KEMENTERIAN PERTANIAN
DIREKTORAT JENDERAL PERKEBUNAN

Hati-hati Penggunaan Herbisida Justru Dapat Melemahkan Tanaman Utama

Diposting     Rabu, 22 Desember 2021 12:12 pm    Oleh    ditjenbun



Gulma yang kerap tumbuh di sekitar tanaman budidaya dapat menghambat pertumbuhan tanaman karena terjadi perebutan unsur hara diantara satu sama lain. Seringkali untuk menyingkirkan pengganggu tanaman tersebut, petani “menyemprotnya” dengan herbisida kimia. Namun niat menyelamatkan tanaman, pengaplikasian herbisida yang tidak tepat justru dapat merugikan tanaman budidaya dan lingkungan sekitar.

Herbisida biasanya diaplikasikan baik sebelum (pra tumbuh) maupun setelah tanaman budidaya tersebut tumbuh (purna tumbuh). Akibatnya penumpukan zat kimia yang terkandung di dalam herbisida tersebut meninggalkan residu pada lahan bahkan diserap ke dalam tanah.

Gambar 1. Ilustrasi Proses Penjerapan Herbisida ke dalam Tanah (Hasanuzzaman, 2019)

Herbisida menyebabkan efek buruk pada tanah (Hasanuzzaman, 2019), antara lain:

  1. Ketidaktersediaan nutrisi: residu herbisida dapat bersifat antagonis dengan unsur hara sehingga pada akhirnya dapat menghilangkan nutrisi pada tanah.
  2. Aktivitas mikroorganisme: mikroorganisme dalam tanah sangat penting sebagai penambah unsur organik yang menunjang kesehatan tanah. Pada beberapa kasus, dengan pengaplikasian herbisida, justru merugikan mikroorganisme tersebut. Mikroorganisme dapat menjadi lemah bahkan mati.
  3. Tanah steril: Aplikasi herbisida yang terus-menerus akan semakin membuat tanah miskin hingga menjadi steril tanpa ditopang unsur hara dan material organik lagi.
  4. Mengurangi kapasitas penyangga tanah: Penumpukan ion asam dan basa yang berlebihan akibat residu yang ditimbulkan oleh herbisida dapat mengurangi kapasitas penyangga tanah, hingga pada akhirnya tanah menjadi sangat asam ataupun sangat basa.

Ketika tanah sudah rusak/tidak cocok untuk tanaman budidaya tumbuh di atasnya, maka otomatis berdampak pada kelangsungan hidupnya. Ibarat manusia, tanaman yang “kekurangan gizi” pada tanah yang miskin menyebabkan mudah terserang penyakit, terjadi defoliasi, stunting (tumbuh kerdil), layu, malformasi, lambatnya pembungaan, dsb.

Herbisida dapat memengaruhi satu atau lebih proses biologis tanaman, diantaranya proses pembelahan sel, perkembangan jaringan, pembentukan klorofil, fotosintesis, respirasi, metabolisme nitrogen, aktivitas enzim dan sebagainya. Hal ini penting bagi tumbuhan untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya. Herbisida yang diaplikasikan dengan dosis tinggi akan mematikan seluruh bagian dari jenis tumbuhan (Riadi, 2011).

Pada dasarnya tanaman memiliki ketahanan induksi yang dapat dihasilkan akibat perubahan lingkungan, Ketahanan induksi dapat terjadi saat penggunaan pupuk, herbisida, insektisida, pengatur tumbuh, dan nutrisi mineral atau variasi dari suhu dan panjang hari, atau serangan patogen atau hama yang dapat merubah seluruh unsur kimia dalam jaringan tanaman. Namun pada kondisi lingkungan yang sangat kritis ketahanan ini dapat terpatahkan. Hal ini sejalan dengan penelitian Suryaningsih et al. (2019) yang menyatakan perlakuan herbisida Glifosat pada semua konsentrasi pengujian menurunkan laju fotosintesis dan menaikkan konsentrasi CO2 intraseluler tanaman. Perlakuan Glifosat pada tanaman menyebabkan cekaman oksidatif yang ditunjukkan dengan peningkatan peroksidasi lipid membran sel tanaman. Peningkatan kerentanan tanaman tersebut disebabkan penurunan laju fotosintesis, peningkatan konsentrasi CO2 intraseluler dan cekaman oksidatif, sehingga penggunaan herbisida glifosat dapat meningkatkan kejadian penyakit karat daun kopi. Selain pada kopi, dilansir dari lawan Plantation Key Technology (2021), herbisida juga mengakibatkan pertumbuhan yang abnormal pada kelapa sawit. sehingga berpengaruh pada proses fotosintesis, transpirasi dan translokasi unsur hara ke dalam jaringan tanaman (Gambar 2).

Selain melemahkan tanaman, penggunaan herbisida yang tidak tepat dapat meninggalkan residu pada produk tanaman. Isu pembatasan penggunaan herbisida Parakuat pada perkebunan sawit hingga penolakan kopi Indonesia oleh pihak Uni Eropa karena mengandung residu herbisida Glifosat menjadi isu penting yang dapat menghambat ekspor di pasar global karena residu berada di atas nilai BMR (Batas Maksimum Residu).

Gambar 2. Dominasi gulma pada lahan kelapa sawit (PKT, 2021)

Fakta baru yang ditemukan oleh Gaba et al. (2016), bahwa dengan pengurangan penggunaan herbisida hingga 50% dapat mempertahankan tanaman produksi. Jadi berfikir dua kali lagi ya untuk pengaplikasian herbisida, masih banyak cara lain yang lebih aman sebagai langkah penyelamatan peningkatan produksi tanaman. Untuk langkah awal perbaikan tanah yang telah teracuni, dapat ditempuh langkah bioremediasi tanah dengan menginfestasikan kembali sumber-sumber unsur organik dan hara pada tanah. Setelah itu, menurut Ikayanti (2018), beberapa teknik pengendalian gulma dapat diterapkan petani melalui usaha pencegahan (preventif), pengendalian secara fisik/mekanis, serta pengendalian secara biologi.

Preventif (Pencegahan):

  1. Pembersihan lahan dari gulma sebelum membudidayakan tanaman.
  2. Penyeleksian atau pemisahan biji gulma yang mungkin ikut tercampur di benih atau yang melekat pada alat-alat pertanian.
  3. Penggunaan pupuk kandang yang sudah matang guna mencegah kontaminasi biji gulma.
  4. Pencegahan pengangkutan tanaman, tanah maupun benda yang memberikan potensi pemindahan biji gulma maupun gulma ke lahan budidaya.

Pengendalian secara fisik/mekanis: dilakukan dengan penggunaan alat-alat pertanian melalui kegiatan pengolahan tanah, pembabatan (pemangkas), penggenangan, pembakaran dan penggunaan mulsa.

Pengendalian secara biologi: pengendalian gulma dengan memanfaatkan musuh alami seperti serangga fitofag, namun dengan beberapa Teknik yang harus diperhatikan agar tidak menjadi hama bagi tanaman utama.

Pengendalian dengan herbisida kimiawi merupakan langkah terakhir, di saat langkah sebelumnya tidak lagi efektif. Namun hal ini memerlukan pengawasan yang ketat dengan menerapkan prinsip 6T (6 Tepat), yaitu tepat sasaran, tepat mutu, tepat jenis, tepat waktu, tepat dosis dan tepat konsentrasi serta tepat cara penggunaannya.

Penulis: Farriza Diyasti, Yani Maryani, Eva Lizarmi

 

Sumber bacaan:

[PKT]. Plantation Key Technology. (2019). Tanaman Sawit Abnormal Akibat Penyemprotan Herbisida – Sawitnotif (pkt-group.com)

Gaba, S. Gabriel, E.,Chadoeu, J. Bonneu, F. Bretagnolle, V. (2016). Herbicides do not ensure for higher wheat yield, but eliminate rare plant species. URL: Herbicides do not ensure for higher wheat yield, but eliminate rare plant species (nature.com). Diakses pada 29 Oktober 2021.

Hasanuzzaman, M. (2019). effect of herbicide on soil and crop. URL: effects_of_herbicides_on_soil_and_crop_plants.pdf (weebly.com). Diakses pada 28 Oktober 2021.

Ikayanti, F. (2018). Pengendali Hama dari Tanaman dan Gulma yang Ramah Lingkungan. URL : Gulma dan Cara Menanggulanginya (pontianakkota.go.id). Diakses pada 1 November 2021.

Riadi, M. (2011). Mata Kuliah : Herbisida Dan Aplikasinya. Jurusan Budidaya Pertanian. Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin.

Suryaningsih, AS. Sopandie, D. Wiyono, S. (2019). Peningkatan Kerentanan Tanaman Kopi terhadap Penyakit Kanker Batang akibat Aplikasi Glifosat. URL: https://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/98115


Bagikan Artikel Ini