KEMENTERIAN PERTANIAN
DIREKTORAT JENDERAL PERKEBUNAN

Mengungkap Potensi Mimba sebagai Pestisida Nabati

Diposting     Selasa, 12 Oktober 2021 09:10 am    Oleh    ditjenbun



Sampai saat ini pestisida kimia masih merupakan satu satu alternatif yang digunakan petani untuk pengendalian organisme pengganggu tumbuhan (OPT) di lahan pertanian, karena mudah didapat dan hasilnya dapat segera dilihat. Penggunaan pestisida oleh petani yang cenderung sangat berlebihan, akan berdampak negatif terhadap konsumen maupun ekosistem pertanian. Salah satu cara alternatif untuk mengurangi pencemaran lingkungan adalah dengan penggunaan pestisida nabati. Prinsip penggunaan pestisida nabati tersebut hanya untuk mengurangi ketergantungan petani terhadap penggunaan pestisida kimia dan bukan untuk meninggalkan pestisida kimia.

Gambar 1. Tanaman Mimba      (Sumber: BPTP Banten, 2016)

Pestisida nabati adalah bahan aktif tunggal atau majemuk yang berasal dari tumbuhan (daun, buah, biji atau akar) yang berfungsi mengendalikan hama dan penyakit pada tanaman, namun bersifat ramah terhadap lingkungan dan relatif aman dari segi kesehatan (Ruskin et al., 1992). Bahan dasar pestisida nabati bersifat mudah terurai di alam sehingga tidak mencemari lingkungan dan relatif aman bagi manusia dan ternak peliharaan karena residunya mudah hilang (Suprapta , 2003). Kardinan (2008), mengatakan bahwa pestisida nabati merupakan kearifan lokal di Indonesia yang sangat potensial untuk dimanfaatkan dalam pengendalian OPT, guna mendukung terciptanya sistem pertanian organik. Secara umum pestisida nabati diartikan sebagai pestisida yang bahan dasarnya berasal dari tumbuhan atau bagian tumbuhan seperti akar, daun, batang atau buah. Pestisida nabati relatif mudah dibuat dengan kemampuan dan pengetahuan yang terbatas juga oleh karena terbuat dari bahan alami/nabati, maka jenis pestisida ini bersifat mudah terurai (biodegradable) di alam lingkungan dan relatif aman bagi manusia dan ternak peliharaan karena residunya mudah hilang.

Salah satu tanaman yang bisa dimanfaatkan sebagai pestisida nabati adalah tanaman mimba. Tanaman mimba (Azadirachta indica A.Juss) tergolong dalam tanaman perdu/terna yang pertama kali ditemukan di daerah Hindustani, Madhya Pradesh, India yang tumbuh di daerah tropis, pada dataran rendah. Di Indonesia, tanaman ini tumbuh di daerah Jawa Barat, Jawa Timur dan Madura pada ketinggian sampai dengan 300 m dpl, tumbuh di tempat kering, dan sering ditemukan di tepi jalan atau di hutan terang (Balitkabi, 2009).

Mimba tergolong dalam Famili Meliaceae dengan tinggi pohon sampai 20 meter, daunnya majemuk, berbentuk lonjong bergigi, dan tumbuh didaerah tropis dan sub tropis. Daun mimba sangat pahit dan bijinya mengeluarkan bau seperti bawang putih. Buah mimba berbentuk elips, berdaging tebal, panjang 1,2 – 2 cm, hijau/kuning ketika masak, dengan lapisan tipis kutikula yang keras dan daging buah berair. Biji mimba memiliki kandungan bahan aktif pestisida lebih banyak dibandingkan dengan daunnya (Wiwin, 2008 dalam Wowiling, 2013).

Mimba merupakan tanaman yang memenuhi persyaratan untuk dikembangkan menjadi sumber bahan dasar pembuatan pestisida nabati. Adapun persyaratan tersebut menurut Ahmed (1995) antara lain;
a. Merupakan tanaman tahunan;
b. Tidak perlu dimusnahkan apabila suatu saat bagian tanamannya diperlukan;
c. Mudah dibudidayakan;
d. Tidak menjadi gulma atau inang bagi organism pengganggu tumbuhan (OPT);
e. Mempunyai nilai tambah; dan
f. Mudah diproses, sesuai dengan kemampuan petani.
Berdasarkan kandungan bahan aktifnya, biji dan daun mimba mengandung azadirakhtin meliantriol, salanin dan nimbin yang merupakan hasil metabolit sekunder dari tanaman mimba. Senyawa aktif tanaman mimba tidak membunuh hama secara cepat, tapi berpengaruh terhadap daya makan, pertumbuhan, daya reproduksi, proses ganti kulit, menghambat perkawinan, penurunan daya tetas telur dan menghambat pembentukan kitin. Selain itu juga berperan sebagai pemandul. Pengendalian hama dengan menggunakan mimba sebagai pestisida nabati dapat membunuh atau mengganggu serangan hama dan penyakit melalui cara kerja yang unik, yaitu dapat melalui perpaduan berbagai cara atau secara tunggal. Cara kerja mimba sangat spesifik, yaitu mempengaruhi produksi dan perilaku, berupa penolak (repellent), penarik (attractant), dan anti makan (antifeedant) (Balitkabi, 2009).

Gambar 2. Ekstrak mimba dalam bentuk minyak Sumber: Alibaba.com

Di India beberapa pestisida berbasis mimba dipasarkan secara komersial, diantaranya Azadi, Fortune Azadi, Godrej Achook, Margocide, Neemarin, Repelin dan Nimbecidine. Di Indonesia sendiri, terdapat 1 merek pestisida terdaftar yang berbahan aktif azadirakhtin dan dipasarkan secara komersial yaitu, Agrineem.

Ekstrak dari daun tanaman mimba dilaporkan mampu mengendalikan sekitar 127 jenis hama dan mampu berperan sebagai fungisida, bakterisida, antivirus, nematisida serta moluskisida (Kardinan, 2002). Hasil penelitian Wibawa (2019) menyatakan pula bahwa ekstrak daun mimba pada konsentrasi 40 g/l efektif mengendalikan ngengat dan ulat hama penggerek daun sebesar 75% (Wibawa, 2019).

OPT yang menjadi sasaran dari mimba adalah jenis hama menggigit mengunyah dan hama menusuk menghisap, nematoda serta jamur. Berikut spesies yang dapat dikendalikan: Helopeltis sp, Aphis gossypii, Agrotis ipsilon, Callosobruchus chinensis, Alternaria tenuis, Carpophilus hemipterus, kecoa, Crysptolestes pusillus, Corcyra cephalonica, Crocidolomia binotalis, Dysdercus cingulatus, Earias insulana, Epilachna varivestis, Fusarium oxyosporium, Helycotylenchus sp., Locusta migratoria, Meloidogyne sp., Musca domestica, Nephotenttix virescens, Nilapavarta lugens, Ophiomya reticulipennisI, Panonychus citri, Planococcus citri, Pratylenchus sp., Rhizoctonia solani, Sclerotium rolfsii, Sitophilus sp., Sogatella furcifera, Spodoptera litura, Tribolium sp., Tungro pada padi, Tylenchus filiformis (Ditjenbun, 1994).

Praktik penggunaan dan aplikasi mimba dalam pertanian secara tradisional meliputi pembuatan teh mimba dengan cara menghancurkan biji mimba kering, kemudian direndam dalam air selama satu malam untuk membuat pestisida cair yang dapat langsung diaplikasikan langsung pada tanaman. Bubuk dari biji mimba kering juga dapat digunakan secara langsung untuk pengendalian penggerek batang. Di India, petani menggunakan neem cake yaitu ampas dari perasan biji mimba sebagai pupuk organik dan pembenah tanah. Neem cake dipercaya meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk nitrogen, menghambat hama termasuk nematoda, cendawan, dan serangga.

Gambar 3. Ekstrak mimba dalam bentuk tepung Sumber: Alibaba.com

Pengendalian hama dengan menggunakan mimba sebagai insektisida nabati mempunyai beberapa keunggulan diantaranya yaitu, di alam senyawa aktif mimba mudah terurai, sehingga kadar residu relatif kecil, peluang untuk membunuh serangga bukan sasaran rendah, dan dapat digunakan beberapa saat menjelang panen. Cara kerja mimba sebagai insektisida nabati juga spesifik, sehingga aman terhadap vertebrata (manusia dan ternak), dan tidak mudah menimbulkan resistensi, karena jumlah senyawa aktif lebih dari satu. Selain bersifat sebagai insektisida, tumbuhan mimba juga memiliki sifat sebagai fungisida, antivirus, nematisida, bakterisida, mitisida, akarisida , dan rodentisida. Koppenhöfer dan Kaya (2000) juga menyatakan bahwa azadirakhtin dapat dicampur dan mampu bersinergi dengan biopestisida lainnya, seperti minyak cengkeh, dan minyak serai wangi.

Ekstrak tanaman mimba ada kemungkinan memiliki efek beracun pada ikan, biota akuatik lain, dan serangga berguna lainnya. Oleh karena itu, diperlukan penanganan secara hati-hati pada sisa ekstrak mimba dengan cara menjemurnya pada sinar matahari untuk memecahkan bahan aktifnya.

Penyusun: Aidha Utami, Yani Maryani, Eva Lizarmi

Referensi:

  • Ahmed, S. 1995. Overview of the current status and future prospects of botanical pesticides in asia and the pacific. Report of the FAO expert consultation on regional perspectives for use of botancial pesticies in Asia and teh Pacific, Bangkok, 28 Oct. 1994. P. 13-17.
  • Balitkabi. 2009. Mimba Pestisida Nabati Ramah Lingkungan. https://balitkabi.litbang.deptan.go.id/id/inovasi-teknologi/mimba-pestisida-nabati-ramah-lingkungan-2.
  • BPTP Banten. Budidaya Tanaman Mimba. https://banten.litbang.pertanian.go.id/new/index.php/publikasi/folder/957-budidaya-tanaman-mimba
  • Ditjenbun, 1994. Pedoman Pengenalan Pestisida Botani. Direktorat Bina Perlindungan Tanaman Perkebunan. Ditjenbun. Departemen Pertanian. Jakarta.
  • Kardinan, A. 2002. Pestisida Nabati Ramuan dan Aplikasi. Jakarta. Penebar Swadaya.
  • Kardinan, A. 2008. Pengembangan Kearifan Lokal Pestisida Nabati. Jakarta. Sinar Tani.
  • Koppenhöfer, A.M., and H.K. Kaya. 2000. Interactions of a nucleopolyhedrovirus with azadirachtin and imidacloprid. Journal of Invertebrate Pathology . 75:84-86.
  • Suprapta, D.N. 2003. Pemanfaatan Tumbuhan Lokal Sebagai Pestisida Nabati Guna Meningkatkan Kemandirian Petani. Orasi Ilmiah. 33 hal.
  • Ruskin, F.R., E. Mouzon, B. Simpson, and J. Hurley. 1992. Neem: A Tree for Solving Global Problem. National Academy Press. Washington D.C.139 pp
  • Wibawa, I.P.A.H. 2019. Uji efektivitas mimba (Azadirachta indica IA. Juss.) untuk mengendalikan hama penggerek daun pada tanaman Podocarpus nerifolius. E-Jurnal Agroekoteknologi Tropika. Vol. 8 No. 1.
  • Wowiling , J. 2013. Pestisida Nabati Mimba (Azadirachta indica A. Juss) Dalam Pengendalian Organisme Penggangguan Tumbuhan (OPT). Disampaikan pada Seminar Regional Inovasi Teknologi Pertanian, Mendukung Program Pembangunan Pertanian Propinsi Sulawesi Utara.

 


Bagikan Artikel Ini  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *