Hadapi Perubahan Iklim yang Kian Ekstrem, Kementan Perkuat Mitigasi untuk Lindungi Perkebunan Indonesia
Diposting Selasa, 07 Juli 2026 12:07 pm
Perubahan iklim menyebabkan pola hujan semakin tidak menentu, suhu udara meningkat, dan kejadian cuaca ekstrem semakin sering terjadi. Kondisi tersebut mulai memberikan tekanan terhadap berbagai komoditas perkebunan strategis nasional seperti kelapa sawit, kopi, kakao, karet, dan tebu
Komoditas strategis seperti kopi, kakao, kelapa sawit, hingga tebu menjadi rentan terdampak seperti penurunan produktivitas, kegagalan pembungaan, penurunan rendemen, peningkatan OPT, kebakaran lahan, kekeringan apabila perubahan cuaca tidak diantisipasi dengan baik. Perubahan pola curah hujan, kenaikan suhu, hingga meningkatnya frekuensi cuaca ekstrem berpotensi memengaruhi produktivitas, kualitas hasil panen, bahkan memicu serangan hama dan penyakit tanaman.
Karena itu, Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Direktorat Jenderal Perkebunan terus memperkuat berbagai langkah mitigasi dan adaptasi untuk melindungi perkebunan Indonesia sekaligus menjaga produktivitas komoditas perkebunan di tengah perubahan iklim misalnya melalui budidaya adaptif, penggunaan varietas unggul, konservasi sumber daya alam, serta penguatan kapasitas pekebun sebagai bagian dari pembangunan perkebunan yang berkelanjutan
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan pemerintah terus mendorong berbagai strategi adaptasi agar produktivitas komoditas perkebunan tetap terjaga.
“Pemerintah terus memperkuat langkah mitigasi untuk melindungi tanaman perkebunan dari dampak perubahan iklim melalui penerapan budidaya adaptif, penggunaan benih unggul, serta pendampingan kepada pekebun agar produktivitas tetap terjaga,” ujar Mentan Amran.
Menurutnya, mitigasi perubahan iklim tidak hanya penting untuk menjaga produksi, tetapi juga menjadi investasi jangka panjang dalam memperkuat ketahanan sub sektor perkebunan nasional. Dengan langkah antisipatif yang dilakukan sejak dini, produktivitas perkebunan diharapkan tetap terjaga sekaligus mampu meningkatkan kesejahteraan pekebun di tengah tantangan iklim yang terus berkembang.
Sejalan dengan arahan tersebut, berbagai program terus diperkuat, mulai dari penggunaan benih unggul yang lebih adaptif terhadap perubahan cuaca, penerapan konservasi tanah dan air, hingga pengelolaan kebun yang lebih berkelanjutan. Pendampingan kepada pekebun juga terus ditingkatkan, terutama dalam mengantisipasi meningkatnya serangan hama dan penyakit tanaman yang kerap dipicu perubahan iklim.
Untuk mengimplementasikan arahan tersebut, Direktorat Jenderal Perkebunan menjalankan sejumlah program mitigasi dan adaptasi perubahan iklim yang menyasar peningkatan ketahanan kebun, kapasitas pekebun, hingga penguatan sistem peringatan dini.
Pelaksana Tugas (Plt.) Direktur Jenderal Perkebunan, Ali Jamil, mengatakan pengelolaan kebun yang adaptif menjadi kunci menjaga daya tahan subsektor perkebunan di tengah dinamika iklim yang semakin kompleks.
“Pengelolaan kebun yang adaptif, konservasi tanah dan air, serta pemanfaatan informasi iklim menjadi langkah penting agar perkebunan Indonesia tetap tangguh menghadapi cuaca yang semakin dinamis sekaligus membuka peluang inovasi bagi generasi muda di subsektor perkebunan,” katanya.
Menurut Ali Jamil, perkembangan teknologi turut mendukung kemampuan pekebun dalam beradaptasi. Berbagai informasi mengenai prakiraan cuaca, teknik budidaya, hingga pengelolaan kebun kini dapat diakses lebih cepat sehingga membantu pekebun mengambil keputusan yang tepat di lapangan.
“Kami berkomitmen hadir mendampingi pekebun di setiap jengkal lahan. Melalui transformasi digital dan penguatan kelembagaan, kita membangun ekosistem perkebunan yang tidak hanya tangguh menghadapi perubahan iklim, tetapi juga mampu meningkatkan kesejahteraan pekebun secara mandiri dan berkelanjutan,” tambahnya.
Sebagai bagian dari upaya tersebut, Direktorat Jenderal Perkebunan terus menjalankan berbagai program pembinaan untuk meningkatkan kesiapsiagaan pekebun menghadapi dampak perubahan iklim. Salah satunya melalui pembangunan demplot mitigasi dan adaptasi iklim sebagai kebun percontohan yang menerapkan teknik budidaya hemat air dan ramah lingkungan. Di lokasi ini, pekebun belajar mengelola kebun saat musim kemarau, memanfaatkan pestisida alami, hingga mengolah limbah pertanian menjadi kompos melalui prinsip ekonomi sirkular.
Pemerintah juga terus mendorong Program Pembukaan Lahan Tanpa Bakar (PLTB) sebagai bagian dari komitmen mewujudkan pertanian zero burning yang lebih ramah lingkungan. Pengelolaan tata air di lahan gambut diperkuat melalui pembangunan sekat kanal agar kelembapan lahan tetap terjaga sehingga produktivitas kebun dapat dipertahankan pada musim kering.
Kesiapsiagaan di tingkat lapangan juga diperkuat melalui pembentukan Brigade Pengendalian Kebakaran Lahan dan Kebun (Karlabun) serta Kelompok Tani Peduli Api yang berperan aktif dalam mencegah kebakaran hutan dan lahan di wilayah perkebunan. Brigade Pengendalian Kebakaran Lahan dan Kebun (Karlabun) dibentuk untuk meningkatkan kesiapsiagaan, deteksi dini, serta respons cepat terhadap potensi kebakaran di wilayah perkebunan.
Selain itu, pemerintah mendorong pengembangan desa pertanian organik untuk mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia, menjaga kesuburan tanah, sekaligus menghasilkan komoditas perkebunan yang lebih berkualitas dan ramah lingkungan.
Dalam praktik budidaya sehari-hari, pekebun diimbau memanfaatkan limbah tanaman sebagai pupuk organik, memberikan pupuk sesuai dosis, menjaga tata kelola air, serta rutin memantau kondisi tanaman dan perkembangan informasi cuaca. Teknologi konservasi air seperti rorak dan biopori juga dianjurkan untuk meningkatkan cadangan air tanah tetap tersedia pada musim kemarau.
Selain itu, pola tanam tumpang sari dan penggunaan tanaman penutup tanah dinilai efektif menjaga kelembapan lahan sekaligus meningkatkan ketahanan kebun terhadap perubahan iklim. Sebaliknya, praktik pembukaan lahan dengan cara membakar harus ditinggalkan karena berisiko memicu kebakaran hutan dan lahan. Pekebun juga diingatkan untuk tidak memperluas areal ke kawasan lindung maupun wilayah moratorium, serta mengurangi penggunaan bahan kimia secara berlebihan agar keseimbangan ekosistem perkebunan tetap terjaga.
Salah seorang pekebun mengaku berbagai pendampingan yang dilakukan pemerintah memberikan manfaat nyata dalam menghadapi tantangan perubahan iklim. Pendampingan dari petugas membantu kami mengatur pola tanam dan penggunaan air saat musim kemarau. Hasilnya tanaman tetap tumbuh baik meskipun cuaca semakin sulit diprediksi. “Dengan pola tanam yang adaptif dan ramah lingkungan, kami siap menjaga perkebunan Indonesia tetap tangguh menghadapi tantangan iklim dunia.”
Ali Jamil optimistis dengan penguatan mitigasi dan adaptasi perubahan iklim secara berkelanjutan, pemerintah berharap subsektor perkebunan tetap menjadi penopang ketahanan pangan, penyedia lapangan kerja, sumber devisa, sekaligus motor penggerak ekonomi nasional di tengah tantangan iklim global yang semakin kompleks.
“Menjaga kebun hari ini berarti menjaga pangan, ekonomi, dan masa depan Indonesia. Perkebunan yang tangguh akan melahirkan pekebun yang sejahtera dan memperkuat ketahanan ekonomi bangsa. Perkebunan tangguh, Indonesia kuat,” tutup Ali.
DIREKTORAT JENDERAL PERKEBUNAN