DIREKTORAT JENDERAL PERKEBUNAN
KEMENTERIAN PERTANIAN

Suka Duka Pengembangan Tanaman Tebu

Diposting     Kamis, 19 Februari 2026 01:02 pm    Oleh    ditjenbun



Sebuah catatan dari Desa Pegongsoran, Kecamatan Pemalang

Hujan deras mengguyur lahan tebu di Desa Pegongsoran, Kecamatan Pemalang, pada Kamis sore tanggal 19 Februari 2026. Meski cuaca tidak bersahabat, semangat petani tetap membara. Mereka menyambut hangat kedatangan Sekretais Direktorat Jenderal Perkebunan yang datang untuk meninjau kondisi lahan dan berbagi cerita tentang suka duka pengembangan tanaman tebu di Kabupaten Pemalang.

SUKA: Kehangatan dan Harapan

Pak Sutrisno, seorang petani tebu yang sudah menggarap lahannya selama lebih dari 20 tahun, bercerita dengan penuh semangat. “Alhamdulillah, kondisi tanah di sini sangat cocok untuk tebu. Tanahnya subur, airnya melimpah, dan cuacanya mendukung,” katanya sambil menunjukkan tanaman tebunya yang sudah setinggi pinggang.

Dukungan dari pemerintah daerah menjadi salah satu sumber kebahagiaan para petani. Program pendampingan teknis yang dilakukan secara rutin memberikan wawasan baru tentang teknik budidaya modern. Bibit unggul yang dibagikan juga membantu meningkatkan produktivitas lahan.

“Kami sangat bersyukur ada perhatian dari pemerintah. Kunjungan seperti ini membuat kami merasa dihargai dan termotivasi untuk terus mengembangkan tanaman tebu.”

— Pak Sutrisno, Petani Tebu Pegongsoran

Komunitas petani tebu di Pegongsoran juga sangat solid. Mereka saling membantu saat musim tanam dan panen. Tradisi gotong royong masih terjaga dengan baik, menciptakan ikatan sosial yang kuat di antara para petani.

DUKA: Tantangan yang Harus Dihadapi

Namun di balik kehangatan tersebut, ada kisah pilu yang kerap dialami para petani. Perubahan iklim menjadi momok yang paling ditakuti. Musim hujan yang berkepanjangan seperti saat ini bisa menghambat pertumbuhan tebu yang membutuhkan sinar matahari yang cukup.

“Tahun lalu, kami mengalami gagal panen karena hujan terus-menerus selama dua bulan. Penyakit karat daun menyerang hampir seluruh lahan. Itu sangat menyakitkan,” kenang Pak Sutrisno dengan nada sedih.

“Harga yang tidak stabil juga menjadi beban tersendiri. Kadang panen melimpah tapi harga anjlok. Kadang harga bagus tapi hasil panen sedikit karena cuaca buruk.”

— Petani Tebu Pegongsoran

Akses pupuk yang terbatas dan harganya yang cenderung mahal juga menjadi kendala. Tidak semua petani memiliki modal yang cukup untuk membeli pupuk berkualitas. Beberapa dari mereka masih mengandalkan pupuk organik tradisional yang hasilnya tidak seoptimal pupuk kimia.

Harapan untuk Masa Depan

Meski menghadapi berbagai tantangan, para petani tebu di Pegongsoran tetap optimis. Mereka berharap ada program asuransi pertanian yang bisa melindungi dari risiko gagal panen. Juga ada bantuan mesin pertanian modern untuk mengurangi ketergantungan pada tenaga kerja manual.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Pemalang yang ikut dalam kunjungan ini menegaskan komitmen pemerintah daerah. “Kami akan terus mendampingi petani. Program-program pembinaan akan terus kami tingkatkan. Kami juga sedang mengupayakan kerja sama dengan pabrik gula untuk menjamin stabilitas harga,” ujarnya.

“Kami percaya, dengan kerja sama yang baik antara petani, pemerintah, dan pihak terkait lainnya, tebu Pemalang bisa menjadi yang terbaik. Kami siap berjuang!”

— Petani Tebu Pegongsoran

Saat hujan mulai mereda dan langit mulai cerah, kunjungan pun berakhir. Namun semangat para petani tetap menyala. Mereka kembali ke lahan masing-masing dengan harapan baru. Suka dan duka memang bagian dari perjalanan, tapi keyakinan untuk terus bertani tebu tidak akan pernah pudar.

Pegongsoran, dengan lahan tebunya yang hijau, tetap menjadi saksi bisu perjuangan para petani yang setia mengabdikan diri untuk mengembangkan komoditas andalan Kabupaten Pemalang ini. Semoga suka mereka bertambah dan duka mereka berkurang di masa yang akan datang.


Bagikan Artikel Ini