DIREKTORAT JENDERAL PERKEBUNAN
KEMENTERIAN PERTANIAN

Hilirisasi Perkebunan : Senjata Pamungkas Menuju Petani Sejahtera

Diposting     Rabu, 01 Oktober 2025 02:10 pm    Oleh    ditjenbun



Jakarta – Kementerian Pertanian (Kementan) gencarkan berbagai langkah strategis demi mensejahterakan petani Indonesia, salah satunya dengan mendorong hilirisasi perkebunan nasional. Program ini tidak hanya menargetkan peningkatan nilai tambah produk perkebunan, tetapi juga sekaligus mengajak generasi muda terjun langsung ke dunia usaha perkebunan yang menjanjikan.

Sebelumnya, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyatakan bahwa subsektor perkebunan ini memiliki potensi ekonomi luar biasa jika dikelola secara terintegrasi dari hulu hingga hilir.

“Kita tidak lagi menjual bahan mentah. Saatnya petani kita jadi pengusaha. Kita dorong hilirisasi kopi, kakao, lada, pala, kelapa, tebu, jambu mete, sawit, hingga gambir. Manfaat nilai tambah harus tinggal di desa, manfaat positifnya maupun keuntungannya bisa dirasakan petani kita, bangsa kita, bukan dibawa ke luar negeri,” tegas Mentan Amran.

Potensi Perkebunan Bernilai Ratusan Triliun
Tak dapat dipungkiri, Indonesia merupakan salah satu negara penghasil komoditas perkebunan terbesar dunia. Namun, selama ini sebagian besar produk hanya diekspor dalam bentuk mentah dengan nilai jual rendah. Melalui program hilirisasi ini, pemerintah mendorong industri pengolahan kopi menjadi produk specialty, kakao menjadi cokelat premium, lada dan pala sebagai bumbu olahan siap saji, hingga kelapa dan sawit sebagai bahan baku industri kosmetik dan bioenergi, serta produk turunan komoditas perkebunan lainnya. Komoditas perkebunan ini jika diolah jadi produk bubuk atau produk turunan lainnya dengan brand lokal nilainya bisa naik 3 sampai 5 kali lipat.

Indonesia Menuju Raja Hilirisasi Perkebunan Asia
Dengan semangat kolaborasi, hilirisasi perkebunan bukan sekadar wacana, tetapi langkah nyata untuk menjadikan Indonesia sebagai pusat industri berbasis perkebunan berkelanjutan di Asia.

Kementan juga menggandeng berbagai pihak, bersinergi memperkuat hilirisasi perkebunan, baik Kementerian/Lembaga terkait, BUMN, swasta, hingga investor lokal untuk memperkuat rantai pasok, membuka pabrik mini di sentra produksi, serta memperluas akses pasar dalam maupun luar negeri.

Plt. Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, Abdul Roni Angkat, menegaskan bahwa program hilirisasi menjadi salah satu upaya konkret pemerintah dalam memperkuat rantai nilai sektor perkebunan dari hulu hingga hilir. Melalui pendekatan ini, Kementan memfokuskan pengembangan hilirisasi pada tujuh komoditas strategis, yakni tebu, kelapa, kopi, kakao, jambu mete, lada, dan pala. Langkah ini dinilai penting untuk meningkatkan nilai tambah produk perkebunan sekaligus mendorong daya saing petani di pasar domestik maupun global. Untuk mendukunh hilirisasi Kementan mendorong pembiayaan melalui Anggaran Biaya Tambahan (ABT).

Selain melalui ABT, Kementan juga mengalokasikan anggaran untuk kegiatan reguler dan refocusing. Berbagai kegiatan tersebut mencakup penyediaan benih unggul, pupuk, bantuan operasional pekebun, pendampingan teknis, penguatan kelembagaan petani, hingga dukungan sarana dan prasarana produksi.

Roni optimistis, dukungan ini akan mendorong peningkatan produktivitas dan kemandirian petani. “Harapannya, kontribusi sektor perkebunan terhadap perekonomian daerah bisa terus tumbuh signifikan,” ujarnya.

“Kita tak boleh puas jadi lumbung dunia. Kita harus jadi dapur dunia, tempat produk olahan berkualitas tinggi berasal. Dan kita mulai sekarang,” pungkas Roni.

Petani Jadi Pengusaha, Anak Muda Jadi Motor Inovasi
Tak hanya berfokus pada nilai ekonomi, Kementan juga menargetkan regenerasi pelaku usaha perkebunan. Pemerintah terus berupaya membina dan mendorong usaha tani, penguatan UMKM berbasis desa, dan inkubasi bisnis untuk petani milenial.

“Kita ingin anak muda jadi CEO usaha kopi, pelaku ekspor pala, atau inovator cokelat artisan. Hilirisasi ini adalah peluang emas untuk wirausaha muda,” harap Roni.


Bagikan Artikel Ini