karet kakao sawit kelapa cengkeh lada teh kopi mete nilam tebu

Sekilas Info

  •   Permentan No. 5 Tahun 2018 Tentang Pembukaan, pengolahan lahan tanpa membakar
  •   Nomor 1/Permentan/KB.120/1/2018 Tentang Pedoman Penetapan Harga TBS Pekebun
KEMENTAN TINGKATKAN KOMPETENSI MANAJEMEN TANAMAN KARET.
Diposting oleh: Administrator,  Kategori: Berita Utama,  Dibaca: 212 kali
shadow

Komoditas karet merupakan salah satu komoditas utama andalan Indonesia. Pengembangan perkebunan karet memberikan peranan penting bagi perekonomian nasional, yaitu sebagai sumber devisa, sumber bahan baku industri, sumber pendapatan dan kesejahteraan masyarakat serta sebagai pengembangan pusat-pusat pertumbuhan perekonomian di daerah dan sekaligus berperan dalam pelestarian fungsi lingkungan hidup. Selain itu, tanaman karet juga merupakan tanaman tahunan yang mampu memberikan manfaat dalam pelestarian lingkungan, terutama dalam hal penyerapan CO2 dan penghasil O2. Bahkan ke depan, tanaman karet merupakan sumber kayu yang potensial yang dapat mensubtitusi kebutuhan kayu hutan alam yang dari tahun ke tahun ketersediaannya semakin menurun.

Untuk meningkatkan kompetensi dan kapabilitas Staf Teknis Direktorat Tanaman Tahunan dan Penyegar dibidang komoditi tanaman karet dalam mendukung program pembangunan perkebunan berkelanjutan maka kegiatan peningkatan kompetensi manajemen Staf Teknis Direktorat Tanaman Tahunan dan Penyegar khususnya untuk komoditi karet dilaksanakan selama 5 (lima) hari, tanggal 19 – 23 Maret 2018 di Pusat Penelitian Karet, Sembawa - Kab. Banyuasin, Prov. Sumatera Selatan. Pelatihan kompotensi tanaman karet dibuka oleh Kepala Pusat Penelitian Tanaman Karet dan dihadiri oleh staf Teknis Direktorat Tanaman Tahunan, narasumber dan staf Puslit Karet Sembawa. Pelatihan peningkatan kompetensi manajemen tanaman karet Direktorat Tanaman Tahunan dan Penyegar dilaksanakan dengan metode pembelajaran di kelas/ruangan (teori) dengan materi Kebun Entres dan Pengenalan Klon Unggul, Kebun Batang Bawah dan Okulasi, Analisa Ekonomi dan Pembibitan Karet, Analisa Usaha Tani / Cash Flow dan Pengolahan Bokar (Produk Olahan) dan metode praktek di Kebun Percobaan dan Bengkel Teknologi Pusat Penelitian Karet, Sembawa, antara lain praktek Kebun Entres dan Pengenalan Klon Unggul, praktek Kebun Batang Bawah dan Okulasi dan praktek Pengolahan Bokar (Produk Olahan).

Tanaman karet di Indonesia berasal dari Brazil tahun 1876, dimana Kebun Raya Bogor menerima 18 tanaman muda (kecambah). Dalam memperoleh klon unggul memerlukan waktu yang bisa mencapai 34 tahun dengan urutan persilangan (6 bulan), penanaman biji (3 tahun), uji pendahuluan (10 tahun), uji lanjutan (10 tahun), uji adaptasi (10) selanjutnya dapat dikeluarkan rekomendasi.  Adapun beberapa klon karet anjuran yang telah dilepas adalah

  • Klon lateks : IRR 104, IRR112, IRR 118, IRR 220, BPM 24, PB 260, PB 330 dan PB 340;
  • Klon lateks-kayu : IRR 5, IRR 39, IRR 42, IRR 230 dan RRIC 100;
  • Benih batang bawah monoclonal dari klon AVROS 2037, GT 1, PB 260, RRIC 100, PB 330 dan BPM 24

“Keberhasilan dalam usaha tani secara umum salah satunya ditentukan oleh bahan tanam yang baik dan benar.Sumber benih karet diperoleh dari kebun entres dan kebun batang bawah. Langkah-langkah yang dilakukan dalam pembangunan kebun entres meliputi pemilihan lokasi, perencanaan, persiapan lahan, tata ruang, penanaman, pemeliharaan dan pemurnian”, kata Sigit Ismawanto, SSi, M.Sc, selaku Narasumber yang sekaligus peneliti di Puslit Karet, Sembawa dengan materi Pengenalan Klon Unggul dan Kebun Entres.

Andi Nur Cahyo, M.Sc menyampaikan pokok bahasan Kebun Batang Bawah dan Okulasi. Batang bawah ditentukan oleh biji yang berasal dari sumber benih yang sudah ditetapkan (direkomendasi) dengan standar mutu biji untuk batang bawah meliputi mutu genesis benih, mutu fisik benih dan mutu fisiologi). Selanjutnya pembangunan batang bawah dengan persyaratan lahan relatif datar, mudah dijangkau, dekat sumber air, bukan daerah JAP, lahan yang miring >3% dibuat guludan, tanah subur, gembur, solum dalam dan tidak dekat hutan. Langkah dalam pembangunan kebun batang bawah antara lain persiapan lahan (pengolahan, pembuatan petakan, pengajiran), jarak tanam (okulasi hijau : 20x20x50 cm ; populasi 114.280 batang/ha, okulasi cokelat : 30x40x50 cm ; populasi 62.500 batang/ha), penyemaian benih, penanaman kecambah, pemeliharaan di pembibitan (penyiraman, penyulaman, pengendalian gulma, pengendalian hama dan penyakit serta pemupukan). Proses pertumbuhan biji menjadi bibit polybag membutuhkan sekitar 16 bulan dengan urutan biji siap ditanam dan siap untuk diokulasi (8 bulan), masa okulasi.

Dwi Shinta Agustina, SP, M.Sc menyampaikan terkait Analisa Usaha Pembibitan Karet dan Analisa usahatani karet (cashflow). “Pembibitan merupakan tempat penyiapan dan penyediaan bahan tanam (bibit), baik yang berasal dari hasil perbanyakan generative (benih) maupun vegetative. Ada beberapa tahapan dalam kegiatan pembibitan karet, yaitu mulai dari pengadaan biji, persemaian biji, persemaian bibit bawah (roots tock), okulasi, pembuatan bibit polybag dan penanaman”, katanya.

“Bokar adalah gumpalan/bekuan/koagulan lateks baik itu secara alami maupun sengaja ditambahkan bahan penggumpal (pengolahan sederhana) dan tidak tercampur kontaminan. Untuk mempercepat pembekuan dan menghasilkan karet yang bermutu baik serta ramah lingkungan diperlukan koagulan  Jenis koagulan yang dianjurkan adalah Deorub (asap cair) dan asam semut (asam format), sedangkan koagulan yang tidak dianjurkan Cuka para (asap cair), Tawas dan Pupuk TSP. Produk olahan lateks yang dihasilkan petani antara lain Sleb, Lum Mangkok, Skrep, Sit Angin dan Sit Asap”, kata Afrizal Vachlepi, S.TP, MT.

“Kebun entres merupakan sumber bibit yang digunakan sebagai perbanyakan dengan cara okulasi pada pembibitan karet yang telah dipersiapkan, Persyaratan mutu genetis kebun entres sebaiknya sebelum digunakan harus dimurnikan oleh lembaga yang berkompeten yaitu penghasil varietas/klon untuk mencapai tingkat kemurnian 100%, sedangkan dari segi mutu fisiologis adalah setiap batang sepanjang 2 meter harus bebas tunas. Klon yang direkomendasikan untukentres diantaranya IRR 104, IRR112, IRR 118, IRR 220, BPM 24, PB 260, PB 330 dan PB 340”, demikian disampaikan oleh Sigit Ismawanto, S.Si, MSc pada Praktek Kebun Entres dan Pengenalan Klon Unggul yang dilakukan di kebun percontohan Puslit Sembawa.

Sedangkan untuk praktek Kebun Batang Bawah dan Okulasi dilakukan di kebun percontohan Puslit Sembawa. “Tanaman yang akan dijadikan batang bawah pada okulasi adalah tanaman hasil perbanyakan generatif (biji).  Walaupun merupakan hasil perbanyakan generatif, batang bawah juga memiliki kon-klon anjuran yang sebaiknya digunakan untuk proses okulasi. Batang bawah yang dianjurkan, selain memiliki kelebihan dalam perakaran dan ketahanan terhadap serangan organisme pengganggu tanaman, juga memiliki kelebihan yaitu lebih kompatibel dengan klon-klon yang dianjurkan sebagai batang atas. Beberapa klon anjuran untuk batang bawah adalah AVROS 2037, GT 1, PB 260, RRIC 100, PB 330 dan BPM 24”, kata Andi Nur Cahyo, SP, MSc.

“Persentase Kadar Karet Kering (KKK) lateks pertama dihasilkan sebesar 28 – 30 %, sehingga perlu dilakukan penuruan KKK menjadi 12 – 15 % dengan cara mencampurkan larutan deorab,” kata Afrizal Vachlepi, STP, MT pada Praktek Pengolahan Bokar (Produk Olahan) dilakukan di Bengkel Teknologi Puslit Sembawa.

Dalam praktek juga disampaikan mengolah lateks lumb menjadi slab lumb dan lateks cair menjad slab lateks.

“Pelatihan peningkatan kompetensi manajemen tanaman karet yang dilaksanakan mencakup aspek teori dan praktek, sehingga di dapat pengetahuan dan keterampilan yang komprehensif tentang budidaya tanaman karet. Kegiatan pelatihan peningkatan kompetensi manajemen tanaman karet dapat meningkatkan pengetahuan, dan keterampilan teknis staf teknis dan pemangku kebijakan dan menunjang dalam pelaksanaan tugas yang menjadi tanggung jawabnya. Materi pelatihan terutama terkait manajemen tanaman karet agar dapat dipersiapkan dengan lebih baik sehingga pelaksanaan pelatihan dapat lebih efektif dan efisien serta sesuai dengan kebutuhan petugas teknis dalam pelaksanaan tugas yang menjadi tanggung jawabnya. Materi praktek lapangan yang belum terlaksana seyogyanya dapat diganti dengan praktek lapangan yang lain. Pelatihan sejenis agar tetap dapat dilaksanakan bagi staf teknis lain yang belum mengikuti pelatihan, sedangkan untuk pelatihan yang lainnya agar dapat diupayakan diadakan dengan harapan kompetensi SDM di bidang pengembangan tanaman tahunan (khususnya karet) dapat meningkat sehingga dapat menunjang pelaksanaan tugas yang menjadi tanggung jawabnya”, kata Irfan salah satu peserta pelatihan tersebut.