KEMENTERIAN PERTANIAN
DIREKTORAT JENDERAL PERKEBUNAN

Ramalan Luas Serangan Penggerek Buah Kakao (Conopomorpha Cramerella) Triwulan I Tahun 2021

Diposting     Rabu, 14 Oktober 2020 04:10 pm    Oleh    ditjenbun



Kakao (Theobroma cacao L.) merupakan salah satu komoditas unggulan perkebunan yang memiliki peranan cukup nyata dan dapat diandalkan dalam mewujudkan program pembangunan pertanian, khususnya dalam hal penyediaan lapangan kerja, pendorong pengembangan wilayah, peningkatan kesejahteraan petani, dan peningkatan devisa negara. Perkebunan kakao di Indonesia tersebar dari pulau Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua. Berdasarkan angka tetap statistik perkebunan tahun 2018, luas areal tanaman kakao di Indonesia mencapai 1.611.014 hektar yang tersebar di provinsi, dengan produksi sebesar 767.280 ton dan produktivitas 729 kg/ha (Angka Tetap Statistik Perkebunan Indonesia tahun 2018). Apabila dibandingkan dengan produksi kakao dunia yang mencapai 4.850.000 ton, produksi kakao di Indonesia masih jauh lebih rendah. Produksi kakao Indonesia hanya sekitar 16% dari produksi dunia. Salah satu yang menjadi penyebab rendahnya produksi kakao di Indonesia yaitu, adanya serangan Penggerek Buah Kakao (PBK). Serangan PBK sangat khas dan sulit dideteksi karena imago betina meletakkan telur pada buah kakao yang masih muda dan gejala baru terlihat pada saat buah siap dipanen. Kehilangan hasil akibat hama PBK diperkirakan mencapai 60-84% dengan potensi kerugian hasil diperkirakan mencapai 117 miliar rupiah.

Gambar 1. Peta ramalan luas serangan PBK Triwulan I Tahun 2021

Peta di atas menunjukkan ramalan/prediksi luas serangan PBK menurut provinsi di Indonesia pada Triwulan 1 Tahun 2021. Hama PBK Conopomorpha cramerella (Snellen) termasuk dalam ordo Lepidoptera dan famili Gracillariidae. Hama PBK merupakan penyebab utama kehilangan hasil pada tanaman kakao dan merugikan pengusahaan kakao di negara-negara Asia Tenggara dan Papua New Guinea. Kerugian akibat serangan PBK mengakibatkan penurunan berat biji, peningkatan persentase biji kualitas rendah, dan meningkatnya biaya panen diakibatkan sulitnya memisahkan biji yang terserang dari kulit buah. Kondisi lembab yang disebabkan curah hujan tinggi sangat disukai oleh hama PBK.

Salah satu upaya yang dilakukan untuk menekan perkembangan dan luasnya serangan hama PBK pada masa yang akan datang yaitu dengan metode peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT). Peramalan OPT merupakan komponen penting dalam strategi pengelolaan hama dan penyakit tanaman, sebab dengan adanya peramalan bermanfaat sebagai sistem peringatan dini mengenai tingkat dan luasnya serangan. Ramalan OPT dilakukan dengan mengolah data hasil pengamatan OPT secara kontinyu dan konsisten dengan interval waktu tertentu dan bertujuan untuk mendapatkan rumus ramalan yang dapat menggambarkan kondisi OPT pada waktu yang akan datang. Hasil ramalan OPT tersebut dapat dijadikan acuan untuk melakukan tindakan pencegahan dan pengendalian OPT yang tepat di lapangan.

Ramalan luas serangan PBK pada tanaman kakao disusun berdasarkan laporan serangan OPT yang diterima oleh Direktorat Perlindungan Perkebunan dari provinsi-provinsi di Indonesia selama kurun waktu 10 tahun terakhir. Provinsi yang melaporkan adanya serangan PBK terlampir pada Tabel 1.

Ramalan luas serangan PBK triwulan 1 tahun 2021 dihitung berdasarkan model peramalan luas serangan yang disusun dengan metode runtun waktu dari data luas serangan PBK di Indonesia tahun 2011-2020. Model peramalan yang didapatkan adalah, y=10^(0.2746+0.8861*LOG(X+10))-10.

Tabel 1. Ramalan Luas Serangan PBK

Triwulan 1/2021 menurut Provinsi di Indonesia

Gambar 2. Grafik ramalan luas serangan PBK Triwulan I Tahun 2021

Berdasarkan tabel dan grafik 1 di atas, diprediksikan provinsi Sulawesi Tengah akan mengalami luas serangan PBK paling tinggi, meski hasil ramalan menunjukkan penurunan luas serangan sebesar 45.1% dibandingkan dengan kejadian luas serangan pada triwulan 1/2020. Selanjutnya, diikuti oleh provinsi Sulawesi Selatan, Sumatera Utara, dan Aceh yang diramalkan akan mengalami luas serangan hama PBK cukup tinggi, kisaran 6.875 – 20.625 ha. Berikut adalah beberapa alternatif pengendalian hama PBK untuk menekan populasi PBK tersebut sehingga kehilangan hasil dapat diminimalisir, yaitu:

1. Penggunaan tanaman resisten

Keuntungan menggunakan varietas resisten dalam pengendalian hama antara lain, mengendalikan populasi hama tetap di bawah ambang kerusakan dalam waktu yang cukup lama, tidak berdampak negatif pada lingkungan, tidak membutuhkan alat dan teknik aplikasi tertentu, dan tidak membutuhkan biaya tambahan lain.

2. Pengendalian secara hayati

Pengendalian ini dilakukan dengan menggunakan organisme hayati yaitu semut hitam (Dolichoderus thoracicus) untuk menekan populasi hama dengan memangsa telur dan pupa PBK. Semakin banyak semut hitam pada permukaan buah terserang PBK, semakin banyak telur atau pupa yang dimangsa sehingga diharapkan pengendalian lebih efektif. Pemanfaatan cendawan patogen serangga seperti Verticillium tricorpus, Metarhizium spp., dan Beauveria bassiana.

3. Pengendalian secara kultur teknis

Metode pengendalian dengan pemangkasan dilakukan dengan cara memangkas tunas air dan cabang lain secara selektif untuk mengatur kedudukan cabang, mengurangi kelembaban sehingga diharapkan berkurangnya tingkat serangan hama. Metode pengendalian dengan cara panen sering, pemangkasan, sanitasi, dan pemupukan atau dikenal dengan metode PSPSP terbukti efektif mampu mengendalikan hama PBK. Pengendalian dengan pemupukan urea yang dibarengi dengan sanitasi kebun terbukti dapat menurunkan persentase serangan sebesar 34,6% dan kerusakan biji sebesar 38,4%. Dan juga Metode pengendalian dengan cara meningkatkan ketahanan alami tanaman, misalnya dengan aplikasi silika (Si) dan biokaolin.

4. Pengendalian secara fisik dan kimiawi

Pengendalian fisik dan mekanik adalah tindakan langsung atau tidak langsung dengan cara merubah kondisi lingkungan yang dapat menekan populasi hama. Beberapa teknik pengendalian fisik dan mekanik yang dapat dilakukan untuk mengendalikan PBK, antara lain teknik penyarungan buah muda dan penggunaan perangkap serangga imago jantan dengan memanfaatkan feromon seks.

5. Pengendalian dengan pestisida nabati

Pengendalian dengan pestisida nabati adalah teknologi pengendalian hama dengan memanfaatkan bahan dari tumbuhan, baik berupa ekstrak, tepung atauminyak. Pestisida nabati yang terbukti efektif untuk mengendalikan PBK antara lain, ekstrak mimba, ekstrak buah maja Crecentia cujete, minyak cengkeh dan serai wangi, ekstrak daun bandotan, bawang putih, minyak kemiri sunan, ekstrak umbi gadung, jeringau, dan brotowali.

Ketepatan hasil perhitungan dari ramalan dengan kejadian serangan OPT di lapangan dipengaruhi oleh faktor biotik dan abiotik lingkungan kebun yang mendukung perkembangan OPT, dan berbagai upaya tindakan pengendalian yang dilakukan oleh petani maupun pelaku usaha perkebunan. Namun, hal utama yang perlu ditekankan adalah melakukan pembinaan dan bimbingan kepada petani agar mau melakukan tindakan preventif seperti metode PSPSP dengan baik yang terbukti efektif mampu mengendalikan hama PBK untuk menekan perkembangan hama PBK tersebut.

 

Penulis : Aidha Utami, S.Si

 

Sumber:

Laporan Data OPT Kakao tahun 2011-2020

Angka Tetap Statistik Perkebunan Indonesia tahun 2018.


Bagikan Artikel Ini  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *