Genjot Hilirisasi, Sawit Jadi ‘Miracle Crop’ Andalan RI di Pasar Global
Diposting Senin, 23 Februari 2026 09:02 am
Jakarta – Kementerian Pertanian (Kementan) terus memperkuat hilirisasi kelapa sawit demi meningkatkan nilai tambah dan memperluas manfaat ekonomi bagi masyarakat. Komoditas strategis ini bahkan kerap disebut sebagai “miracle crop” karena kombinasi keunggulannya yang nyaris tak tertandingi dibanding minyak nabati lain, baik dari sisi produktivitas, efisiensi lahan, hingga dampak ekonominya.
Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman, menegaskan kelapa sawit merupakan salah satu tulang punggung perekonomian nasional yang harus dikelola secara optimal dan berkelanjutan.
“Kelapa sawit merupakan salah satu kekuatan besar Indonesia. Produktivitasnya tinggi, efisien dalam penggunaan lahan, dan mampu menggerakkan ekonomi rakyat dari desa hingga industri besar. Inilah yang membuat sawit layak disebut miracle crop,” ujar Mentan Amran.
Berdasarkan Data publikasi statistik Ditjen Perkebunan, diketahui bahwa secara nasional, pada 2024 luas areal kelapa sawit Indonesia tercatat mencapai 16,83 juta hektare dengan produksi sebesar 45,44 juta ton (CPO) dan produktivitas rata-rata nasional 3,5 ton per hektare. Capaian ini menegaskan posisi Indonesia sebagai produsen sawit utama dunia.
Sebagai informasi, empat provinsi menjadi kontributor terbesar produksi sawit nasional. Provinsi Riau mencatat luas 3,37 juta hektare dengan produksi 9,14 juta ton. Disusul Kalimantan Barat seluas 2,21 juta hektare dengan produksi 4,96 juta ton, Kalimantan Tengah seluas 2,15 juta hektare dengan produksi 7,46 juta ton, serta Kalimantan Timur seluas 1,44 juta hektare dengan produksi 3,90 juta ton.
Dari sisi perdagangan global, kinerja ekspor sawit Indonesia pada 2024 juga menunjukkan peran strategisnya dalam perekonomian nasional. Volume ekspor tercatat sebesar 32,34 juta ton dengan nilai mencapai 22,85 milyar dolar AS. Angka tersebut menjadi bukti kontribusi signifikan sawit terhadap devisa negara.
Menurut Mentan Amran, arah kebijakan Kementan saat ini tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi di sektor hulu, tetapi juga pada penguatan hilirisasi agar nilai tambah dinikmati di dalam negeri. Pengembangan produk turunan sawit, mulai dari pangan olahan, oleokimia, hingga bioenergi seperti biodiesel, dinilai menjadi kunci memperkokoh ketahanan energi sekaligus memperluas lapangan kerja.
Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Perkebunan, Abdul Roni Angkat, menambahkan bahwa kelapa sawit memiliki produktivitas minyak per hektare yang jauh lebih tinggi dibandingkan komoditas minyak nabati lainnya. Dengan efisiensi lahan tersebut, sawit diharapkan mampu memenuhi kebutuhan minyak nabati global tanpa tekanan pembukaan lahan yang berlebihan, serta tetap sesuai ketentuan yang berlaku dan mengimplementasikan sistem keberlanjutan.
“Hilirisasi menjadi strategi penting agar sawit tidak hanya diekspor dalam bentuk bahan mentah, tetapi diolah menjadi produk bernilai tambah tinggi. Dengan begitu, manfaat ekonomi bisa dirasakan lebih luas oleh pekebun, pelaku usaha, dan masyarakat,” jelas Roni.
Roni juga menekankan pentingnya penguatan sertifikasi dan praktik budidaya berkelanjutan, termasuk percepatan peremajaan sawit rakyat untuk menjaga produktivitas kebun. Upaya ini dilakukan guna meningkatkan daya saing sawit Indonesia di pasar global sekaligus menjawab berbagai tantangan isu lingkungan.
Roni menambahkan, dengan strategi hilirisasi yang terintegrasi dari hulu hingga hilir, Kementan optimistis kelapa sawit akan semakin memperkokoh posisinya sebagai komoditas strategis nasional sekaligus motor penggerak industrialisasi berbasis perkebunan yang berkelanjutan dan berkeadilan.
DIREKTORAT JENDERAL PERKEBUNAN