KEMENTERIAN PERTANIAN
DIREKTORAT JENDERAL PERKEBUNAN

Peringati Harbun & Harem, Memotivasi Pekebun Tingkatkan Mutu Berdaya Saing

Diposting     Sabtu, 11 Desember 2021 10:12 am    Oleh    ditjenbun



SUMUT – Sektor pertanian dalam hal ini subsektor perkebunan turut berperan penting dalam pertumbuhan ekonomi nasional karena terbukti memberikan kontribusi yang nyata dalam peningkatan pendapatan negara melalui ekspor komoditas.

Di saat pandemi Covid-19 melanda di seluruh negara di dunia, termasuk Indonesia selama hampir 2 tahun berlalu, sektor pertanian tetap mencatatkan pertumbuhan yang positif, dan salah satunya adalah subsektor perkebunan dengan kontribusi pada triwulan III sebesar Rp.163,49 triliun atau 28,59%, demikian disampaikan Wakil Presiden (Wapres) K.H. Ma’ruf Amin dalam sambutannya pada acara Peringatan Hari Perkebunan ke-64 dan Hari Rempah Nasional ke-1 dengan tema membangkitkan kejayaan rempah untuk peningkatan ekspor komoditas perkebunan menuju Indonesia maju mandiri dan modern, di Hotel Niagara, Parapat, Sumatera Utara (10/12/2021).

Lebih lanjut Wapres menyampaikan, Hal ini karena dorongan peningkatan permintaan di dalam dan luar negeri seperti komoditas olahan kelapa sawit, karet, kopi, kelapa, kakao, lada, cengkeh, pala, vanili kayu manis serta komoditas perkebunan lainnya. “Peluang untuk peningkatan produksi, produktivitas dan mutu produk perkebunan terbuka lebar sebagai sumber devisa negara, penyedia bahan baku industri dalam negeri, penyedia lapangan kerja, sumber pendapatan petani, pendorong pertumbuhan wilayah serta turut berperan penting dalam pelestarian lingkungan,” lanjutnya.

Tak dapat dipungkiri, Perkebunan Indonesia telah melewati perjalanan sejarah yang panjang, lebih dari lima abad yang lalu, lautan nusantara telah ramai oleh lalu lintas perdagangan komoditi utama produk perkebunan seperti lada, pala, cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang kemudian berkembang dengan berbagai komoditi seperti kopi, kakao, karet dan kelapa sawit yang tetap menjadi produk utama dalam perekonomian nasional.

Sebagai bentuk apresiasi terhadap upaya dalam mengembangkan komoditas perkebunan dan capaian positif, serta memotivasi para pelaku usaha perkebunan baik pekebun, perusahaan perkebunan maupun pihak terkait lainnya, maka dilakukan peringatan Hari Perkebunan ke-64 dan Launching Penetapan Hari Rempah Nasional.

Tanggal 10 Desember 1957 merupakan saat terjadinya peralihan pengelolaan perkebunan dari Pemerintah Belanda ke Pemerintah Indonesia, hal inilah yang melatarbelakangi dipilihnya tanggal 10 Desember menjadi Hari Perkebunan, sebagai tonggak sejarah perjuangan agar perkebunan dapat bangkit kembali memberikan sumbangsih bagi perekonomian. Sedangkan pada tanggal 11 Desember 1521 atau sekitar 500 tahun yang lalu, merupakan tonggak sejarah perdagangan produk rempah nusantara yang perdana dari kepulauan tidore diekspor sebanyak 27 ribu ton dengan tujuan Eropa dan ini jatuh pada tanggal 11 desember dipilih menjadi Hari Rempah Nasional.

Dalam upaya keberlanjutan peningkatan ekonomi dan perdagangan internasional, selain peningkatan produksi bahan baku, keberhasilan meningkatkan ekspor juga bergantung pada perkembangan tatanan ekonomi dunia, dan kemantapan sistem perdagangan internasional, serta kemampuan penyesuaian ekonomi nasional terhadap perkembangan yang ada.

Dalam menghadapi tantangan pada perdagangan internasional, perlu dilakukan penyesuaian kebutuhan akan persyaratan memasuki arena perdagangan pasar global. “Peran para pelaku usaha baik pelaku usaha kecil, menengah, dan koperasi terus didorong melalui penguatan kelembagaan petani dalam wadah korporasi sehingga dapat berperan aktif untuk menjadi soko guru ekonomi nasional,” tutur Wapres.

Pemerintah terus secara intensif, Lanjut Wapres, mempromosikan produk pertanian antara lain melalui Indonesia Spice Up the World baik memasarkan bahan baku maupun produk olahan berbasis kuliner Indonesia yang bumbunya berbasis produk perkebunan rempah dan non rempah agar dapat mendunia. “Tak hanya itu, Branding produk dalam marketing harus terus dibangun, dengan mengutamakan kualitas produk dengan balutan kualitas pikir, karya, kinerja dan kualitas hidup, serta Empowering sektor hulu melalui peningkatan produktivitas, kualitas, daya saing, dan nilai tambah,” ujarnya.

Kedua hal inilah, Lanjut Wapres, yang diharapkan akan dapat mewujudkan cita-cita untuk mengembalikan kebangkitan serta kejayaan perkebunan dan rempah nasional. Wapres menyampaikan ucapan selamat atas HARI PERKEBUNAN tanggal 10 Desember dan HARI REMPAH NASIONAL tanggal 11 Desember, sekaligus meminta kepada Saudara Menteri Pertanian agar mengumumkan secara luas sebagai Hari Perkebunan dan Rempah Nasional untuk Merebut Kembali Kejayaannya.

Salah satu rangkaian dalam acara peringatan Hari Perkebunan ke-64 dan Hari Rempah Nasional, dimeriahkan dengan adanya deklarasi tanam serentak, pelepasan ekspor produk perkebunan, seminar, pameran komoditas ekspor, temu bisnis dan kegiatan seni budaya.

Menutup sambutannya, tak lupa Wapres mengimbau kepada seluruh insan perkebunan baik kementerian dan lembaga di pusat maupun daerah yang membidangi perkebunan, pelaku usaha perkebunan terkait, untuk terus mendorong, dan mengoptimalkan agar kualitas hulu hingga hilir komoditas perkebunan semakin bermutu baik dan berdaya saing serta mensejahterakan pekebun.

“Peringatan Hari Perkebunan ke-64 yang dirangkaikan dengan Launching Penetapan Hari Rempah Nasional bertujuan untuk mendorong komitmen, motivasi, kreativitas dan partisipasi seluruh stakeholeder perkebunan baik pemerintah, swasta maupun masyarat untuk mengambil peran dalam meningkatkan ekspor perkebunan dalam pemulihan ekonomi,” ujar Syahrul Yasin Limpo Menteri Pertanian dalam sambutannya.

Data menunjukkan, sub sektor perkebunan mampu memberikan kontribusi nyata dalam peningkatan pendapatan negara, dimana sub sektor perkebunan menjadi penyumbang terbesar ekspor di sektor pertanian dengan kontribusi sebesar 93,18%.

“Peringatan ini juga diharapkan bisa menjadi momentum bersama untuk menyusun strategi pengoptimalan ekspor komoditi perkebunan di era revolusi industri 4.0. Seluruh stakeholder perkebunan untuk bersinergi dan akselerasi untuk kejayaan perkebunan. Bukan hanya fokus pada kegiatan hulu untuk meningkatkan produktivitas, tapi juga di hilir untuk menghasilkan produk bernilai tambah dan berdaya saing,” ujar mentan.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tercatat ekspor perkebunan pada periode Januari-September 2021 sebesar 426,82 Triliun Rupiah atau naik 51,54% dibandingkan periode yang sama tahun 2020 sebesar 281,65 triliun. Karena itu subsektor perkebunan harus menjadi perhatian bersama.

Ekspor komoditas perkebunan yang melonjak pada Januari-September paling besar disumbang oleh komoditas kelapa sawit, karet, kakao, kelapa dan kopi. Ekspor perkebunan tertinggi terjadi di bulan Agustus yaitu sebesar 67,23 Triliun Rupiah. Ke depan, subsektor perkebunan perlu mendapat perhatian serius dari semua pihak termasuk BUMN dan swasta, sehingga diharapkan nantinya terbangun korporasi petani. Petani dan pekebun harus berada dan menjadi mitra swasta dan BUMN, sehingga petani terangkat pendapatan dan kesejahteraannya.

Program Gratieks

Program Gratieks diharapkan dapat mendorong pengembangan komoditas-komoditas strategis perkebunan dalam kerangka program Gerakan Peningkatan Produksi, Nilai Tambah dan Daya Saing Perkebunan (Grasida).

Isu yang menjadi prioritas dan perhatian kita terkait komoditi perkebunan termasuk rempah adalah :

  1. Peningkatan pendapatan petani harus lebih baik
  2. Penerapan Good Agricultural Practices
  3. Terintegrasi Hulu Hilir
  4. Terciptanya model perdagangan yang adil dan menguntungkan
  5. Implementasi kebijakan pertanian didukung sektor swasta.

“Saya yakin bila keberhasilan ini terwujud maka akan menjadi penting bahwa pertanian Indonesia sebagai sumber pendapatan devisa negara, penyedia lapangan kerja, sumber baku industri, pendorong pertumbuhan ekonomi daerah serta turut berperan dalam pelestarian lingkungan,” ujar Mentan.


Bagikan Artikel Ini  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *