karet kakao sawit kelapa cengkeh lada teh kopi mete nilam tebu

Sekilas Info

  •   Kepmentan No 141 Tahun 2019 Jenis Komoditas Binaan
  •   Permentan No. 5 Tahun 2018 Tentang Pembukaan, pengolahan lahan tanpa membakar
  •   Nomor 1/Permentan/KB.120/1/2018 Tentang Pedoman Penetapan Harga TBS Pekebun
Indonesia Mencanangkan Program Nasional Untuk Merubah Kelapa Sawit Menjadi Green Commodity.
Diposting oleh: Administrator,  Kategori: Berita Utama,  Dibaca: 1,332 kali
shadow

Jakarta-(3/10) Menteri Pertanian Republik Indonesia Dr. Ir. H. Suswono, MMA meresmikan Pencanangan Platform Perkebunan Kelapa Sawit Berkelanjutan (Launching Sustainable Palm Oil Platform For Smallholders) di Auditorium Kementerian Pertanian, yang dihadiri oleh undangan dari unsur pemerintah pusat dan daerah serta undangan dari perwakilan asosiasi kelapa sawit.

Kementerian Pertanian bekerjasama dengan United Nations Development Programme (UNDP) secara resmi mencanangkan platform nasional untuk Perkebunan Kelapa Sawit Berkelanjutan (Sustainable Palm Oil Initiative, SPOI) yang bertujuan untuk mendukung petani kelapa sawit berpenghasilan rendah agar dapat meningkatkan produksi dan meningkatkan pengelolaan lingkungan.

 Menteri Pertanian mengatakan bahwa koordinasi yang kuat antar instansi lembaga terkait dalam kegiatan ini menjadi sangat penting untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Platform ini merupakan suatu forum koordinasi dan diskusi untuk memperoleh masukan serta pandangan yang terkait dengan pengembangan perkebunan kelapa sawit khususnya perkebunan kelapa sawit rakyat berkelanjutan. Pertemuan para pemegang kepentingan  akan dilakukan secara transparan untuk mendiskusikan kebijakan pemerintah yang ada dan memperkuat kebijakan pemerintah di masa mendatang serta memperkuat persyaratan ISPO dan mempromosikannya.

 

Di samping itu Suswono menyampaikan untuk memperlancar kegiatan tersebut dibentuk empat working group (WG) atau kelompok kerja yang merupakan tim yang beranggotakan instansi pemerintah, para ahli, praktisi dan pemangku kepentingan lainnya yang membahas, mengkaji dan menangani permasalahan tertentu yang terkait dengan kelapa sawit. Keempat WG tersebut adalah : 1) WG peningkatan kapasitas dan kemampuan petani, 2) WG monitoring dan pengelolaan lingkungan, 3) WG tata kelola dan mediasi permasalahan dan 4) WG sosialisasi/promosi ISPO dan akses pasar.

Masing-masing platform terdiri dari steering committee dan WG, Platform dipimpin oleh instansi/lembaga pemerintah yang terkait langsung dengan pencapaian target kelapa sawit berkelanjutan dan beranggotakan pemangku kepentingan di bidang perkelapasawitan seperti wakil instansi/lembaga pemerintah yaitu asosiasi petani, asosiasi perusahaan, LSM/CSO nasional dan internasional, perusahan perkebunan besar, lembaga pendidikan dan riset dan organisasi pendanaan, lanjut Suswono.

 

Dalam akhir keynote speech-nya Suswono menyampaikan bahwa Indonesia, sebagai produsen kelapa sawit terbesar dunia, pada hari Jumat mencanangkan sebuah program nasional untuk meningkatkan penghidupan petani sekaligus meningkatkan kualitas lingkungan terkait dengan perluasan kelapa sawit.

Pada kesempatan lain dalam sambutan dari Country Director UNDP Indonesia, Beate Trankmann mengatakan bahwa platform nasional ini diperlukan untuk mengimbangi perluasan dan potensi ekonomi dari kelapa sawit dengan  menjaga ekosistem dan masyarakat yang sehat.

 

Pada tahun 2013, luas total perkebunan untuk produksi kelapa sawit Indonesia diperkirakan sekitar 10 juta hektar dan memproduksi 27 juta ton minyak kelapa. Indonesia memiliki target untuk meningkatkan produksinya menjadi 40 juta ton pada tahun 2020.

Perkiraan kebutuhan lahan tambahan yang untuk target ini masih sangat bervariasi, berkisar antara 5-10 juta hektar. Perluasan lahan ini akan menggunakan Areal Penggunaan Lain (APL) yang bukan kawasan hutan.

Walaupun industri kelapa sawit telah berkontribusi besar terhadap penciptaan lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi Indonesia, masih ada kekhawatiran jika tidak dijaga dengan baik akan merusak lingkungan seperti penebangan hutan (deforestasi), hilangnya keanekaragaman hutan dan meningkatnya emisi gas rumah kaca. Terlebih lagi, petani kecil kelapa sawit terkadang  tidak memiliki kapasitas, pengetahuan dan sumber daya untuk mengadopsi praktik­praktik produksi yang berkelanjutan dan  meningkatkan penghidupan yang berkualitas.

Platform nasional SPOI ini juga akan mempromosikan Sistem Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia (Indonesian Sustainable Palm Oil System, ISPO) pada dunia. ISPO merupakan skema sertifikasi kelapa sawit berkelanjutan yang wajib dilaksanakan.

Platform ini bertujuan untuk mempertemukan para pemegang kepentingan, khususnya pihak swasta, untuk mengikuti aturan produksi yang berkelanjutan dari komoditi ini. Salah satu perusahaan kelapa sawit Indonesia bertaraf internasional sedang menyelesaikan negosiasi untuk mendukung platform ini.

SPO merupakan proyek 5 tahun yang bekerja pada tingkat nasional dan juga di tiga provinsi pilot, termasuk Riau, Sumatera Selatan dan Kalimantan Barat. (evalap)