DIREKTORAT JENDERAL PERKEBUNAN
KEMENTERIAN PERTANIAN

KEMENTAN : PETANI TERUS BERUPAYA MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS KAKAO.

Diposting     Kamis, 26 April 2018 01:04 pm    Oleh    ditjenbun



SULTENG – Komitmen Nasional dan dukungan dari semua pihak menjadi poin penting dalam meningkatkan produktivitas kakao di Sulawesi Tengah khususnya dan Nasional pada umumnya menjadi catatan Dirjen Perkebunan pada Kunjungan Kerja Anggota Komisi IV DPR RI pada tanggal 19 s.d 23 Februari 2018 di Desa Sibowi Kec. Tanam Bulava Kab. Sigi Provinsi Sulawesi Tengah. Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian bersama rombongan Komisi IV DPR RI disambut Gubernur Sulawesi Tengah beserta jajarannya di Bandara Mutiara SIS Al-Jufrie, Palu, Sulteng.

“Prihatin dengan kondisi kakao di Desa Sibowi Kecamatan Tanam Bulava  Kabupaten Sigi akibat tingginya serangan Penggerek Buah Kakao (PBKO) dan Busuk Buah Kakao. Padahal mudah sekali pengendaliannya, hanya perlu pemangkasan secara kolektif, kompak dan komitmen bersama pekebun serta intensif,” demikian disampaikan  Ir. Bambang, MM, Direktur Jenderal Perkebunan pada kunjungan kerja Komisi IV DPR RI di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah (20/02/2018).

Bambang menambahkan, Kebutuhan kakao dunia terus meningkat setiap tahunnya. Para petani harus menangkap peluang ini dengan maksimal.

Ketua kelompok tani Harapan Jaya komoditas kakao Desa Sibowi Kec.Tanam Bulava Kab. Sigi, Sulawesi Tengah, berharap agar kebun kakao kelompoknya dilakukan peremajaan dan penambahan alat dan mesin pertanian  mengolah biji kakao untuk meningkatkan produksi


Bagikan Artikel Ini  

KEMENTAN TINGKATKAN KOMPETENSI MANAJEMEN TANAMAN KARET.

Diposting     Rabu, 11 April 2018 01:04 pm    Oleh    ditjenbun



Komoditas karet merupakan salah satu komoditas utama andalan Indonesia. Pengembangan perkebunan karet memberikan peranan penting bagi perekonomian nasional, yaitu sebagai sumber devisa, sumber bahan baku industri, sumber pendapatan dan kesejahteraan masyarakat serta sebagai pengembangan pusat-pusat pertumbuhan perekonomian di daerah dan sekaligus berperan dalam pelestarian fungsi lingkungan hidup. Selain itu, tanaman karet juga merupakan tanaman tahunan yang mampu memberikan manfaat dalam pelestarian lingkungan, terutama dalam hal penyerapan CO2 dan penghasil O2. Bahkan ke depan, tanaman karet merupakan sumber kayu yang potensial yang dapat mensubtitusi kebutuhan kayu hutan alam yang dari tahun ke tahun ketersediaannya semakin menurun.

Untuk meningkatkan kompetensi dan kapabilitas Staf Teknis Direktorat Tanaman Tahunan dan Penyegar dibidang komoditi tanaman karet dalam mendukung program pembangunan perkebunan berkelanjutan maka kegiatan peningkatan kompetensi manajemen Staf Teknis Direktorat Tanaman Tahunan dan Penyegar khususnya untuk komoditi karet dilaksanakan selama 5 (lima) hari, tanggal 19 – 23 Maret 2018 di Pusat Penelitian Karet, Sembawa – Kab. Banyuasin, Prov. Sumatera Selatan. Pelatihan kompotensi tanaman karet dibuka oleh Kepala Pusat Penelitian Tanaman Karet dan dihadiri oleh staf Teknis Direktorat Tanaman Tahunan, narasumber dan staf Puslit Karet Sembawa. Pelatihan peningkatan kompetensi manajemen tanaman karet Direktorat Tanaman Tahunan dan Penyegar dilaksanakan dengan metode pembelajaran di kelas/ruangan (teori) dengan materi Kebun Entres dan Pengenalan Klon Unggul, Kebun Batang Bawah dan Okulasi, Analisa Ekonomi dan Pembibitan Karet, Analisa Usaha Tani / Cash Flow dan Pengolahan Bokar (Produk Olahan) dan metode praktek di Kebun Percobaan dan Bengkel Teknologi Pusat Penelitian Karet, Sembawa, antara lain praktek Kebun Entres dan Pengenalan Klon Unggul, praktek Kebun Batang Bawah dan Okulasi dan praktek Pengolahan Bokar (Produk Olahan).

Tanaman karet di Indonesia berasal dari Brazil tahun 1876, dimana Kebun Raya Bogor menerima 18 tanaman muda (kecambah). Dalam memperoleh klon unggul memerlukan waktu yang bisa mencapai 34 tahun dengan urutan persilangan (6 bulan), penanaman biji (3 tahun), uji pendahuluan (10 tahun), uji lanjutan (10 tahun), uji adaptasi (10) selanjutnya dapat dikeluarkan rekomendasi.  Adapun beberapa klon karet anjuran yang telah dilepas adalah

  • Klon lateks : IRR 104, IRR112, IRR 118, IRR 220, BPM 24, PB 260, PB 330 dan PB 340;
  • Klon lateks-kayu : IRR 5, IRR 39, IRR 42, IRR 230 dan RRIC 100;
  • Benih batang bawah monoclonal dari klon AVROS 2037, GT 1, PB 260, RRIC 100, PB 330 dan BPM 24

“Keberhasilan dalam usaha tani secara umum salah satunya ditentukan oleh bahan tanam yang baik dan benar.Sumber benih karet diperoleh dari kebun entres dan kebun batang bawah. Langkah-langkah yang dilakukan dalam pembangunan kebun entres meliputi pemilihan lokasi, perencanaan, persiapan lahan, tata ruang, penanaman, pemeliharaan dan pemurnian”, kata Sigit Ismawanto, SSi, M.Sc, selaku Narasumber yang sekaligus peneliti di Puslit Karet, Sembawa dengan materi Pengenalan Klon Unggul dan Kebun Entres.

Andi Nur Cahyo, M.Sc menyampaikan pokok bahasan Kebun Batang Bawah dan Okulasi. Batang bawah ditentukan oleh biji yang berasal dari sumber benih yang sudah ditetapkan (direkomendasi) dengan standar mutu biji untuk batang bawah meliputi mutu genesis benih, mutu fisik benih dan mutu fisiologi). Selanjutnya pembangunan batang bawah dengan persyaratan lahan relatif datar, mudah dijangkau, dekat sumber air, bukan daerah JAP, lahan yang miring >3% dibuat guludan, tanah subur, gembur, solum dalam dan tidak dekat hutan. Langkah dalam pembangunan kebun batang bawah antara lain persiapan lahan (pengolahan, pembuatan petakan, pengajiran), jarak tanam (okulasi hijau : 20x20x50 cm ; populasi 114.280 batang/ha, okulasi cokelat : 30x40x50 cm ; populasi 62.500 batang/ha), penyemaian benih, penanaman kecambah, pemeliharaan di pembibitan (penyiraman, penyulaman, pengendalian gulma, pengendalian hama dan penyakit serta pemupukan). Proses pertumbuhan biji menjadi bibit polybag membutuhkan sekitar 16 bulan dengan urutan biji siap ditanam dan siap untuk diokulasi (8 bulan), masa okulasi.

Dwi Shinta Agustina, SP, M.Sc menyampaikan terkait Analisa Usaha Pembibitan Karet dan Analisa usahatani karet (cashflow). “Pembibitan merupakan tempat penyiapan dan penyediaan bahan tanam (bibit), baik yang berasal dari hasil perbanyakan generative (benih) maupun vegetative. Ada beberapa tahapan dalam kegiatan pembibitan karet, yaitu mulai dari pengadaan biji, persemaian biji, persemaian bibit bawah (roots tock), okulasi, pembuatan bibit polybag dan penanaman”, katanya.

“Bokar adalah gumpalan/bekuan/koagulan lateks baik itu secara alami maupun sengaja ditambahkan bahan penggumpal (pengolahan sederhana) dan tidak tercampur kontaminan. Untuk mempercepat pembekuan dan menghasilkan karet yang bermutu baik serta ramah lingkungan diperlukan koagulan  Jenis koagulan yang dianjurkan adalah Deorub (asap cair) dan asam semut (asam format), sedangkan koagulan yang tidak dianjurkan Cuka para (asap cair), Tawas dan Pupuk TSP. Produk olahan lateks yang dihasilkan petani antara lain Sleb, Lum Mangkok, Skrep, Sit Angin dan Sit Asap”, kata Afrizal Vachlepi, S.TP, MT.

“Kebun entres merupakan sumber bibit yang digunakan sebagai perbanyakan dengan cara okulasi pada pembibitan karet yang telah dipersiapkan, Persyaratan mutu genetis kebun entres sebaiknya sebelum digunakan harus dimurnikan oleh lembaga yang berkompeten yaitu penghasil varietas/klon untuk mencapai tingkat kemurnian 100%, sedangkan dari segi mutu fisiologis adalah setiap batang sepanjang 2 meter harus bebas tunas. Klon yang direkomendasikan untukentres diantaranya IRR 104, IRR112, IRR 118, IRR 220, BPM 24, PB 260, PB 330 dan PB 340”, demikian disampaikan oleh Sigit Ismawanto, S.Si, MSc pada Praktek Kebun Entres dan Pengenalan Klon Unggul yang dilakukan di kebun percontohan Puslit Sembawa.

Sedangkan untuk praktek Kebun Batang Bawah dan Okulasi dilakukan di kebun percontohan Puslit Sembawa. “Tanaman yang akan dijadikan batang bawah pada okulasi adalah tanaman hasil perbanyakan generatif (biji).  Walaupun merupakan hasil perbanyakan generatif, batang bawah juga memiliki kon-klon anjuran yang sebaiknya digunakan untuk proses okulasi. Batang bawah yang dianjurkan, selain memiliki kelebihan dalam perakaran dan ketahanan terhadap serangan organisme pengganggu tanaman, juga memiliki kelebihan yaitu lebih kompatibel dengan klon-klon yang dianjurkan sebagai batang atas. Beberapa klon anjuran untuk batang bawah adalah AVROS 2037, GT 1, PB 260, RRIC 100, PB 330 dan BPM 24”, kata Andi Nur Cahyo, SP, MSc.

“Persentase Kadar Karet Kering (KKK) lateks pertama dihasilkan sebesar 28 – 30 %, sehingga perlu dilakukan penuruan KKK menjadi 12 – 15 % dengan cara mencampurkan larutan deorab,” kata Afrizal Vachlepi, STP, MT pada Praktek Pengolahan Bokar (Produk Olahan) dilakukan di Bengkel Teknologi Puslit Sembawa.

Dalam praktek juga disampaikan mengolah lateks lumb menjadi slab lumb dan lateks cair menjad slab lateks.

“Pelatihan peningkatan kompetensi manajemen tanaman karet yang dilaksanakan mencakup aspek teori dan praktek, sehingga di dapat pengetahuan dan keterampilan yang komprehensif tentang budidaya tanaman karet. Kegiatan pelatihan peningkatan kompetensi manajemen tanaman karet dapat meningkatkan pengetahuan, dan keterampilan teknis staf teknis dan pemangku kebijakan dan menunjang dalam pelaksanaan tugas yang menjadi tanggung jawabnya. Materi pelatihan terutama terkait manajemen tanaman karet agar dapat dipersiapkan dengan lebih baik sehingga pelaksanaan pelatihan dapat lebih efektif dan efisien serta sesuai dengan kebutuhan petugas teknis dalam pelaksanaan tugas yang menjadi tanggung jawabnya. Materi praktek lapangan yang belum terlaksana seyogyanya dapat diganti dengan praktek lapangan yang lain. Pelatihan sejenis agar tetap dapat dilaksanakan bagi staf teknis lain yang belum mengikuti pelatihan, sedangkan untuk pelatihan yang lainnya agar dapat diupayakan diadakan dengan harapan kompetensi SDM di bidang pengembangan tanaman tahunan (khususnya karet) dapat meningkat sehingga dapat menunjang pelaksanaan tugas yang menjadi tanggung jawabnya”, kata Irfan salah satu peserta pelatihan tersebut.


Bagikan Artikel Ini  

KEMENTAN DUKUNG PETANI EKSPOR : KAKAO LESTARI KE VALRHONA – PERANCIS.

Diposting        Oleh    ditjenbun



Spirit dan Apresiasi Petani Kakao Jembrana begitu tinggi.  Mimpi anggota subak peserta program Kakao Lestari selama 6 (enam) tahun dapat terwujud. 30 Oktober 2015, adalah bukti bahwa karena kebersamaan dan semangat yang tanpa kenal lelah untuk berjuang telah mengantarkan pada proses pengiriman perdana Kakao Lestari ke Valrhona – Perancis, dengan melakukan eskpor langsung dari KSS. Proses ini merupakan puncak dari seluruh rangkaian proses hulu – hilir pendampingan program di Kabupaten Jembrana untuk komoditi kakao berkelanjutan. “Kakao adalah hidup saya”, kata petani I Ketut Wiadnyana, Ketua Koperasi/Kelihan Subak Sekar Wangi, Desa Yeh Embang Kauh – Jembrana ini menyampaikan apresiasi dan harapan mewakili  ratusan petani di Kabupaten Jembrana yang tanpa kenal lelah berharap akan komoditi ini agar tetap berkelanjutan. Ini adalah sebuah harapan akan makna “lestari” dalam sektor kakao. Sederhananya, bagaimana komoditi kakao senantiasa ada dan tetap bisa menjadi bagian dari aktivitas keseharian di Jembrana, sebagai sebuah potensi warisan kepada generasi penerus yang tidak akan punah oleh waktu.

 

Makna sederhana ini yang mampu memberikan inspirasi kepada Yayasan Kalimajari untuk melakukan proses pendampingan kepada petani kakao, subak abian, UPH dan Koperasi Kerta Semaya Samaniya. Meskipun harus melalui proses yang sangat panjang, namun pencapaian demi pencapain dapat terwujud dengan perjuangan dan kerja keras dengan sma pihak.

 

Bukan hal yang berlebihan kiranya harapan tersebut disampaikan, jika melihat potensi yang ada. Kakao dan Jembrana merupakan dua hal yang memiliki keterkaitan sangat kuat. Seiring perjalanan waktu, sebuah realita yang tak terbantahkan, terbukti bahwa komoditi kakao telah memberikan banyak hal kepada masyarakat Jembrana, mulai dari pendidikan, kesehatan, hunian yang layak  bahkan ketahanan pangan bagi masyarakat. Meskipun dalam kancah per-kakao-an Indonesia, Kabupaten Jembrana/Bali tidak termasuk dalam urutan 10 besar, tetapi dinamika dan perjalanan menuju komoditi berkelanjutan terutama “catatan dari lapangan” patut diperhitungkan.

 

Produk kakao Indonesia sangat tergantung pada pasar ekspor sehingga -mau tidak mau- industri kakao kita harus beradaptasi dengan semua perkembangan yang terjadi di dunia Internasional. Sejak tingkat kesadaran konsumen meningkat, tuntutan pasar komoditi pertanian mengalami perubahan yang signifikan. Konsumen tidak hanya mengutamakan kualitas yang baik untuk produk yang mereka beli namun juga menuntut perhatian lebih pada sustainability (untuk aspek-aspek ekonomi, sosial dan juga lingkungan) melalui manajemen rantai pasokan. Dengan kondisi demikian, sudah selayaknya para produsen dilibatkan dalam setiap program pengembangan sektor kakao menuju sustainability/berkelanjutan. Tetapi pada kenyataannya, sampai saat ini sektor kakao Indonesia hanya memiliki sebagian kecil produk yang telah bersertifikasi. Berpijak dari kendala tersebut bukan berarti  tidak ada harapan bagiIndonesiauntuk menembus pasar komoditi kakao berkelanjutan.  Atas dasar inisiasi inilah hadir program kakao berkelanjutan atau kakao lestari dalam kerangka sertifikasi. Kerangka sertifikasi ini dipilih sebagai upaya untuk melengkapi/menyempurnakan program-program yang ada selama ini, baik yang di-inisiasi oleh pemerintah, swasta maupun pihak lainnya.

Mulai tahun 2011, Yayasan Kalimajari, bersama dengan Koperasi Kerta Semaya Samaniya dan atas dukungan banyak pihak : Pemrintah Daerah, Provinsi dan Pusat, Indonesia Eximbank, TUV NORD Jerman, OXFAM NOVIB, Bank Indonesia, Agreterra, LWR, Rabobank Foundation dll) dan 582 orang petani dari 35 Subak Abian yang tersebar di  4 kecamatan di Kabupaten Jembrana memulai spirit membangun keberlanjutan komoditi kakao ini melalui sistem penjaminan atau proses sertifikasi. Aspek hulu – hilir menjadi konsentrasi utama program. Selain penguatan di tingkat petani, pranata sosial Subak Abian, dan Koperasi sebagai pemegang sertifikat juga mendapatkan proses penguatan kapasitas, sehingga mampu memberikan nuansa pembelajaran akan proses pemberdayaan menjadi semakin riil dan kuat. Perjalanan program ini, akhirnya mampu mengantarkan posisi Koperasi Kerta Semaya Samaniya sebagai program pertama di Indonesia yang menempatkan lembaga komunitas/petani dalam hal ini koperasi,  sebagai pemegang sertifikat UTZ (certification holder).

Kerja keras dengan tantangan yang tidak mudah. Kalimat ini belum cukup untuk mewakili proses yang harus dibangun dengan segala keterbatasan dan dinamika yang menyertai perjalanan program. Keterbatasan SDM, sumber pendanaan, membangun ICS sebagai sebuah system dan team, proses improvement di tingkat petani (P) dan di tingkat koperasi (C) merupakan sederetan tantangan yang menyertai perjalanan program. Semangat perubahan untuk peningkatan kwantitas, kwalitas biji kakao, proses pemberdayaan kelompok/Subak Abian, membangun sistem penjualan bersama dan harapan adanya peningkatan pendapatan petani atas reward, penghargaan dalam bentuk harga premium, merupakan sederetan motivasi petani untuk mengimplementasikan program kakao berkelanjutan di Kabupaten Jembrana. Hal lain yang tidak kalah penting adalah filosofi dasar dari makna lestari/berkelanjutan dalam kerangka sertifikasi, yang menjadi media gerakan penyadaran akan penting nya komoditi ini tumbuh dan berkembang lestari di Kabupaten Jembrana.

Seiring proses selama ini, banyak dinamika yang menyertai. Tantangan yang paling besar diawal program adalah bagaimana merubah pola pikir petani untuk melakukan perubahan secara bertahap maju. Melalui proses pendampingan dan komunikasi yang intensif dengan berbagai pihak baik pemerintah, swasta, lembaga donor dan komponen lainnya, dampak positif mulai dirasakan oleh petani serta keberadaan koperasi menjadi semakin kuat.

Manfaat untuk petani antara lain peningkatan produktivitas kebun (kwantitas) sebagai dampak positif dari penerapan GAP (Good Agricultural Practices) akibat dari adanya aturan yang ketat dari praktek berkebun yang baik. Data perkembangan yang dapat dicatat dari proses, terdapat kenaikan produksi rata-rata per-pohon  1,8 – 2 kg biji basah dari angka sebelumnya hanya mencapai 1 – 1,5 kg/pohon. Dukungan besar dari berbagai pihak juga telah memberikan semangat petani untuk memperbaiki proses pasca panen.

Manfaat untuk Subak Abian/kelembagaan : terbangun proses penguatan kapasitas kelompok dalam aspek pemasaran. Dalam pelaksanaan program ini, telah dibangun dan disepakati bersama, mekanisme pemasaran langsung dari petani ke koperasi, dengan proses pengolahan di tingkat UPH (Unit Pengolahan Hasil) dimasing-masing Subak Abian. Manfaat riil, rantai pasar menjadi lebih sederhana, sehingga petani/Subak Abian dapat memperoleh harga yang lebih tinggi. Penjualan dilakukan secara kolektif dibawah naungan Subak Abian, sehingga berdampak pada volume yang lebih besar (posisi tawar terhadap harga menjadi lebih kuat). Proses control kwalitas dilakukan secara berjenjang mulai dari petani, Subak Abian, UPH dan koperasi. UPH ini sekarang telah mampu berbuat banyak hal kepada anggotanya. UPH ini dibangun dengan semangat swadaya yang tinggi, tidak berorientasi kepada batasan proyek tetapi bertumpu pada semangat berkelanjutan yang telah mampu terealisasi dengan baik.

Manfaat untuk Koperasi Kertha Semaya Samaniya sebagai pemegang sertifikat : pembenahan manajemen koperasi dilakukan secara bertahap, terencana dengan baik dan telah diatur dengan agenda program yang disusun bersama anggota koperasi (Subak Abian dalam hal ini). Pemenuhan standart-standart yang tertuang dalam COC UTZ Certified dari tahun ke tahun telah menjadi salah satu acuan dalam peningkatan peran koperasi dalam kerangka program certifikasi. Posisi tawar koperasi terhadap harga dan pilihan pasar menjadi lebih kuat. Koperasi tidak bergantung dengan hanya satu pasar. Proses seleksi pasar yang berkomitmen memberikan penghargaan dalam bentuk premi kepada petani, masih terus dan terus diperjuangkan. Koperasi saat ini telah mampu menjadi rujukan untuk tujuan studi komprehensif dari berbagai daerah di Indonesia, yang tentunya mampu memberikan semangat untuk memperbaiki sistem secara berkelanjutan. Prestasi terakhir yang telah diukir oleh Koperasi adalah terpilih dalam 50 besar dunia Cocoa Excellent 2017 dari 166 sample dan 44 negara. Sample dikirim atas nama Bapak I Made Sugandi dan difasilitasi serta diinisiasi penuh oleh KSS. Semangat fermentasi semakin diperkuat dari tahun ke tahun. Kerjasama dengan berbagai buyer berjalan dengan baik, salah satu yang terjalin dalam sebuah konsep kemitraan yang baik adalah dengan Valrhona. Sejak tahun 2015 sampai dengan saat ini telah terjalin kerjasama pemsaran dan telah mengirimkan 2 countainer dengan volume per countainer sebanyak 12,5 ton. Kerjasama ini bukan hanya soal jual dan beli tetapi lebih dari itu. Kemitraan ini lebih pada bagaimana menberikan manfaat kepada kedua belah pihak sehingga dapat berjalan secara berkelanjutan.

 

Membangun komitmen dari semua pihak yang terlibat dalam proses ini adalah tantangan yang paling besar. Komitmen tidak hanya dari petani, tetapi juga dari pemerintah, legislative, swasta, pembeli/pasar dan pihak lainnya untuk bersama memberikan dukungan secara berkelanjutan. Komitmen petani bukan sebagai faktor keberhasilan tunggal, tetapi bagaimana semua pihak dapat berperan maksimal, itulah yang terpenting. Memfasilitasi petani dalam jumlah besar (582) memerlukan dukungan, komitmen dan kordinasi yang tidak mudah.

 

Dari sisi kelembagaan : proses pemberdayaan kelembagaan/Subak Abian dari fungsi awalnya hanya sebagai fungsi sosio religi menjadi proses pemberdayaan ekonomi produktif juga menjadi catatan tantangan tersendiri. Perubahan harus dilakukan secara bertahap dan tidak bertentangan dengan nilai-nilai luhur yang telah terbangun dalam sistem keorganisasian subak. Namun dengan sistem komunikasi dan ikatan yang telah mengakar dalam kelembagaan Subak, telah mampu menjadi media komunikasi yang efektif dalam menjalankan program ini.  Sistem Paruman (rapat rutin) masing-masing Subak telah mampu menjadi media yang efektif untuk mengkomunikasikan program sertifikasi kakao berkelanjutan secara efektif.

 

Tantangan untuk menjaga kualitas dan kebersamaan yang telah terbangun selama 6 tahun. Koperasi Kerta Semaya Samaniya pernah memiliki catatan buruk terkait dengan perkembangannya. Koperasi yang telah berdiri 2006 dan akhirnya berhenti beraktivitas di tahun 2010. Yayasan Kalimajari datang dengan spirit berkelanjutan, akhirnya membangun komitmen untuk membangun kembali dan memberdayakan koperasi yang telah ada. Tidak mudah….dan bahkan sangat berat untuk membangun kembali kepercayaan petani yang sudah lama punah akan sebuah menajemen yang transparan dan dibangun oleh orang-orang yang kredible. Namun inilah tantangan….Kalimajari bersama dengan berbagai pihak mendorong untuk tumbuhnya lembaga ini menjadi semain kuat. Dari hanya 11 subak abian di tahun 2011 dan kini sudah berkembang mjd 35 subak abian yang menjadi anggota koperasi.

Proses perbaikan dan penyempurnaan tiada henti untuk dilakukan. Aspek hulu – hilir yang telah dibangun senantiasa menjadi bahan evaluasi untuk perbaikan.  Proses pembelajaran yang telah dipetik dalam perjalanan program, semaksimal mungkin dapat dibagi kepada petani lain untuk semakin banyak menemukan local champion yang akan menjadi agen perubahan bagi petani lainnya. Inovasi, improvisasi dan kreatifitas pendamping dalam menterjemahkan prinsip-prinsip dasar Code Of Conduct dari UTZ Certified, Organic USDA dan EU yang cenderung dalam bahasa langit/tinggi harus mampu diterjemahkan, diterima dan diimplementasikan dalam bahasa yang lebih membumi oleh petani.

Koperasi dengan segala plus/minus citranya di Indonesia, harus diberdayakan sebagai lembaga milik komunitas. Dalam konteks program sertifikasi kakao berkelanjutan, koperasi harus di dukung, diperkuat dan dikembangkan guna mampu memberikan yang terbaik kepada anggotanya atas segala perubahan, perbaikan dan perjuangan yang telah dilakukan petani. Segala dinamika yang telah dibangun oleh petani kakao di Kabupaten Jembrana bersama Koperasi Kertha Semaya Samaniya dan Yayasan kalimajari sebagai pendamping serta dukungan intensif dari pihak lainnya, telah menjadi bukti bahwa petani dapat membangun proses sertifikasi berkelanjutan dengan semangat perubahan, kemandirian dan kebersamaan. Kalimajari sadar bahwa ini tidak mudah, namun 6 tahun berproses bersama-sama dengan para pihak khususnya petani, telah mampu membuktikan bahwa ketika didampingi secara intens, semua akan menunjukkan perubahan ke arah yang lebih baik. Dan Jembrana dengan segala seluk beluk proses selama 6 tahun telah mampu membuktikan bahwa smallholder/petani mampu menunjukkan kemampuan gemilang yang mereka miliki.

Semua proses ini juga sebagai bentuk perjuangan, komitmen dan konsistensi dari Yayasan Kalimajari sebagai NGO local Bali yang ingin menunjukkan kepada publik bahwa Bali memiliki potensi lokal komoditi pertanian yang patut dibanggakan. Sekali lagi ini bukan hanya soal jual dan beli tetapi soal perjuangan untuk mengibarkan bendera merah putih, tentang kualitas kakao yang mampu bersaing di kancah global. Semoga Kalimajari mampu memegang mandat ini bersama dengan para pejuang kakao di Jembrana.

Anggota subak abian saat ini adalah 609 orang petani kakao dan tergabung ke dalam 38 subak abian/Kelompok tani. Pengiriman ke Valrhona Perancis sudah dilaksanakan sebanyak 4 kali mulai dari tahun 2014, 2015, 2016 dan 2017, dalam setiap tahunnya sebesar 12,5 ton/1 container 20 feet. (AW)


Bagikan Artikel Ini