KEMENTERIAN PERTANIAN
DIREKTORAT JENDERAL PERKEBUNAN

HASIL PENGAMATAN OPT KAKAO (PBK DAN VSD) SETELAH APLIKASI PESTISIDA NABATI DI KABUPATEN POLEWALI MANDAR, SULAWESI BARAT

Diposting     Jumat, 17 Desember 2021 01:12 pm    Oleh    ditjenbun



Salah satu kendala yang dihadapi dalam budidaya tanaman perkebunan adalah gangguan Organisme Penganggu Tanaman (OPT). Gangguan OPT yang tidak terkendali dapat mengakibatkan kehilangan hasil produksi dan apabila terjadi eksplosi (ledakan) OPT dapat mengakibatkan gagal panen. Oleh karena itu perlindungan tanaman terhadap OPT merupakan bagian penting dalam sistem budidaya tanaman.

Gambar 1. Koordinasi dengan jajaran Dinas Perkebunan Provinsi Sulawesi Barat, Sumber, Ditlinbun, 2021

Perlindungan tanaman adalah segala upaya untuk mencegah kerugian pada budidaya tanaman yang diakibatkan oleh OPT. Perlindungan tanaman berazaskan efektivitas, efisiensi, dan keamanan terhadap manusia, sumberdaya alam, dan lingkungan hidup. Alternatif penggunaan pestisida nabati dalam perlindungan tanaman perkebunan dari serangan OPT kakao seperti Hama Penggerek Buah Kakao (PBK) dan penyakit Vascular Streak Dieback (VSD) merupakan cara yang tepat terhadap pengurangan dampak negatif penggunaan pestisida kimiawi.   Hal ini dilakukan karena seiring dengan permintaan konsumen terkait produk-produk perkebunan yang aman bagi kesehatan (bebas residu pestisida kimiawi).  Perlindungan tanaman dengan cara ini merupakan konsep Pengendalian Hama Terpadu (PHT) yang aman dan ramah lingkungan.

Konsep PHT tertuang dalam  Undang-Undang No. 22 tahun 2019, tentang Sistem Budidaya Pertanian Berkelanjutan, bahwa pengelolaan sumber daya alam hayati dalam memproduksi komoditas pertanian guna memenuhi kebutuhan manusia secara lebih baik dan berkesinambungan dengan menjaga kelestarian lingkungan hidup. Artinya penerapan pengendalian OPT yang ramah lingkungan dapat meningkatkan produktivitas tanaman, aman konsumsi, kelestarian lingkungan serta meminimalkan biaya produksi karena berkurangnya penggunaan pestisida kimia.

Dalam mendukung konsep PHT, di Kabupaten Polewali Mandar dilaksanakan kegiatan pestisida nabati penanganan OPT tanaman perkebunan di Provinsi Sulawesi Barat seluas 210 ha. Luas pertanaman kakao di Kabupaten Polewali Mandar seluas 48.930 Ha dari total seluruh pertanaman kakao di Sulawesi Barat yaitu 144.040 ha.  Produksi kakao di Kabupaten Polewali Mandar sebesar 36.452 ton sehingga produktivitasnya sebesar 745 kg/ha.  Angka produktivas ini masih tergolong rendah akibat serangan PBK dan VSD setiap tahunnya. Kedua OPT tersebut merupakan OPT endemik khususnya di Kabupaten Polewali Mandar dan umumnya di Provinsi Sulawesi Barat.

                Gambar 2.  Gejala serangan hama PBK, Sumber: UPTD Polman

                Gambar 3.  Gejala serangan penyakit VSD, Sumber: UPTD Polman

Kegiatan pestisida nabati penanganan OPT kakao di Kabupaten Polewali Mandar  adalah diberikannya bantuan barang kepada petani kakao berupa insektisida nabati berbahan aktif Eugenol dan Azadirachtin sebanyak 5 kelompok tani dan fungisida nabati berbahan aktif Diallyl sulfide, Allyl methyl disulfide, Diallyl disulfide, Allyl methyl trisulfide dan Diallyl  trisulfide sebanyak 4 kelompok tani.

Tabel 1.  Spesifikasi Teknis Insektisida Dan Fungisida Nabati yang Diberikan kepada Petani Kakao di Kabupaten Polewali Mandar,  Provinsi Sulawesi Barat

No Nama Barang Spesifikasi Teknis Jumlah (Liter)
1. Insektisida Nabati 1.     Jenis : Insektisida Nabati

2.    Bentuk :  Cair

3.    Bentuk Formulasi : EC

4.    Bahan Aktif :  Eugenol dan Azadiracthin

5.    Kandungan Bahan Aktif::  20 g/l & 0,02 g/l

6.    Ijin Edar Kementan :  RI 01010120196376

7.    Kemasan :  Botol 500 ml

2000
2. Fungisida Nabati 1.  Jenis     :  Fungisida Nabati

2.  Bentuk :  Cair

3.  Bentuk Formulasi :  EC

4.  Bahan Aktif  :  Diallyl Sulfide, Allyl Methyl Disulfide, Diallyl Disulfide, Allyl   Methyl Trisulfide dan Diallyl Trisulfide

5.  Kandungan Bahan Aktif:  0,018 g/l, 0,109 g/l, 1,014 g/l, 0,101 g/l & 2,859 g/l

6.  Ijin Edar Kementan :  RI 01020120196375

7.  Kemasan :  Botol 500 ml

1320

Aplikasi ke-1 sampai ke-3 insektisida nabati pada tanaman yang terserang hama PBK adalah masing-masing sebanyak 6−7 liter/ha (dosis 20 liter/ha). Sedangkan aplikasi ke-1 sampai ke-3 fungisida nabati pada tanaman yang terserang penyakit VSD adalah masing-masing sebanyak 4 liter/ha (dosis 12 liter/ha). Pengamatan dilakukan 4 kali yaitu P0 (pengamatan awal sebelum aplikasi), P1 (pengamatan setelah aplikasi ke-1), P2 (pengamatan setelah aplikasi ke-2), dan P3 (pengamatan setelah aplikasi ke-3).  Data pengamatan yang diperoleh pada saat kunjungan di lapang adalah sampai pada P2.

Tabel 2. Hasil pengamatan Hama Penggerek Buah Kakao (PBK) dan VSD di Kabupaten Polewali Mandar, Provinsi Sulawesi Barat

No. Nama Kelompok Tani Luas (Ha) Jenis OPT Intensitas Serangan (%) Tingkat Serangan

(P0 ke P2)

P0 P1 P2
1. Siruppa Sipaingarang 25 PBK 60,71 48,83 35,33 Berat-Sedang
2. Sipaingarang 25 PBK 54,96 42,58 34,25 Berat-Sedang
3. Sinar Tando ratte 25 PBK 57,24 39,96 30,56 Berat-Sedang
4. Harapan Tamboli 25 PBK 51,16 41,92 34,40 Berat-Sedang
5. Bunga Mentari 20 PBK 46,64 40,04 33,60 Sedang-Sedang
Total/Rata-Rata 120 PBK 54,14 42,67 33,63 Berat-Sedang
               
1. Anugerah 25 VSD 55,70 47,52 31,00 Berat-Sedang
2. Buttu Tubung 25 VSD 47,92 38,96 25,76 Sedang-Sedang
3. Pammana 20 VSD 55,36 49,41 35,86 Berat-Sedang
4. Sipatuo 20 VSD 44,29 35,95 25,09 Sedang-Sedang
Total/Rata-Rata 90 VSD 50,82 42,96 29,43 Berat-Sedang

Ket: P0 = Pengamatan awal sebelum aplikasi

P1 = Pengamatan setelah aplikasi ke-1

P2 = Pengamatan setelah aplikasi ke-2

Hasil analisis data pengamatan terhadap hama PBK pada 5 kelompok tani setelah dilakukan aplikasi ke-2 adalah rata-rata tingkat serangan menurun  dari  berat ke ringan atau pada P0 menunjukkan rata-rata intensitas serangan 54,14% nilainya menurun  pada P1 maupun P2 berturut-turut menjadi 42,67% dan 33,63%.  Artinya bahwa penggunaan insektisida nabati berbahan aktif Eugenol dan Azadiracthin cukup efektif dalam mengendalikan hama PBK.  Hal ini ditunjukkan dengan pertumbuhan tanaman kakao yang berangsur tumbuh sehat.                                   

 Sumber: UPTD Polman,
Gambar 4.  Tanaman berangsur sehat setelah aplikasi, insektisida nabati ke-1 dan 2

Hasil analisis data pengamatan terhadap penyakit VSD PBK pada 4 kelompok tani setelah dilakukan aplikasi ke-2 adalah rata-rata tingkat serangan menurun  dari  berat ke ringan atau pada P0 menunjukkan rata-rata intensitas serangan 50,82% nilainya menurun pada P1 maupun P2 berturut-turut menjadi 42,96% dan 29,43%.  Artinya bahwa penggunaan fungisida nabati berbahan aktif Diallyl Sulfide, Allyl Methyl Disulfide, Diallyl Disulfide, Allyl Methyl Trisulfide dan Diallyl  Trisulfide cukup efektif dalam mengendalikan hama PBK.  Hal ini ditunjukkan dengan pertumbuhan tanaman kakao yang berangsur tumbuh sehat.


Sumber: UPTD Polman
Gambar 5.  Tanaman berangsur sehat setelah aplikasi fungisida nabati ke-1 dan 2
Oleh: Alimin. S.P., M.Sc. dan Romauli Siagian, S.P., M.Sc.
Sumber Pustaka
Maryani, Y. dan Yuni A.  2019.  Buku Saku Hama dan Penyakit Tanaman Kakao.  Ditlinbun, Ditjenbun.  Jakarta.
Rusdianto, Eko.  2016. Teror Hama Ini Hancurkan Masa Keemasan Petanai Kakao Luwu. Online: https://www.mongabay.co.id.  Mongabay Situs Berita Lingkungan.  Luwu, Sulsel.  Diakses tanggal 7 Desember 2021.
UPTD BP2MB-PTP.  2021. Materi Lokalita: Pengenalan dan Pengendalian Penyakit Vascular Streak Dieback (VSD). Online: https://cybex.pertanian.go.id.  Solok, Sumbar.  Diakses tanggal 8 desember 2021.

Bagikan Artikel Ini