KEMENTERIAN PERTANIAN
DIREKTORAT JENDERAL PERKEBUNAN

Integrasi Sawit – Sapi : Bantu Petani Penuhi Kebutuhan Hidup

Diposting     Senin, 09 Maret 2020 08:03 am    Oleh    ditjenbun



PANGKALPINANG – Kementerian Pertanian, pada tahun 2019, menyelenggarakan Program Integrasi Sawit-Sapi, yang dimana bertujuan untuk mendukung peningkatan populasi sapi potong, karena dalam pelaksanaan peningkatan populasi sapi potong yang sering dihadapi peternak salah satunya terkait ketersediaan pakan berkualitas yang masih minim. Untuk itu pemerintah terus berupaya untuk mengatasi permasalahan ini, dimana salah satunya melalui pengembangan sistem integrasi Sawit-Sapi. Dengan adanya integrasi Sawit-Sapi tersebut, keterbatasan pakan dapat dipenuhi dari pengelolaan limbah sawit, dengan memanfaatkan pelepah sawit sebagai pakan sapi dan limbah sapi (kotoran) sebagai pupuk tanaman sawit.

Secara aturan, regulasi pendukung tentang integrasi ini telah tersedia dengan baik pada Peraturan Menteri Pertanian Nomor 105/PERMENTAN/PD.300/8/2014 Tahun 2014 yang mengatur usaha perkebunan kelapa sawit dengan usaha budidaya sapi potong.

Dalam rangka meninjau perkembangan Integrasi Sawit – Sapi tersebut, Komisi IV DPR RI beserta 11 jajaran anggotanya melakukan kunjungan kerja ke Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, dimana kedatangan tersebut disambut baik oleh Wakil Gubernur Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. “Melalui Kunker para Anggota Dewan ini diharapkan memberi manfaat bagi seluruh masyarakat Bangka Belitung,” kata Abdul Fatah, Wakil Gubernur Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dalam sambutannya saat kunjungan kerja Komisi IV DPR RI (03/03).

Pada kunjungannya ini, Komisi IV DPR RI meninjau kebun sawit yang berada di Desa Sungai Selan, Bangka Tengah, Kepulauan Bangka Belitung. Desa Sungai Selan atau biasa disebut Kampung Integrasi Sawit – Sapi Sungai Selan memiliki luas lahan kebun sawit seluas 3.000 Ha yang sudah terintegrasi.

Wakil Ketua Komisi IV DPR RI beserta 11 anggota dewan lainnya yang mempunyai ruang lingkup tugas di bidang Pertanian, Lingkungan Hidup, Kehutanan, dan Kelautan Perikanan, tak hanya melakukan peninjauan, tetapi sekaligus berdiskusi bersama mitra terkait dan pelaku usaha/pekebun/petani/peternak.

Amir salah satu anggota kelompok tani Tunas Baru menjelaskan awal mula terbentuknya Kampung Sawit – Sapi karena tidak tersedianya pupuk kotoran sapi untuk sawit.  “Dengan adanya integrasi sawit-sapi, pakan sapi dari kelapa sawit yang diolah memang sangat membantu, dan kotoran sapi sebagai pupuk untuk tanaman sawit tersebut” jelas Amir. Amir menambahkan, “Dan lebih unggulnya lagi, kebun sawit kelihatan lebih bersih,” lanjutnya.

Wayan Suryana sebagai salah satu pengusaha perkebunan sawit mengungkapkan, total luas lahan yang dimiliki seluas 2800 Ha dimana semua lahan tersebut sudah terintegrasi sawit-sapi.

Diketahui dari penjelasan Wayan pada forum diskusi, perusahaan yang dimilikinya mampu menghasilkan bungkil sawit sebanyak 75 Ton perhari yang cukup untuk memenuhi pakan ternak selama 1 (satu) hari.

Dengan adanya program Sawit-Sapi diharapkan dapat membantu meningkatkan kesejahteraan para pekebun sawit dan peternak sapi serta meningkatkan kualitas produksi yang dihasilkan oleh Sawit-Sapi itu sendiri. Ke depannya, diharapkan kelompok tani Tunas Baru yang ada di Desa Sungai Selan, Bangka Tengah, Kepulauan Bangka Belitung, sudah mandiri dalam menjalankan program integrasi Sawit-Sapi.


Bagikan Artikel Ini  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *