Cuaca Tak Menentu, Kementan Perkuat Langkah Lindungi Produktivitas Perkebunan
Diposting Jumat, 16 Oktober 2026 04:10 pmJAKARTA – Hadapi cuaca tak menentu, Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Direktorat Jenderal Perkebunan sigap menyiapkan langkah mitigasi dampak cuaca terhadap komoditas perkebunan. Memasuki bulan Oktober 2026, berbagai upaya dilakukan untuk mengantisipasi potensi penurunan produktivitas akibat kondisi curah hujan yang bervariasi di sejumlah wilayah Indonesia.
Langkah mitigasi disusun dengan mempertimbangkan prakiraan curah hujan, karakteristik komoditas, serta kondisi dan fase pertumbuhan tanaman. Pada wilayah dengan curah hujan rendah, perhatian diarahkan pada upaya menjaga ketersediaan air dan kelembapan tanah. Sementara itu, wilayah dengan curah hujan tinggi perlu mengantisipasi genangan, gangguan akses panen, erosi, serta peningkatan risiko organisme pengganggu tumbuhan (OPT).
Pelaksana Tugas (Plt.) Direktur Jenderal Perkebunan, Heru Tri Widarto, mengatakan bahwa kesiapsiagaan dan penanganan sesuai kondisi lapangan menjadi kunci untuk mengurangi risiko dampak cuaca terhadap sektor perkebunan.
“Mitigasi perlu dilakukan sejak dini dan disesuaikan dengan kondisi masing-masing wilayah serta kebutuhan komoditas. Kami mendorong petani dan seluruh pemangku kepentingan untuk meningkatkan kewaspadaan, melakukan pemantauan rutin, serta menerapkan langkah adaptasi agar produktivitas perkebunan tetap terjaga,” ujar Heru.
Pada wilayah dengan curah hujan rendah, mitigasi dilakukan melalui penggunaan mulsa dan bahan organik, pemeliharaan penutup tanah, konservasi tanah dan air, serta pemanfaatan rorak atau sarana penampungan air. Penyediaan air perlu diprioritaskan bagi tanaman muda yang rentan mengalami cekaman kekeringan. Langkah ini relevan bagi komoditas seperti kelapa sawit, karet, kopi, kakao, kelapa, dan lada.
Khusus pada tanaman tebu, pengelolaan air perlu disesuaikan dengan fase pertumbuhan. Tanaman yang masih aktif tumbuh dapat memperoleh pengairan tambahan secara efisien apabila tersedia, sedangkan pada fase pemasakan, pemberian air berlebih perlu dihindari dan jadwal tebang disesuaikan dengan kondisi tanaman.
Sementara itu, di wilayah dengan curah hujan tinggi, upaya mitigasi mencakup perbaikan dan pemeliharaan drainase, pencegahan genangan, pemangkasan tajuk untuk menjaga sirkulasi udara, serta sanitasi kebun dan pemantauan penyakit tanaman. Pada komoditas karet, kegiatan penyadapan perlu disesuaikan dengan kondisi hujan, sedangkan pada kopi dan kakao, penanganan diarahkan untuk menekan risiko penyakit daun dan buah.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, dalam kesempatan berbeda, menegaskan pentingnya langkah antisipatif untuk menjaga keberlanjutan produksi pertanian, termasuk subsektor perkebunan.
“Pemerintah terus mendorong upaya antisipasi terhadap berbagai risiko yang dapat mengganggu produksi. Pendampingan kepada petani, penguatan koordinasi, dan penerapan langkah penanganan sesuai kondisi di lapangan harus terus dilakukan agar produktivitas tetap terjaga dan kesejahteraan petani semakin meningkat,” ujar Amran.
Kementan juga mendorong pemerintah daerah, penyuluh, petugas perlindungan tanaman, dan pekebun untuk meningkatkan koordinasi serta memantau perkembangan cuaca dan kondisi tanaman secara berkala. Melalui mitigasi yang tepat sasaran selama Oktober 2026, risiko kerugian akibat kondisi cuaca diharapkan dapat ditekan sehingga keberlanjutan usaha perkebunan dan ketersediaan bahan baku tetap terjaga.
DIREKTORAT JENDERAL PERKEBUNAN