DIREKTORAT JENDERAL PERKEBUNAN
KEMENTERIAN PERTANIAN

Dari Kebun hingga Cangkir, Mitigasi Perubahan Iklim Jaga Masa Depan Kopi Indonesia

Diposting     Sabtu, 01 Agustus 2026 01:08 pm    Oleh    ditjenbun



Jakarta – Secangkir kopi yang dinikmati setiap hari menyimpan tantangan besar di tingkat kebun. Perubahan iklim yang ditandai dengan meningkatnya suhu udara, berubahnya pola curah hujan, dan semakin seringnya cuaca ekstrem mulai memengaruhi pertumbuhan hingga kualitas biji kopi. Tanpa langkah mitigasi dan adaptasi yang tepat, keberlanjutan kopi Indonesia berpotensi menghadapi tekanan yang semakin besar.

Untuk menjaga keberlanjutan produksi kopi nasional, Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Perkebunan terus memperkuat berbagai strategi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim. Berbagai upaya tersebut diwujudkan melalui penerapan teknologi budidaya adaptif, penggunaan benih unggul yang toleran terhadap cekaman iklim, pengelolaan tanaman penaung, konservasi tanah dan air, serta peningkatan kapasitas pekebun agar mampu menghadapi risiko perubahan iklim.

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa mitigasi perubahan iklim menjadi langkah penting dalam menjaga keberlanjutan komoditas perkebunan strategis, termasuk kopi.

“Mitigasi terus diperkuat melalui penerapan budidaya adaptif, penggunaan benih unggul yang toleran terhadap kekeringan, serta pendampingan kepada pekebun agar produksi tetap terjaga,” tegas Mentan Amran.

Urgensi langkah mitigasi semakin mengemuka. Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), tahun 2024 tercatat sebagai tahun terpanas di Indonesia sejak pengamatan dimulai pada 1981. Anomali suhu rata-rata mencapai sekitar +0,8°C dibandingkan normal klimatologis periode 1991–2020 (BMKG, 2025). Kondisi tersebut menjadi sinyal bahwa perubahan iklim bukan lagi ancaman di masa depan, melainkan telah dirasakan dampaknya terhadap sektor pertanian dan perkebunan.

Temuan tersebut diperkuat oleh penelitian Haritsah dkk. (2025), yang menunjukkan bahwa produktivitas kopi Arabika, khususnya di Jawa Barat, sangat dipengaruhi oleh suhu udara dan curah hujan. Kedua faktor tersebut menjelaskan sekitar 63,7 persen variasi produktivitas kopi Arabika. Hasil penelitian ini menggarisbawahi pentingnya penerapan teknologi budidaya adaptif agar produktivitas kopi tetap terjaga di tengah perubahan iklim.

Kopi merupakan salah satu komoditas perkebunan strategis Indonesia. Selain menjadi sumber penghidupan jutaan pekebun, kopi juga berkontribusi terhadap ekspor nasional dan menjadi salah satu komoditas yang semakin diminati pasar dunia. Oleh karena itu, menjaga keberlanjutan produksi kopi menjadi bagian penting dalam memperkuat ketahanan pangan, ekonomi, dan daya saing perkebunan Indonesia.

Plt. Direktur Jenderal Perkebunan Heru Tri Widarto menegaskan bahwa perubahan iklim harus direspons melalui peningkatan produktivitas yang dibarengi dengan penerapan praktik budidaya berkelanjutan.

“Tantangan ke depan semakin kompleks, salah satunya akibat perubahan iklim. Karena itu, peningkatan produktivitas harus dibarengi dengan penerapan teknologi dan praktik budidaya yang berkelanjutan agar produksi kopi tetap terjaga,” ujar Heru.

Menurut Heru, perubahan iklim dapat mengganggu fase pembungaan, meningkatkan risiko kekeringan maupun curah hujan berlebih. Perubahan iklim juga berpotensi meningkatkan tekanan organisme pengganggu tanaman (OPT). Peningkatan suhu udara dan perubahan pola curah hujan dapat memengaruhi dinamika populasi hama dan perkembangan patogen, sehingga berpotensi meningkatkan risiko kehilangan hasil. Kenaikan suhu diketahui dapat mempercepat siklus hidup hama utama kopi, seperti Penggerek Buah Kopi (Hypothenemus hampei), sekaligus memperluas daerah sebarannya hingga ke wilayah dataran yang sebelumnya relatif aman.

Di sisi lain, perubahan pola curah hujan dan peningkatan kelembapan lingkungan dapat menciptakan kondisi yang lebih kondusif bagi perkembangan berbagai penyakit penting pada tanaman kopi, antara lain Karat Daun Kopi (Hemileia vastatrix), Bercak Daun (Cercospora coffeicola), Antraknosa (Colletotrichum spp.), serta Busuk Buah Kopi. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan frekuensi maupun intensitas serangan penyakit sehingga berdampak negatif terhadap produktivitas dan mutu hasil kopi.

Oleh karena itu, penerapan Pengendalian Hama Terpadu (PHT) yang adaptif terhadap perubahan iklim menjadi strategi yang semakin penting dalam pengelolaan budidaya kopi. Pendekatan ini diperlukan untuk meningkatkan ketahanan sistem produksi kopi terhadap perubahan kondisi lingkungan, sekaligus menjaga produktivitas, kualitas, dan keberlanjutan usaha perkebunan kopi di Indonesia.

Untuk meminimalkan dampak tersebut, terdapat sejumlah langkah mitigasi yang dapat diterapkan oleh pekebun, antara lain menggunakan varietas atau benih unggul yang lebih toleran terhadap cekaman iklim, mengatur naungan kebun melalui tanaman pelindung untuk menjaga kestabilan suhu mikro, serta menerapkan konservasi tanah dan air melalui pembuatan rorak, terasering, penggunaan mulsa, dan penanaman tanaman penutup tanah.

Selain itu, pekebun juga didorong melakukan pemangkasan secara rutin guna menjaga sirkulasi udara, menerapkan pemupukan berimbang sesuai kebutuhan tanaman, memantau perkembangan hama dan penyakit secara berkala agar pengendalian dapat dilakukan lebih cepat dan tepat, serta memanfaatkan informasi prakiraan cuaca sebagai dasar penentuan waktu tanam, pemupukan, dan panen.

Heru menambahkan, keberhasilan menghadapi perubahan iklim tidak hanya bergantung pada penerapan teknologi budidaya, tetapi juga memerlukan penguatan kapasitas sumber daya manusia serta kolaborasi seluruh pemangku kepentingan.

“Sinergi antara pemerintah, peneliti, penyuluh, pelaku usaha, dan pekebun menjadi kunci dalam memperkuat ketahanan subsektor kopi nasional terhadap perubahan iklim. Melalui pendampingan yang berkelanjutan dan penerapan praktik perkebunan yang ramah lingkungan, kopi Indonesia diharapkan mampu beradaptasi terhadap perubahan iklim sekaligus mempertahankan daya saingnya di pasar global,” pungkas Heru.

Dalam mendukung adaptasi perubahan iklim, Direktorat Jenderal Perkebunan juga terus mendorong penerapan Good Agricultural Practices (GAP), penggunaan benih unggul bersertifikat, pengembangan kebun percontohan, peningkatan kapasitas pekebun melalui penyuluhan, serta pemanfaatan informasi iklim sebagai dasar pengambilan keputusan dalam budidaya kopi.

Heru optimistis, dengan sinergi seluruh pemangku kepentingan dan penerapan praktik perkebunan yang adaptif serta ramah lingkungan, kopi Indonesia tidak hanya mampu bertahan menghadapi perubahan iklim, tetapi juga semakin berdaya saing di pasar global. Upaya menjaga kebun hari ini menjadi investasi penting agar cita rasa kopi Indonesia tetap dapat dinikmati dari generasi ke generasi.

Sumber Data:

  1. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika. 2025. Anomali Suhu Udara Rata-Rata Tahun 2024. Diakses secara online melalui: https://www.bmkg.go.id/iklim/anomali-suhu-udara-rata-rata-tahun-2024
  2. Haritsah, H. 2025. Pengaruh Perubahan Iklim Terhadap Produktivitas Kopi Arabika di Kabupaten Bandung. Diakses secara online melalui :https://www.researchgate.net/publication/392274858_Pengaruh_Perubahan_Iklim_Terhadap_Produktivitas_Kopi_Arabika_di_Kabupaten_Bandung
  3. https://www.pertanian.go.id/index1.php?act=view&id=7933&show=news&/
  4. https://ditjenbun.pertanian.go.id/perkebunan-tahun-2025-tantangan-global-dan-peluang-pertumbuhan-berkelanjutan/


Bagikan Artikel Ini