KEMENTERIAN PERTANIAN
DIREKTORAT JENDERAL PERKEBUNAN

Sistem Budidaya Kopi Organik Solusi Untuk Bebas Glifosat

Diposting     Rabu, 29 Desember 2021 09:12 am    Oleh    ditjenbun



Gulma yang tumbuh di perkebunan kopi apabila dibiarkan dapat mengganggu pertumbuhan tanaman kopi, sehingga pekerjaan pengendalian gulma menjadi satu hal yang harus diagendakan dan menjadi perhatian serius dalam budidaya kopi. Dalam analisa usaha perkebunan, pengendalian gulma masuk dalam biaya pemeliharaan, dengan persentase mencapai 15% dari total biaya pemeliharaan. Pada umumnya petani melakukan pengendalian gulma dengan menggunakan herbisida sistemik salah satunya berbahan aktif Glifosat. Herbisida Glifosat selain masuk kedalam jaringan gulma juga dapat masuk ke jaringan tanaman kopi sehingga memungkinkan biji kopi terkontaminasi Glifosat dengan konsentrasi tertentu hal ini tentu saja kan mengurangi kualitas kopi khususnya untuk tujuan ekspor.

Eropa merupakan salah satu pangsa pasar potensial untuk perdagangan kopi Indonesia. Akan tetapi benua Eropa ingin menjadi benua pertama yang memiliki jejak karbon nol demi masa depan yang berkelanjutan. Uni Eropa juga memiliki keinginan untuk mengurangi penggunaan pestisida dan pupuk masing-masing sebesar 50% dan 20% serta menambah pertanian organik sebesar 25%. Terkait hal tersebut, Uni Eropa melakukan pembaruan persetujuan beberapa pestisida salah satunya pestisida berbahan aktif glifosat. Uni Eropa mengusulkan untuk menurunkan batas maksimal residu glifosat pada biji kopi dari 0,1 mg/Kg menjadi 0,05 mg/Kg.

Di Indonesia belum ada aturan pembatasan terhadap penggunaan herbisida berbahan aktif glifosat, sehingga petani dengan mudahnya mendapatkan dan menggunakan herbisida tersebut karena dinilai efektif dan cepat dalam mengendalikan gulma. Hal ini akan memberikan dampak negatif terhadap ekspor biji kopi ke Uni Eropa bila penanganan gulma pada sistem budidaya kopi di Indonesia tidak segera dibenahi.

Salah satu upaya pembenahan yang dapat dilakukan  adalah penerapan sistem budidaya kopi secara organik dengan berkelompok sehingga penggunaan input sarana dapat dikontrol. Pertanian organik didasarkan pada penggunaan input eksternal yang minimum, serta menghindari penggunaan pupuk dan pestisida kimiawi. Jika dilakukan dengan benar budidaya kopi dengan menerapkan sistem pertanian organik, akan mengurangi biaya input terutama pupuk dan pestisida.

Dalam sistem pertanian organik, pengendalian gulma dilakukan dengan cara manual/mekanis. Pengendalian gulma yang memiliki umbi atau rizoma dilakukan dengan cara mencangkul dan mengangkat ke permukaan tanah selanjutnya dikumpulkan dan dimusnahkan, untuk gulma berdaun lebar dan gulma berdaun sempit dikendalikan dengan memangkas menggunakan alat atau mesin pemotong rumput. Pengendalian gulma pada area tanaman kopi salah satu tujuannya untuk mempermudah saat panen/memungut biji kopi yang jatuh.

Gambar dominansi gulma di sekitar tanaman kopi perlu pengendalian

Pada tahun 2021, Direktorat Perlindungan Perkebunan telah melalukan uji glifosat terhadap kopi organik yang dihasilkan oleh Kelompok Tani Pelaksana Kegiatan Desa Pertanian Organik Berbasis Komoditas Perkebunan. Berdasarkan pengujian dengan LoD (limit of detection) 0,016 ppm yang dilakukan pada 33 sampel biji kopi dari kelompok tani binaan tidak ditemukan kandungan Glifosat.

Penulis: Tulus Tri Margono,SP. MP., Eva Lizarmi, SP., Herly Kurniawan, S.Sos.


Bagikan Artikel Ini  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *