KEMENTERIAN PERTANIAN
DIREKTORAT JENDERAL PERKEBUNAN

PENGENDALIAN TERPADU PENYAKIT KUNING PADA TANAMAN LADA

Diposting     Selasa, 24 Agustus 2021 02:08 pm    Oleh    ditjenbun



Penyakit kuning merupakan penyakit penting pada tanaman lada. Penyakit ini sering dijumpai di hampir semua daerah sentra lada di Indonesia. Penyebarannya yang cepat menyebabkan tanaman merana.

Penyebab
Penyakit ini disebabkan oleh nematoda Radopholus similis dan Meloidogyne incognita. Meskipun di beberapa kasus, penyakit ini sering terjadi karena penyebab yang komplek termasuk keadaan lingkungan dan cara budidaya yang kurang baik.

Gambar 1.a. Pengamatan dibawah Mikroskop: Radopholus Similis Betina (Sekora and Crow, 2012); dan b. Meloidogune Incognita Betina
(Kaur, 2016)

Gejala
Nematoda R. Similis menimbulkan gejala berupa bintik-bintik coklat pada akar akibat tusukan menggunakan stiletnya. Sedangkan gejala yang ditimbulkan oleh M. incognita berupa benjolan (puru) pada akar, baik benjolan bersusun maupun benjolan tunggal. Terkadang disekitar benjolan terdapat lendir yang dikeluarkan oleh nematoda betina pada masa bertelur.
Kerusakan akar yang ditimbulkannya dapat menyebabkan terhambatnya transportasi unsur hara, sehingga tanaman nampak kuning disertai daun-daun yang kaku menekuk ke dalam. Kerusakan tanaman seringkali diperparah oleh Fusarium spp. dan jamur lain seperti Phytium spp., serta Rigodoporus lignosus yang memanfaatkan bekas luka oleh nematoda sebagai jalan penetrasi.
Kerusakan parah menyebabkan daun-daun berguguran, bahkan tinggal tersisa batang dan ranting berwarna coklat. Menurut Semangun (2008), nematoda R. similis betina meletakan telur satu-satu di dalam akar. Setelah beberapa hari, telur menetas menjadi larva dan keluar dari akar untuk berkembang menjadi nematoda dewasa dalam waktu sekitar 4-5 minggu. Jika akar telah rusak, nematoda betina keluar dari akar dan berpindah ke jaringan akar pada tanaman sehat di sekitarnya. Sedangkan M. incognita betina yang mengandung telur berbentuk bulat seperti buah pir dan mampu menghasilkan telur sekitar 24-112 butir per hari, bahkan dapat mencapai 800-3000 telur semasa hidup betina.
Larva telah menetas umunya berada di dekat induknya, sehingga menimbulkan benjolan (puru) pada akar secara bersusun. Setelah jaringan akar rusak, nematoda berpindah ke akar tanaman sehat di sekitarnya. Proses perpindahan (migrasi) R. Similis dan M. Incognita dari tanaman satu ke tanaman lainnya sering terbantu oleh aliran air dan kondisi tanah yang tergenang. Bekas tusukan pada akar sering menjadi jalan infeksi Fusarium spp. dan berkembang mengoloni akar tanaman.

Gambar 2.a. Gejala pada akar akibat R. Similis; b. Gejala Akibat M. Incognita (Malik dan Nurmalita, 2020)
Gambar 3.a. Gejala Penyakit Kuning pada Tanaman Lada
(dokumentasi pribadi)

Pengendalian
Pengendalian secara terpadu adalah pengendalian terbaik, yaitu menggabungkan beberapa cara pengendalian antara lain:

  1. Secara Kultur Teknis
    • Penggunaan varietas tahan/toleran (misalnya petaling 1, petaling 2, Lampung daun kecil, natar 1, dan natar 2).
    • Penggunaan bibit sehat bersertifikat.
    • Pengeloalaan drainase yang baik. Drainase yang baik dapat mencegah penularan penyakit akibat serangan nematoda yang bermigrasi dari tanaman sakit ke tanaman sehat.
    • Pemupukan berimbang sesuai keadaan tanaman
    • Penanaman tanaman penutup tanah dan tanaman antagonis. Tanaman penutup tanah (cover crops) biasanya ditanam di sekitar piringan sebagai habitat musuh alami atau mikroba bermanfaat di sekitar perakaran. Sedangkan tanaman antagonis berfungsi menghambat patogen sekunder (Fusarium spp.) melalui eksudat akar yang dikeluarkannya, sehingga keparahan penyakit dapat ditekan.
  2. Secara Mekanis
    Membongkar dan memusnahkan sumber-sumber infeksi, termasuk membongkar tanaman yang sudah parah dan membuang dan memusnahkannya.
  3. Secara Hayati/nabati
    • Pemberian agens pengendai hayati (antara lain jamur nematofagus Arthrobotrys spp. untuk mengendalikan nematoda, Trichoderma spp. dan Pseudomonas fluorescens untuk mengendalikan Fusarium spp.) pada tanaman terinfeksi ringan-sedang di sekitar perakaran atau diperlakukan pada bibit dan lubang tanam sebelum dilakukan penanaman sebagai tindakan pencegahan.
    • Pemberian metabolit sekunder agen hayati dengan cara infus akar dan atau penyiraman pada daerah perakaran.
    • Pemberian agen hayati atau metabolit sekunder disertai pemberian pupuk organik yang mengandung unsur Fosfor (P), Kalium (K), dan sedikit Nitrogen (N) dapat memberikan hasil yang lebih baik untuk pemulihan tanaman.
    • Pemberian nematisida nabati berupa ekstrak biji pinang untuk mengendalikan nematoda patogen, dan ekstrak/rendaman daun tembakau dan bawang putih untuk mengendalikan nematoda dan Fusarium spp.
  4. Secara Kimia
    Pemberian nematisida berbahan aktif karbofuran atau karbosulfan; dan fungisida kimia antara lain berbahan aktif metiram, piraklostrobin, atau mankozeb di sekitar perakaran tanaman terinfeksi atau pada lubang tanam bekas tanaman yang dibongkar sebelum replanting sebagai tindakan pencegahan.

PUSTAKA
Kaur, S., Santokh Singh Kang, Narpinderjeet Kaur Dhillon, and Abhishek Sharma (2016) “Detection and Characterization of Meloidogyne Species Associated with Pepper In Indian Punjab” NEMATROPICA, 6(2), pp. 209-219.

Malik, A. F. dan Tiara Dwi Nurmalita (2020) “Gejala Akibat Meloidogyne incognita pada Tanaman Lada” Foto Kegiatan Balai Proteksi Tanaman Perkebunan Pontianak.

Sekora, S. N. and William Crow (2012) “Burrowing Nematode; Radopholus similis” (on line) https://entnemdept.ufl.edu/creatures/NEMATODE/ Radopholus_similis.htm. Diakses tanggal 28 April 2021.

Semangun, H. (2008) “Penyakit-penyakit Tanaman Perkebunan di Indonesia,” Yogyakartag: Gadjah Mada University Press.


Bagikan Artikel Ini  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *