KEMENTERIAN PERTANIAN
DIREKTORAT JENDERAL PERKEBUNAN

Pengendalian OPT Tanaman Perkebunan Dengan Pestisida Nabati

Diposting     Jumat, 15 Oktober 2021 09:10 am    Oleh    ditjenbun



Di Indonesia, penggunaan pestisida masih menjadi andalan bagi petani untuk mengendalikan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT), karena mudah didapat dan hasilnya dapat langsung terlihat. Akan tetapi penggunaannya terkadang tidak sesuai aturan, sehingga berdampak negatif terhadap konsumen ataupun ekosistem. Dampak negatif penggunaan pestisida diantaranya resistensi, resurjensi, residu bahan kimia pada hasil panen, terbunuhnya musuh alami dan pencemaran lingkungan. Untuk mengurangi dampak negatif tersebut dicari alternatif pengendalian lain yaitu menggunakan pestisida nabati.

Pestisida nabati merupakan pestisida yang bahan aktifnya berasal dari tumbuhan dan bahan organik lainnya. fungsi pestisida nabati salah satunya dapat berkhasiat mengendalikan serangan hama pada tanaman. Tumbuhan yang dapat digunakan sebagai pestisida nabati bisa berasal dari tembakau, mimba, mahoni, srikaya, sirsak, tuba, cengkeh dan juga berbagai jenis gulma seperti babandotan. Pestisida nabati dapat dibuat secara sederhana dan mudah dengan biaya murah sehingga diharapkan petani dapat menekan biaya produksi komoditas perkebunan dalam pengendalian OPT.

Salah satu kendala yang dihadapi dalam budidaya tanaman perkebunan adalah gangguan Organisme Penganggu Tanaman (OPT). Dalam upaya untuk mengendalikan OPT tersebut, tahun 2021 Direktorat Perlindungan Perkebunan mengalokasikan anggaran untuk kegiatan Pengendalian OPT Tanaman Perkebunan dengan Pestisida Nabati seluas 3.180 Ha di 20 Provinsi yaitu Aceh, Sumatera Barat, Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI. Yogyakarta, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Utara. Ada dua jenis pestisida nabati yang digunakan yairu insektisida nabati berbahan aktif Eugenol & Azadirakthin untuk sasaran Hama Penggerek Buah Kakao (Conopomorpha cramerella), Penggerek Buah Kopi (Hypotenemus hampei) dan Penggerek Pucuk pada tanaman tebu (Scirpophaga nivella) dan fungisida nabati berbahan aktif Diallil Sulfida, Allil Metil Disulfida, Diallil Disulfida, Allil Metil Trisulfida & Diallil Trisulfida untuk sasaran Penyakit Pembuluh Kayu/VSD (Oncobasidium theobromae), Penyakit Karat Daun (Hemilieia vastatrix), Penyakit Busuk Pangkal Batang (Phytophthora capsica) dan Penyakit Jamur Akar Putih (Rigidoporus microporus).

Gambar 1. Sebaran Luas Pengendalian Hypotenemus hampei tahun 2021

 

Gambar 2. Sebaran Luas Pengendalian Conopomorpha cramerella tahun 2021

Gambar 3. Sebaran Luas Pengendalian Hemileia vastatrix tahun 2021

Gambar 4. Sebaran Luas Pengendalian Onchobasidium theobromae tahun 2021

Sebaran luas pengendalian hama penggerek buah kopi (Hypotenemus hampei) ada di 12 provinsi dengan rincian luas pengendalian yaitu Aceh 40 ha, Jambi 35 ha, Bengkulu 50 ha, Sumatera Selatan 75 ha, Lampung 50 ha, Jawa Barat 150 ha, Jawa Tengah 30 ha, Bali 75 ha, Nusa Tenggara Barat 35 ha, Nusa Tenggara Timur 100 ha, Sulawesi Selatan 50 ha, dan Sulawesi Utara 50 ha (gambar 1). Sebaran luas pengendalian hama penggerek buah kakao (Conopomorpha cramerella) ada di 15 provinsi dengan rincian luas pengendalian yaitu Aceh 40 ha, Bali 75 ha, Sulawesi Selatan 50 ha, Sulawesi Tenggara 50 ha, Sulawesi Tengah 75 ha, Sulawesi Utara 60 ha, Gorontalo 75 ha, Yogyakarta 100 ha, Lampung 50 ha, Kalimantan Utara 50 ha, Jawa Tengah 30 ha, Jambi 35 ha, NTB 45 ha, Sumatera Barat 100 ha dan Sulawesi Barat 100 ha (gambar 2). Sebaran luas pengendalian penyakit karat daun (Hemileia vastatrix) ada di 10 provinsi dengan rincian luas pengendalian yaitu Aceh 30 ha, Sumatera Selatan 75 ha, Bengkulu 50 ha, Jawa Barat 100 ha, Bali 75 ha, Sulawesi Selatan 25 ha, Sulawesi Utara 40 ha, Jawa Tengah 30 ha, Jambi 30 ha dan NTB 50 ha (gambar 3). Sebaran luas pengendalian penyakit VSD (Onchobasidium theobromae) ada di 9 provinsi dengan rincian luas pengendalian yaitu Aceh 35 ha, Bali 35 ha, Sulawesi Selatan 50 ha, Sulawesi Tenggara 50 ha, Sulawesi Tengah 75 ha, Gorontalo 75 ha, Lampung 50 ha, NTB 35 ha dan Sulawesi Barat 110 ha (gambar 4).

Target penanganan OPT Tanaman Perkebunan dengan Pestisida Nabati yaitu melindungi tanaman terhadap serangan OPT serta mengurangi pengunaan pestisida kimia yang berdampak negatif, pestisida nabati sebagai teknologi ramah lingkungan dapat menjadi solusi terbaik untuk mendapatkan produk perkebunan yang berkualitas baik menuju hidup sehat.

Cara Aplikasi pestisida nabati tersebut yaitu dengan menyemprotkan secara merata pada bagian batang, daun dan pangkal batang. Sebelum pestisida nabati diaplikasikan, dilakukan pengamatan awal untuk mengetahui kondisi serangan OPT sebelum aplikasi pestisida nabati. Selanjutnya dilakukan aplikasi pestisida dengan interval 2 (dua) minggu sekali dan diulang 2 kali atau lebih. Pengamatan akhir dilakukan untuk mengetahui keberhasilan pengendalian menggunakan pestisida nabati.

Keuntungan menggunakan Pestisida Nabati
1. Dapat menciptakan lingkungan yang aman dari bahan kimia dan menghasilkan produk segar utama juga produk turunan dari komoditas perkebunan yang sehat dan aman untuk di konsumsi.
2. Aman bagi manusia, hewan karena bahan aktif yang digunakan mudah terurai di alam (biodegradable).
3. Tidak menyebabkan residu dan cemaran di air dan tanah.
4. Pemakaian dengan dosis tinggi sekalipun masih relatif aman.
5. Tidak mudah menyebabkan resistensi hama.
6. Kesehatan tanah lebih terjaga dan dapat meningkatkan bahan organik tanah.
7. Keberadaan musuh alami dapat dipertahankan.

Gambar 5. Penyerahan Pestisida Nabati ke Kelompok Tani

Semoga kegiatan pengendalian OPT dengan pestisida nabati bisa terlaksana dengan baik.

Penulis: Ratri Wibawanti, Andi Asjayani, Bibit Bakoh


Bagikan Artikel Ini  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *