia, serta Duta Petani Milenial dan Duta Petani Andalan pada 13 April 2026.

“Program NBS-Agroforestry merupakan kolaborasi strategis dalam membangun subsektor perkebunan yang produktif sekaligus berkelanjutan. Selain mendukung rehabilitasi lahan, program ini juga meningkatkan kompetensi masyarakat, membuka peluang usaha, dan memperkuat kesejahteraan petani melalui pengembangan ekonomi hijau,” ujar Heru.

Heru menjelaskan, penerapan sistem agroforestri menjadi salah satu strategi Direktorat Jenderal Perkebunan dalam menjaga keseimbangan antara peningkatan produktivitas dan kelestarian lingkungan. Melalui pola tanam yang mengombinasikan tanaman perkebunan dengan tanaman kehutanan maupun tanaman lainnya, sistem ini mampu meningkatkan konservasi tanah dan air, memperbesar cadangan karbon, serta memperkuat ketahanan perkebunan terhadap dampak perubahan iklim.

“Agroforestri menjadi solusi untuk mewujudkan perkebunan yang lebih tangguh dan berkelanjutan. Pendekatan ini tidak hanya memberikan manfaat ekologis, tetapi juga meningkatkan nilai ekonomi bagi petani serta memperkuat daya saing komoditas perkebunan Indonesia di pasar global,” katanya.

Dalam rangka mendukung percepatan hilirisasi komoditas perkebunan, Direktorat Jenderal Perkebunan pada tahun 2026 mengembangkan berbagai kawasan strategis, meliputi kelapa seluas 151.554 hektare, kopi 85.700 hektare, kakao 174.260 hektare, tebu 97.970 hektare, pala 43.600 hektare, lada 4.954 hektare, dan jambu mete 49.658 hektare. Pemerintah juga memberikan dukungan berupa benih unggul, pupuk, serta bantuan operasional pekebun guna meningkatkan produktivitas sekaligus memperkuat hilirisasi komoditas perkebunan.

Heru menegaskan, keberhasilan Program NBS-Agroforestry tidak terlepas dari kolaborasi seluruh pemangku kepentingan, termasuk keterlibatan generasi muda sebagai motor penggerak pembangunan pertanian modern.

“Petani milenial memiliki peran strategis dalam mempercepat transformasi subsektor perkebunan. Melalui inovasi, teknologi, dan semangat kewirausahaan, kita berharap semakin banyak agripreneur muda yang mampu mengembangkan perkebunan Indonesia secara produktif, berdaya saing, dan berkelanjutan,” ujarnya.

Pada kesempatan berbeda, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa pembangunan pertanian ke depan harus mampu menjawab tantangan perubahan iklim tanpa mengesampingkan peningkatan kesejahteraan petani.

“Program seperti NBS-Agroforestry menunjukkan bahwa peningkatan produktivitas dapat berjalan beriringan dengan pelestarian lingkungan. Dengan kolaborasi yang kuat, inovasi, dan keterlibatan generasi muda, kita optimistis mampu mewujudkan subsektor perkebunan yang semakin maju, bernilai tambah, berdaya saing, dan berkelanjutan,” ujar Mentan Amran.


Bagikan Artikel Ini