Hilirisasi Perkebunan, Kementan Dorong Nilai Tambah dan Kesejahteraan Petani
Diposting Selasa, 10 Februari 2026 09:02 am
Jakarta — Kementerian Pertanian (Kementan) terus memperkuat hilirisasi komoditas perkebunan sebagai strategi meningkatkan nilai tambah, daya saing, dan kesejahteraan petani. Kebijakan ini diarahkan untuk menggeser pola produksi dari penjualan bahan mentah menuju pengolahan produk bernilai tambah tinggi yang mampu menyerap tenaga kerja, meningkatkan ekspor, serta menekan ketergantungan impor.
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan, hilirisasi menjadi kunci transformasi sektor pertanian nasional. Indonesia, kata dia, tidak boleh terus bergantung pada ekspor bahan baku dengan nilai ekonomi rendah.
“Melalui hilirisasi, komoditas perkebunan tidak hanya berhenti sebagai bahan mentah, tetapi diolah menjadi produk bernilai tambah tinggi. Ini akan membuka lapangan kerja, meningkatkan ekspor, serta memperkuat devisa negara,” ujar Mentan Amran.
Ia menambahkan, penguatan hilirisasi sejalan dengan upaya pemerintah menurunkan kemiskinan, memperbaiki distribusi pendapatan, dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Untuk itu, Kementan mendorong kolaborasi lintas sektor, termasuk dengan BUMN pangan dan pelaku industri, guna membangun ekosistem hilirisasi yang berkelanjutan.
Sejalan dengan arahan tersebut, Direktorat Jenderal Perkebunan memperkuat dukungan dari sisi hulu melalui peningkatan produktivitas, peremajaan, perluasan, dan rehabilitasi tanaman perkebunan di berbagai daerah.
Pelaksana Tugas (plt) Direktur Jenderal Perkebunan Abdul Roni Angkat mengatakan, program hilirisasi didukung alokasi APBN yang difokuskan pada penguatan bahan baku industri serta peningkatan produksi komoditas prioritas.
“Ditjen Perkebunan menyiapkan pasokan bahan baku berkelanjutan melalui peningkatan produktivitas dan pengembangan kawasan. Fokus kami pada peremajaan dan perluasan komoditas strategis seperti kelapa, kopi, kakao, tebu, jambu mete, lada, dan pala agar industri hilir memiliki pasokan yang cukup dan berkualitas,” ujar Roni.
Roni Menjelaskan, program hilirisasi difokuskan pada penguatan bahan baku industri serta peningkatan produksi komoditas prioritas. Dalam periode 2025–2027, Ditjen Perkebunan menetapkan target peningkatan produktivitas dan produksi melalui pengembangan sejumlah komoditas strategis perkebunan.
“Untuk mendukung hilirisasi, kami menyiapkan pasokan bahan baku berkelanjutan. Target pengembangan komoditas perkebunan pada 2025–2027 meliputi kelapa seluas 221.890 hektare, tebu 200.000 hektare, kopi 99.500 hektare, kakao 248.500 hektare, jambu mete 50.000 hektare, lada 6.000 hektare, dan pala 45.000 hektare melalui kegiatan peremajaan, perluasan, dan peningkatan produktivitas,” ujar Roni.
Menurut Roni, hilirisasi tidak hanya meningkatkan nilai ekonomi komoditas, tetapi juga mendorong tumbuhnya industri pengolahan di daerah, memperkuat rantai pasok, serta membuka peluang usaha dan lapangan kerja baru bagi masyarakat.
“Dengan hilirisasi, manfaat ekonomi tidak hanya dinikmati di hilir, tetapi juga kembali ke petani di hulu. Inilah yang kami dorong agar pembangunan perkebunan semakin inklusif dan berkelanjutan,” katanya.
Kementerian Pertanian optimistis, penguatan hilirisasi komoditas perkebunan yang terintegrasi dari hulu hingga hilir akan menjadikan sub sektor perkebunan sebagai motor penggerak ekonomi nasional sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani di seluruh Indonesia.
DIREKTORAT JENDERAL PERKEBUNAN