KEMENTERIAN PERTANIAN
DIREKTORAT JENDERAL PERKEBUNAN

Semangat Petani Gunung Kidul Dalam Menerapkan PHT Tanaman Kakao

Diposting     Kamis, 09 September 2021 07:09 pm    Oleh    ditjenbun



Sektor perkebunan khususnya komoditas kakao hingga kini masih menjadi primadona di Kabupaten Gunung Kidul. Pengembangan usaha tani kakao di Kabupaten Gunung Kidul sangat gencar dilakukan oleh pemerintah melalui dinas terkait. Usahatani yang telah berlangsung selama kurang lebih 20 tahun memberikan prospek dan peluang yang baik untuk dikembangkan, akan tetapi masih ada banyak permasalahan yang terjadi misalnya pengetahuan petani yang masih kurang, keterbatasan modal, lahan garapan yang sempit dan pemakaian sarana/faktor produksi yang kurang sesuai.

Produktivitas kakao rata-rata di Provinsi D.I. Yogyakarta mencapai 555 kg/ha/tahun. Hal ini masih di bawah produksi nasional yang mencapai 731 kg/ha/tahun. Rendahnya produktivitas kakao di Provinsi D.I. Yogyakarta antara lain disebabkan oleh serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT). OPT yang menyerang pada pertanaman kakao di Desa Tambakromo, Kecamatan Ponjong, Kabupaten Gunung Kidul yaitu penyakit busuk buah kakao dan hama tupai. Petani kakao masih kesulitan mengendalikan OPT tersebut.

Intensitas hujan yang tinggi menyebabkan kelembaban meningkat dan berkembangnya penyakit busuk buah kakao yang disebabkan oleh jamur Phytophthora palmivora. Jamur P. palmivora dapat menyerang kakao mulai dari pembibitan hingga tanaman menghasilkan (TM). Intensitas serangan P. palmivora dapat mencapai 85 % pada daerah-daerah yang mempunyai curah hujan tinggi. Serangan P. palmivora mengakibatkan kehilangan hasil kakao di Indonesia sebesar 15 s.d 53 %. Serangan tupai di kebun kakao Desa Tambakromo juga tinggi hal ini karena sebagian besar tanaman kakao tumpangsari dengan tanaman kelapa dan kurang menjaga sanitasi kebun, sehingga selalu tersedia sumber makanan bagi tupai.

Mengingat rendahnya produktivitas kakao di Provinsi D.I. Yogyakarta akibat serangan OPT, sebagai wujud perhatian pemerintah terhadap kakao di Kabupaten Gunung Kidul, pada tahun 2021 dialokasikan dana APBN Tugas Pembantuan kegiatan Penerapan Pengendalian Hama Terpadu (PHT) di Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi D.I. Yogyakarta. Kegiatan tersebut dilaksanakan di kelompok tani Banyu Mulyo di Desa Tambakromo, Kecamatan Ponjong, Kabupaten Gunung Kidul seluas 25 ha. Kegiatan penerapan PHT OPT tanaman kakao bertujuan untuk membantu/mendorong pekebun agar menerapkan PHT di kebunnya, sehingga dapat dilakukan secara mandiri dan berkelanjutan, serta memberdayakan pekebun untuk memperbanyak bahan pengendali OPT secara mandiri.

Kegiatan penerapan PHT OPT tanaman kakao dilakukan sebanyak 6 (enam) kali pertemuan dengan interval ± 1 minggu. Pertemuan pertama yakni sosialisasi kegiatan dan pembagian sub kelompok. Pertemuan kedua hingga kelima, petani peserta kegiatan dibimbing oleh petugas lapangan melakukan pengamatan serangan OPT/identifikasi jenis OPT, diskusi kelompok/sub kelompok terkait hasil pengamatan serangan OPT dan pengambilan keputusan pengendalian OPT dengan menerapkan prinsip PHT, praktek pembuatan Metabolit Sekunder Agensia Pengendali Hayati (MS APH) dan pupuk kompos, pengendalian OPT dan pertemuan ke-6 yakni temu lapang (field day). Selama pelaksanaan kegiatan penerapan PHT OPT tanaman kakao berlangsung, petugas dinas dan petani peserta tetap menjaga protokol pandemi Covid-19, seperti: melakukan physical distancing, memakai masker, mencuci tangan dengan sabun serta menggunakan hand sanitizer.

Dalam rangka untuk mengetahui perkembangan pelaksanaan kegiatan penerapan PHT OPT tanaman kakao, pada tanggal 31 Maret 2021 telah dilakukan pengawalan dan pembinaan agar pelaksanaan kegiatan sesuai dengan Pedoman Teknis Area Penanganan OPT Tanaman Perkebunan tahun 2021 yang telah diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Perkebunan. Koordinator Kelompok Pengendalian OPT Tanaman Tahunan dan Penyegar berharap penerapan PHT OPT tanaman kakao dilakukan secara berkelanjutan sehingga luas areal terserang OPT menurun, dan petani dapat secara mandiri tahu, mampu dan mau mengimplementasikan pengendalian agar produktivitas kakao meningkat.

Kegiatan penerapan PHT OPT tanaman kakao diawali dengan sosialisasi yang telah dilaksanakan pada tanggal 6 April 2021 di Desa Tambakromo, Kecamatan Ponjong dan dihadiri oleh pelaksana kegiatan dari Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi D.I. Yogyakarta, petugas lapangan Kabupaten Gunung Kidul, aparat Desa Tambakromo, dan petani peserta kegiatan penerapan PHT. Pada tanggal 7 April 2021, perwakilan kelompok tani menerima alat untuk praktek pembuatan Metabolit Sekunder Agensia Pengendali Hayati (MS APH) berupa alat pengocok (shaker), kompor dan perlengkapannya.

Kelompok tani didampingi oleh petugas lapangan melakukan pengamatan serangan OPT sebelum dan setelah dilakukan pengendalian untuk mengetahui keberhasilan pengendalian OPT. Pengamatan serangan OPT, diskusi terkait hasil pengamatan serangan OPT dan pengambilan keputusan pengendalian OPT telah dilaksanakan pada tanggal 4 Mei 2021 di kebun praktek dan aula Desa Tambakromo.

Praktek pembuatan MS APH dilaksanakan pada tanggal 9 Mei 2021 di aula Desa Tambakromo. Praktek pembuatan MS APH menjadi hal baru bagi petani peserta kegiatan penerapan PHT dan petani semangat dalam membuatnya. MS APH yang mengandung Beauveria bassiana, Metarhizium sp. dan Trichoderma sp. digunakan sebagai bahan pengendali OPT. Berbeda dengan pestisida kimiawi, MS APH tidak langsung terlihat hasilnya, sehingga petani diharapkan rajin dan tekun dalam mengaplikasikan MS APH dan melakukan pengamatan. Namun demikian, penggunaan MS APH secara rutin mampu melindungi tanaman terhadap serangan OPT dan pertumbuhan tanaman menjadi lebih baik.

Pada tanggal 31 Mei 2021 petani didampingi oleh petugas lapangan praktek pembuatan pupuk bokashi dengan memanfaatkan sumber daya yang ada di sekitar tempat tinggal dan kebun kakao. Hal ini menjadi pengalaman berharga bagi petani kakao Tambakromo karena selama ini kesulitan untuk melakukan pemupukan tanaman kakao karena pupuk khusus kakao bersubsidi belum tersedia di daerahnya, sedangkan pupuk NPK harganya cukup mahal. Dengan demikian diharapkan petani kakao menjadi lebih kreatif dan tetap dapat melakukan pemupukan secara intensif pada tanaman kakaonya agar dapat berproduksi optimal.

Petani kakao di Desa Tambakromo bersemangat melakukan pengendalian OPT secara PHT dengan memadukan komponen pengendalian yang kompatibel, yaitu Panen sering, Pemangkasan, Sanitasi dan Pemupukan atau yang biasa dikenal dengan sebutan PsPSP pada tanggal 8 Juni 2021. Teknologi PsPSP dipadukan dengan aplikasi MS APH. Panen sering yang dilakukan seminggu sekali dapat memutus siklus hidup hama penggerek buah kakao (Conopomorpha cramerella), karena larva yang masih berada di dalam buah ikut terpanen sehingga tidak sempat berkepompong. Pemangkasan bertujuan agar sinar matahari dapat masuk ke dalam kebun, sehingga tidak sesuai untuk perkembangan OPT. Sanitasi kebun bertujuan untuk membersihkan kebun dari sisa-sisa tanaman. Pada kebun kakao masih dijumpai buah terserang penyakit BBK tetap dibiarkan menggantung sampai warnanya berubah menjadi hitam. Hal ini akan menjadi sumber penularan bagi buah kakao sehat karena pada suhu dan kelembaban yang mendukung, spora jamur P. palmivora akan berkecambah. Dengan melakukan sanitasi kebun dan menimbun kulit buah dan semua sisa-sisa panen, terutama yang terserang OPT ke dalam lubang sanitasi segera setelah panen, sehingga persentase buah terserang penyakit busuk buah kakao menurun.

Berdasarkan hasil diskusi dengan petani dan petugas Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi DIY, hasil aplikasi metabolit sekunder tersebut tidak langsung terlihat, namun perlahan-lahan tanaman menunjukkan pertumbuhan yang cukup baik. Hal ini karena aplikasi metabolit sekunder dapat menjangkau keberadaan jamur patogen di dalam jaringan tanaman. Kandungan di dalam metabolit sekunder APH selain toksin juga terdapat hormon yang berperan dalam pertumbuhan dan produksi tanaman. Kelompok tani Banyu Mulyo merasakan manfaat pengendalian OPT tanaman kakao di kebunnya, dan mereka akan tetap melanjutkan pengendalian OPT secara berkelanjutan, sehingga produksi kakao dan mutu kakao menjadi lebih baik dan kesejahteraan petani meningkat.

Field day dilaksanakan pada tanggal 22 Juni dengan mengundang petani sekitar yang tidak terlibat langsung atau bukan anggota kelompok tani yang terdaftar sebagai petani yang mengikuti PPHT OPT kakao di wilayah tersebut, untuk melihat pembuatan MS APH sebagai bahan pengendalian OPT, pupuk bokashi buatan kelompok tani Banyu Mulyo dan kondisi kebun lokasi kegiatan penerapan PHT sebagai kebun kakao percontohan sehingga dapat ditiru oleh petani lainnya.

Penyusun: Yuni Astuti, Ratri Wibawanti dan Andi Asjayani.

Pustaka:

Anonymous. 2016. Rekomendasi Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) Kakao Tahun 2016. Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia. Jember.

UPTD Balai Proteksi Tanaman Pertanian. Dokumentasi Kegiatan Penerapan Pengendalian Hama Terpadu Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) Tanaman Kakao di Kabupaten Gunung Kidul Tahun 2021. Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi D.I. Yogyakarta.

Direktorat Perlindungan Perkebunan. Pedoman Teknis Tahun 2021 “Area Penanganan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) Tanaman Perkebunan”. Direktorat Jenderal Perkebunan. Kementerian Pertanian. Jakarta.

Maryani, Y. dan Cucu, D. 2019. Hama dan Penyakit Tanaman Kakao. Direktorat Jenderal Perkebunan. Kementerian Pertanian. Jakarta.

Soesanto L. 2010. Metabolit Sekunder Agensia Pengendali Hayati : Terobosan Baru Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman Perkebunan. Universitas Jenderal Soedirman. Purwokerto.


Bagikan Artikel Ini  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *